Jakarta di Waktu Pandemi

Ibu Kota di tengah pandemi, ia masih saja ramai. Ingar bingar seakan meramaikan relung jiwaku yang hampa ini. Sendi-sendi di tubuhku masih begitu kuat menopang ransel berisikan laptop dan juga beberapa isi lainnya, menahan laju transjakarta yang kadang ngegas kadang ngerem. Pikiranku yang tergopoh-gopoh, berusaha bergumul dengan terik lampu-lampu gedung yang berkilat-kilat.

Sembilan tahun sudah aku menetap-tidak menetap di Ibu Kota untuk mencari peruntungan, jauh dari keluarga yang berada di tengah-tengah pulau Jawa. Berharap peruntungan itu dapat menggendutkan saldo rekeningku, walau nyatanya lulusan sarjana ini masih saja mencari diskonan kalau mau “jajan enak”.

22 tahun adalah usia dimana idealismeku masih begitu tinggi, aku si anak akuntansi memilih untuk menjadi seorang auditor. Ditambah sebelumnya aku pernah magang beberapa bulan di sebuah Kantor Akuntan Publik sembari menyelesaikan tugas akhir.

Usia 22 tahun dimana aku tumbuh belajar menjadi seorang auditor yang berintegritas dan dipertemukan dengan seorang atasan yang begitu baik. Bukannya rasis, meski keturunan Chinese yang  dengar-dengar dari kebanyakan orang  biasanya banyak ga enaknya, tapi atasanku ini sangat baik. Aku menyerap banyak ilmu darinya. Selain sebagai atasan – bawahan, kami pun menjadi begitu dekat di luar itu.

Namun manusia tidak pernah ada rasa puasnya. Walaupun atasanku sangat baik, namun kebijakan Perusahaan membuatku harus berpikir sekian kali untuk menetap di sana. Tiga tahun setengah bekerja, namun yang bertambah pada diriku hanyalah ilmu. Gaji maupun jabatan seperti tidak ada harapan. Aku yang saat itu sudah berusia 25 tahun, tidak bisa bertahan begitu saja.

“Mba Sinta, aku mau ngomong.” Ujarku siang itu ke atasanku.

“Hmm, iya Des. Ada apa?” tanyanya dengan gaya baiknya—ya gayanya dia selalu baik mau apapun itu.

“Tapi aku ga enak, Mba.”

Mba Sinta tertawa, perlahan tawanya berubah menjadi senyuman. Sepertinya dia sudah mengetahui arah pembicaraan yang akan aku sampaikan. “Ga apa-apa, Des. Kenapa?”

“Maaf ya, Mba. Sebenernya akhir-akhir ini aku sering izin karena tes dan interview. Alhamdulillah aku keterima di KAP Big 10.”

Mba Sinta mebelalakkan matanya, namun tidak dapat dipungkiri terlihat raut kekecewaan yang ditutupi dengan topeng selamat. “Waah.” Katanya sambil bertepuk tangan. “Selamat, Des.”

Aku tidak dapat menahan air mataku yang sudah berteriak-teriak untuk keluar. Entah kenapa begitu haru dan sedih. Aku harus meninggalkan Mba Sinta yang selama ini sudah begitu baik kepadaku. Aku yang sudah menerima banyak ilmu darinya, akhirnya meninggalkannya. Namun pada akhirnya, ia tetap memberiku selamat.

“Des, jangan nangis.” Mba Sinta menarik badanku dan memelukku. Ia menepuk-nepuk pundakku, bukannya tenang aku malah semakin menangis.

Pembicaraan itu diakhiri dengan pengajuan surat pengunduran diriku. Hingga sebulan kemudian, aku tetap bekerja dengan sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Mba Sinta. Sampai pada hari terakhir aku berada di kantor, Mba Sinta masih begitu baik padaku. Ia mengajakku makan di restaurant Korea dan mentraktirku.

***

Suasana kantor baru ini tidak begitu beda dengan kantorku sebelumnya, atasanku pun sangat baik walau tidak sebaik Mba Sinta. Bedanya adalah ritme dan load pekerjaannya. Perjalanan dinas yang begitu padat dan jumlah klien yang diaudit membuatku yang biasa setiap bulan pulang ke rumah Mamah harus berbulan-bulan tidak pulang.

Setiap hari aku bergelut dengan kemacetan, sesampainya di kosan aku kembali bekerja sampai subuh. Hanya saat melakukan perjalan bisnis saja aku tidak merasakan kemacetan, hanya saja jam tidurku tidak dapat dikendalikan dengan baik. Tubuhku semakin kurus, walaupun saldo rekeningku lebih gemuk dari sebelumnya dan aku merasa lebih tidak sehat dari kantor sebelumnya.

Di tengah jam kerja yang tidak menentu ini, kantor baruku dihadapkan oleh imbas dari pandemi Covid 19. Aku yang statusnya masih kontrak, statusku yang harusnya akan segera permanen menjadi tergantung. Secara langsung kantorku memang tidak terkena imbas, namun banyak sekali klien terkena langsung imbas pandemi membuat mereka tidak mampu membayar jasa kantor baruku.

Satu bulan statusku tergantungkan, harusnya aku sudah menjadi pegawai tetap namun aku masih dipekerjakan dengan status masih kontrak. Aku memang tidak berharap banyak, dan sudah mengetahui apa yang akan aku terima. Dan aku yang berusia 26 tahun, selama hidupku tidak pernah terbayangkan akan merasakan hal seperti ini. Aku diberhentikan bukan karena kinerjaku, melainkan kondisi Perusahaan yang kurang baik.

Hal ini menjadi hal buruk sekaligus hal baik untukku. Tanpa pikir panjang, aku langsung pulang kampung untuk bertemu keluarga. Berat memang pulang dengan status pengangguran, namun kondisi fisik dan mentalku pun dapat diperbaiki dari “masa bebas”ku ini sambil berharap suatu saat nanti akan dapat pekerjaan baru walaupun aku tidak yakin bisa mendapatkannya dengan mudah.

Seperti berita-berita yang beredar, banyak sekali Perusahaan yang melakukan pengurangan karyawan karena terkena imbas pandemi. “Hhhh.” Aku hanya bisa menghela napas.

Sebulan sudah aku berkumpul dengan keluargaku, seperti dendam yang sedang dibayar lunas setelah berbulan-bulan tidak pulang karena perjalanan dinas yang sangat padat. Namun sebagai anak pertama, aku memiliki beban moral yang sangat tinggi apalagi aku memiliki seorang adik. Seharusnya aku menjadi contoh yang baik, namun beruntungnya seluruh keluargaku sangat mengerti keadaanku.

Yah.. Biar begitu, tetap saja.

Jiwaku seperti kembali utuh ke raga, namun pikiranku melayang-layang entah ke mana. Banyak sekali yang aku pikirkan. Sebagai anak pertama, walau bukan tulang punggung keluarga, tapi.. ah, banyak sekali yang aku pikirkan. Seperti orang-orang dewasa muda lainnya, nampaknya aku sedang mengalami krisis seperempat abad. Ya, krisis seperempat abadku yang begitu nelangsa. Begitulah aku merasakannya saat ini.

Hari-hari kujalani dengan biasa, sembari melihat bunga-bunga di depan pekarangan yang ditanam Mamahku. Setidaknya mereka sedikit menghibur kegundahanku. Mulutku terkatup, namun hatiku berbicara kepada mereka. “Bunga, aku ingin kembali mendapatkan pekerjaan.”

Gawaiku berbunyi, Mba Sinta!

Mba Sinta: Des, apa kabar?

Kabar? Kurang baik, Mba~

Desi: Mba Sinta, kabar baik, Mba. Mba apa kabaaar?

Entah, seketika air mataku menetes dan jemariku sedikit gemetar saat membalas pesan singkat dari Mba Sinta.

Mba Sinta: Desi kamu lagi dimana?

Desi: Di rumah, Mba.

Mba Sinta: Lagi engga di Jakarta ya, Des?

Aku galau, apakah ini saatnya aku menceritakan apa yang aku alami kepada Mba Sinta? Dan… meminta bantuannya? Ah, aku sangat tidak enak hati.

Desi: Engga, Mba.

Akhirnya aku pun menceritakan semuanya kepada Mba Sinta. Memang bercerita dengan Mba Sinta begitu menenangkan. Seperti biasa, ia tidak berkomentar apapun hal yang menyudutkan. Seperti halnya, makanya, Des jangan resign. Atau kalimat sejenis.

Mba Sinta: Des, mau bantu aku ngga? Tapi status kamu freelancer.

Deg! Mba Sinta bagai malaikat penolong yang turun dari Surga yang dikirim Tuhan untukku. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengiyakan permintaan Mba Sinta.

Selagi pandemi, pekerjaan yang dapat dilakukan di rumah aku lakukan di rumah. Setidaknya, walaupun aku saat ini sedang di rumah ada suatu hal yang aku kerjakan. Keluargaku sangat bersyukur dengan semua ini.

Tidak lama kemudian aku tetap harus berangkat ke Jakarta karena pekerjaan yang tidak dapat dilakukan hanya di rumah. Walau perasaannya begitu berat, namun langkahku terasa ringan untuk meninggalkan rumah. Aku tiada pernah berhenti bersyukur dengan apa yang telah terjadi.

Aku melakukan pekerjaan sebagai pekerja lepas bersama Mba Sinta hampir satu tahun lamanya. Sampai suatu hari, aku harus mengalami yang akhir-akhir ini orang takutkan.

Sore itu, aku ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan di kosan. Tiba-tiba, aku merasa begitu lemas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, rasanya seperti akan pingsan. Bisa kembali sampai di kosanku yang terletak di lantai dua saja sudah sangat beruntung. Aku mencoba untuk beristirahat, barangkali setelah istirahat akan membaik.

Namun semakin bertambah waktu, bukannya membaik, kondisiku semakin memburuk. Gejala yang aku rasakan sama seperti para penyitas Covid 19 saat terinfeksi. Yah, aku pun mengalami kehilangan indra penciuman dan pengecapan. Aku tidak melakukan serangkaian test karena sudah yakin dengan apa yang aku alami. Aku memutuskan untuk isolasi mandiri dan hanya menceritakan apa yang aku alami dengan sedikit orang termasuk Mba Sinta. Bahkan, keluargaku tidak aku beritahu. Khawatir mereka akan sangat mencemaskanku.

Penderitaan ini berlangsung cukup lama, hampir sebulan sudah aku terinfeksi virus Covid 19. Dalam waktu selama itu, perlahan aku berangsur membaik dan aku mencoba untuk melakukan test namun aku masih dinyatakan positif. Apakah aku mengalami long covid? Tapi, setidaknya aku merasa tubuhku sudah sehat.

Saat sakit, aku yang sehari-harinya sudah merasa sepi semakin merasa sepi yang begitu meremukkan dada. Aku tidak dapat bercerita kepada banyak teman dan mendapatkan beberapa asupan pertolongan karena menurutku ini adalah hal sedih yang tidak perlu dibagikan. Itulah diriku, aku sulit untuk bercerita. Terkadang, hal ini pun sangat menyesakkan.

Belum begitu beres masalahku dengan virus ini, Mba Sinta yang tidak punya kuasa banyak untuk tetap mempekerjakanku dengan berat hati memberitahuku bahwa hubungan kerja kami sudah usai. Ya, pekerjaan yang aku lakukan hampir setahun ini bersama Mba Sinta memang proyekan. Saat sudah selesai, usai sudah semuanya. Kontrak kerjaku sudah selesai dan aku pun kembali menjadi pengangguran.

Aku kembali menghadapi masa krisis yang sebenarnya krisis kemarin pun belum benar-benar sirna. Usia 27 tahun kembali menjadi masa yang begitu menyebalkan, tidak dapat aku pungkiri. Di saat ini juga, aku merasakan hal yang dirasakan perempuan lainnya, aku butuh teman hidup.

Sambil menatap langit-langit kamar kosku, pikirku bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa yang aku dapatkan di usia ini? Jauh dari keluarga, tidak memiliki pekerjaan, punya pacar pun tidak. Apakah waktu yang selama ini aku habiskan di Ibu Kota sia-sia?

Walaupun tidak bersemangat dan butuh semangat namun tidak ada yang menyemangati, aku tetap tidak menyerah. Aku apply beberapa pekerjaan walaupun tidak berharap banyak. Ya, sekali lagi mencari pekerjaan di tengah pandemi bukanlah hal yang mudah.  Sembari melamar pekerjaan, aku kembali pulang ke rumah setelah dinyatakan negatif Covid 19.

Beberapa Perusahaan merespon lamaranku, namun belum juga berjodoh sampai suatu hari, di saat aku sudah begitu pasrah, sebuah Perusahaan yang cukup bonafit menerimaku. Seperti tidak percaya, aku berhasil bergabung sebagai seorang Finance Manager. Aku? Aku yang cupu ini, aku yang tidak hebat ini, dipercayakan sebagai seorang Manager? Di usia 27? Tuhan, maafkan aku. Saat Engkau memberiku kejutan yang begitu baik, aku malah tidak mempercayainya.

Tidak berlama-lama, aku kembali ke Jakarta untuk mengurus beberapa administrasi di kantor baru. Namun, diriku tetap saja merasa kosong. Bukan tidak bersyukur. Aku tetap merasa kosong yang semakin menjadi saat aku kembali ke Jakarta.

Jakarta di waktu pandemi.

Katanya ada pembatasan sebagai salah satu kebiajakan pemerintah. Namun, Jakarta tetaplah ramai. Perjalanan dari kantor baru ke kos begitu panjang, dimana hari sudah mulai gelap, aku banyak sekali melihat wajah-wajah lelah.

Jakarta di waktu pandemi.

Walau tidak sepenuh biasanya, tapi masih banyak orang-orang yang terpaksa kuat untuk dapat menjalani hidup. Bukan orang-orang enggan bersyukur. Tapi memang beginilah, agar bisa hidup. Setidaknya, sendi-sendi dan tulang di tubuhku masih kuat menopang beratnya beban yang harus aku pikul entah sampai kapan.

Jakarta di waktu pandemi. Aku merasa sepi~

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

46 thoughts on “Jakarta di Waktu Pandemi

  1. Quarter life crisis emang nyata adanya (dg beragam tipe), tapi ngga semua orang berani ungkapin hal ini secara lugas..
    Kebanyakan cuma ngungkapin detailnya di buku hariannya aja -kayak gw-, sampe akhirnya ketemu solusi yg cocok buat gw..hehe.
    Ada banyak saran n tips soal ini di media, karena hangatnya topik tentang quarter life crisis..
    Mudah2 kamu ketemu solusi yang paling cocok di kamu tentang hal ini 🙂

    Nice sharing!

    1. Betul banget kaaak… kayaknya hampir semua orang mengalami fase quarter life crisis yaa..

      Btw ini bukan cerita tentang aku, ini pyur cerpen kak dg mengangkat tema itu hihi

  2. Berasa melihat kilasan masa lalu baca cerita ini…bedanya mungkin sekarang kondisinya lagi pandemi. Tapi memang iya sihh umur 27-28 an aku juga begini berasa mau ngapain sihh hidup ini. Dulu ketolong karena aku nekatin solo backpacker aja jadi hidup gak berasa hampa2 amat dan belajar juga setiap masalah pasti bisa dihadapi asal sabar aja. Hehehe. Nice story sis..

    1. ceritanya memang sangat umum terjadi sama siapa aja. emang berpelesir itu salah satu cara kita untuk mengkonsumsi obat yang ga bahaya buat hati maupun ginjal hihihi. btw makasi yaa

  3. Waaaah, menarik banget mba kisahnya. Bisa ngegambarin kota Jakarta yang sedang dihajar pandemi dan kisah perantau yang mulai kelelahan, berjuang di kota metropolitan ini. Semoga para pejuang-pejuang lainnya, bisa bertahan yah melalui masa pandemi ini.

  4. Suka banget bacanya kar …
    Umur-umur segitu memang lagi masa-masa bingung mikirin masa depan ya, jujur sih aku penasaran sama kelanjutan ceritanya. Ini kisah kamu bukan sih? kan sama auditor juga 😀

    1. kamu nyadar ya tin, kalo sebenernya cerita ini butuh sambungan. sejujurnya aku buntu mau dibuat kayak gimana lagi ceritanya. aku mesti mendengarkan bbrp kisah nyata orang2 buat dapetin inspirasi hihi…
      ini bukan kisahku tin, tp mengangkat auditor krn biar gampang aja ngejelasin detail kerjaannya…

  5. aku kira ini benar-benar terjadi. Namun, setelah baca komen di mbak febi, ini sebuah cerpen. Ceritanya sangat bagus. Mungkin ada orang yang mengalami hal serupa. Walaupun tidak sama persis.

    Membaca cerita ini seperti dilihatkan sebuah perjalanan hidup seorang anak manusia. Dengan segala hal yang dihadapi dan dilalui.
    cerpen yang bagus mbak 😀

    1. mungkin beberapa orang ada yg bener2 mengalami hal ini, mas. soalnya cerita ini sepertinya umum terjadi. ada bbrp perasaan yg ditampilkan di cerita jg perasaan-perasaan yg pernah saya rasain walaupun secara kejadian engga..
      anyway, terima kasih ya mas rivai

  6. Setelah membaca balasan Mba Kartini diatas kalo ini adalah cerpen, tapi saya merasa kalau cerita ini benar benar nyata, Jakarta memang benar benar keras ya, teringat salah satu Quotes nya Ika Natassa di Critical Eleven “Jakarta is State Of Trying, trying to Get Home, Trying to Get to Work, Trying To Make Money, Trying To To Find A better safe, Trying to Stay, Trying to Leave & Trying To work things out”.

  7. 2020 memang benar-benar tahun cobaan ya, apalagi pas pandemi menyerang. Semua sektor kehidupan banyak banget nerima cobaan yang bertubi-tubi kayak gini. Tapi ya namanya cobaan, pasti ada hikmah dibalik itu semua.

  8. Aku sedikit kaget sih baca cerpen ini, soalnya aku kira ini aku haha. soalnya poin phk pas pandemi – diajak freelance sm kantor lama – harus sakit sakitan di tahun ini – usia yang hanya beda setahun sama aku – sampe akhirnya ngerasa kesepian, semua udah aku rasain juga hahahaha. tapi bener2 tahun ini ngajarin semua orang. Mengajarkan untuk bisa beradaptasi dan bertahan sesulit apapun itu kondisi yang sedang dijalani

    1. relate banget ya, kak okta.. memang aku akui, cerita di atas sangat umum terjadi di antara kita-kita ini. anyway, kak okta hebat banget masih bisa bertahan dan melewati itu semua. emang setiap kondisi itu harus kita jalani untuk dapat melaluinya.. seterjal apapun jalannya.

  9. Keren sekali ceritanya. Aku suka bacanya, terhanyut dan ikut merasakan apa yang dirasakan dan dilalui oleh sang tokoh. Seperti de javu. Seperti nostalgia pula. Usia seperempat abad memang memarik dan berkesan, banyak langkah dapat diambil dan diputuskan di usia tersebut, perlu kehati-hatian hingga kejutan-kejutan tak terduga selalu saja bisa terjadi tanpa pernah dikira juga.

  10. bertahanlah desi, di depan ada midlife krisis menanti hahahhaha

    ceritanya ngalir bangettt, hati diajak petualang dari senang, sedih, harap harap cemas, penuh harapan, campur aduk, sepi, hampa….selamat berjuang desiiiiii…peluk hangat dari sini

    1. namanya hidup ya mak, pasti ada saja krisis yg mewarnai jalan-jalan terjal kehidupan..
      kita sama-sama berikan semangat untuk desi, semoga desi dapat melalui ini semua dan beristirahat dengan tenang di hari tuanya..

  11. Wah ternyata sama-sama “alumni” penyintas nih hehe… Bisa dibilang selama dua tahun kita dengan kondisi begini, banyak pengalaman yang didapat sih kalo dari aku personal. Salah satunya, jadi lebih bisa bersyukur.

    1. alhamdulillah, kak.. aku bukan penyitas, dan mudah2an tidak pernah merasakan terinfeksi covid. aamiin.. itu bukan cerita nyataku hehe.
      tapi, betul banget, walaupun bukan penyitas keadaan yg beriringan dengan pandemi ini dapat membuat kita menjadi lebih bisa bersyukur

  12. Wah kirain curhatan asli kak. Haha. Ternyata pure cerpen. Keren banget dan kayak real ya soalnya kisarannya tentang pandemi dan quarter life crisis. Dulu pernah ngalamin juga sih. Rasanya emang jadi kosong banget bingung kayak gak ada tujuan hidup

  13. Aku baru ngeh kalo ini cerpen. Tapi kok kayak relate sama background pekerjaan kamu ya mba kar, hehe karena cerita kayak real gitu hehe. keren.

  14. Wah cerita kakak sedikit banyak mirip sama aku. Cuma aku yg mutusin bt resign karena gak klop sama bos dan aku gak berkembang di sana. Alhasil aku mutusin bt jadi freelance writer dulu.

    Yg jadi pegangan aku pas mutusin resign yaitu aku percaya selama kita masih dikasih umur, kesehatan, bisa tetap produktif pasti bakal dikasih rezeki sama Allah SWT.

    1. iyaa kakkk, kalo kita tidak tumbuh kenapa harus bertahan? jika loyalitas kita tidak dihargai, kenapa tetap di sana? ibaratnya, di cv juga ga bikin bagus wkwkwk.

      bener banget kak, selama kita masih hidup rezeki pasti selalu ada.

  15. Keren ini, based on true story, related sama banyak hal yang dihadapi orang sekitar saat pandemi..jadi ngalir bacanya
    Quarter life crisis memang beneran bisa bikin nano-nano. Kalau zamanku dulu belum ada sosmed jadi masih lempeng lah..Paling ketemu orang ditanyain, dah kerja dimana, kok belum nikah, sendirian aja belum ada gandengan dll…Lha kalau sekarang, lihat sosmed makin insecure, intip teman sekolah dah segitu pencapaiannya. Teman kuliah dulu biasa aja, sekarang moncer banget karirnya. Ya ampun, si anu udah married kelihatan happy keluarganya. Duh
    tapi, pandemi memang ya memberi sejuta kisah dan hikmah

  16. Alhamdulillah ya mba sempet keterima di KAP Big 10, selama ini tuh aku belum pernah merasakan suasana kerja di big company, jadi ada juga rasa pengen nyobain ambience nya haha.

    Btw, I really feel you feeling lonely in the middle of crowd Jakarta City, apalagi selama tahun pertama pandemi! Makanyaa butuh banget pasangan buat mengisi kekosongan ituuuuu #ehhh curcol! ahhahah

  17. Desi adalah akuh, harus nunggu diskonan kalau mau makan enak hahaha. Irit. Irit. Karena ga tau ke depan ada apa lagi.

    Ceritanya bagus, tapi ini bukan cerita kamu kan yaa sist? Kamu kan saat ini lagi hamidun 😀

  18. Satu khas dari tulisan kakak, adalah pesan yang diangkat clear ! Dengan alur cerita dan pilihan kata yang mencerahkan Apapun tema atau genre tulisannya. Termasuk cerpen : Jakarta di Waktu Pandemic

  19. Aaahhhh, keren banget diksinya. Aku berasa baca novel deh kak. Kamu keren! Kamu kuat!

    Perjalanan hidup itu memang jarang selalu mulus ya, ada aja cobaannya. Tapi kadang kita nggak tau, dibalik cobaan bertubi-tubi itu, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang indah. Insyaallah. Sehat selalu ya Kak ❤️

  20. Wah menarik sekali ceritanya Mba, aku masuk ke dalamnya karena sedikit banyak ikut merasakan. Memutuskan pulang kampung karena pandemi, well abisan di Jakarta juga ga bisa kemana mana hehe.

    Terlepas dari itu, semoga kita semua diberikan kesehatan dan dipermudah dalam setiap urusan ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.