Happy Azalea

Sinar mentari pagi begitu menghangatkanku. Sebagai ungkapan syukur, aku tersenyum merekah menegadah ke atas langit. Walau terasa silau, aku tetap membuka mata lebar-lebar seakan tidak ingin melewatkan betapa baiknya Tuhan padaku.

Dulu, aku adalah putik yang rindu menjelma saripati bunga.

Aku tumbuh dari sebuah putik yang terbawa angin ke bebatuan tandus. Aku terdampar seorang diri lalu tumbuh dengan baik karena hujan yang membasahi. Aku mekar seperti seorang gadis remaja yang sedang tumbuh, ranum-ranumnya.

Dulu, aku adalah putik yang rindu menjelma saripati bunga yang akan merayakan pesta di mimbar cahaya.

Cantiknya matahari sore serta semilir angin yang semakin dingin bersamaan dengan menguningnya cahaya di belahan barat. Banyak yang berkata aku semakin indah karenanya walau seorang diri. Banyak berkata desain Tuhan begitu sempurna walau aku seorang diri.

Kami merayakan pesta di mimbar cahaya sekitar pukul lima sore. Mentari perlahan turun, begitu perlahan seperti enggan meninggalkanku dan bebatuan di padang yang begitu luas. Seekor semut yang berjalan bersama kelompoknya berhenti kemudian bertanya kepadaku, “Kenapa kamu begitu bahagia padahal kamu seorang diri?”

“Karena aku telah memberikan warna di atas pekatnya bebatuan.”

Semut itu kembali berjalan setelah mendengar jawabanku.

Seekor kalajengking berdiri angkuh membusungkan dadanya dan merentangkan capitnya, berdiri di atas batu yang agak jauh dan paling tinggi. Ia bertanya kepadaku, “Kenapa kamu selalu tersenyum padahal seharusnya kamu kesepian?”

Tubuhku mengikuti lantunan angin. Meliuk ke kanan dan ke kiri. “Harumku semerbak menebar saripati ke sekian savana.”

Aku adalah setangkai bunga yang hidup sendiri di tengah bebatuan di luasnya savana.

Aku adalah setangkai bunga yang kata mereka cukup sial karena tidak bersama dengan kawanan.

Tapi aku adalah setangkai bunga yang selalu memberi warna, menebar keindahan dan kedamaian serta kesejukan di gersangnya bebatuan di padang savana.

Pesta di mimbar cahaya telah usai. Rembulan datang, menyorotkan cahaya putih. Padang savanna berubah gelap, bebatuan pekat semakin pekat namun aku tetap berwarna bergandengan dengan cahaya rembulan.

Aku adalah Azalea yang bahagia.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

4 thoughts on “Happy Azalea

  1. Abis baca ini beneran bikin good mood deh, Kak.
    Terutama bagian ini:

    Tubuhku mengikuti lantunan angin. Meliuk ke kanan dan ke kiri. “Harumku semerbak menebar saripati ke sekian savana.”

    Aku ngebayangin bunganya bergoyang anggun sambil tersenyum. Keren ih!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.