Jalanan Basah Sore Itu

Jalanan sore itu basah menyisakan rasa sejuk ditambah angin sepoi yang hadir dari rindangnya pepohonan di pinggir jalan sekitar Ibu Kota. Baru kali ini aku merasa senang dengan jalanan Ibu Kota yang tidak seramai biasanya.

Kepalaku agak sedikit pusing karena terkena rintikan gerimis sisa derasnya hujan tadi siang sehingga aku hanya diam sambil sesekali menghela napas. Seperti berat sekali beban hidupku, padahal hari ini aku sedang bahagia.

Perlahan rasa pusing di kepala hilang saat aku melihat seseorang yang tersenyum begitu manis tanpa harus menampakkan deretan giginya yang rapih. Sesekali ia tertawa kecil ketika melontarkan lelucon yang menurutnya lucu padahal menurutku tidak. Tapi melihat usahanya, menjadikan lelucon garing itu menjadi lucu.

Selain itu, melihat ekspresi di wajahnya yang begitu muda membuatku kehilangan kendali untuk tidak merasa gemas yang berlebihan. Tapi respon tubuhku ya begini-begini saja, kakiku melangkah santai, tidak terburu-buru tapi tidak terlalu pelan juga.

Langkahku yang tidak pernah lurus terkadang menabrak tubuhnya tapi ia tidak pernah sadar akan hal itu. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya tahu apakah ia tidak pernah sadar, atau ia hanya tidak ingin protes akan kebiasaanku.

Aku memang tidak banyak berekspresi, pembawaanku selalu tenang walau tidak sedikit aku pun suka menunjukkan hal-hal lucu kepadanya. Padahal kalau saja aku tidak dapat mengendalikan tubuhku, ingin saat ini juga aku menggandeng tangannya. Sepertinya sangat manis kalau dipikir-pikir.

Raut wajahku mungkin sangat terlihat kaku, tegang, tidak santai. Aku memang sedang berperang batin, aku ingin sekali mengekspresikan apa yang aku rasakan tapi aku merasa tidak bisa melakukan itu. Aku menoleh ke samping, sepertinya ia merasa kalau aku sedang melihat ke arahnya.

Ia membalas tatapanku sembari langkahnya tetap maju. Aku pun begitu. Ia tersenyum. Ia adalah seorang laki-laki, sementara aku adalah seorang perempuan. Entah bagaimana aku bisa menyukainya, padahal di awal aku tidak begitu suka dengannya. Menurutku, ia terlalu banyak tingkah dan cari perhatian. Tapi ternyata, perasaan suka perlahan hadir karena kebiasaan-kebiasaan yang aku tidak pernah ciptakan.

Aku menghela napas lagi. Pengendalian diriku cukup kuat ternyata. Padahal ibarat aku adalah lilin, ia adalah api. Aku habis meleleh dibuatnya.

Ia tidak putih, hitam manis dengan rambut yang sedikit ikal. Bulu matanya lentik dan tebal, padahal laki-laki. Tubuhnya kurus mungkin karena usianya yang masih muda. Kita lihat beberapa tahun ke depan, apakah ada bagian tubuhnya yang membengkak?

Aku masih terdiam sejak tadi. Berperang batin tapi juga menikmati sejuknya suasana sore ini. Andai saja ia tiba-tiba menggenggam tanganku, aku tidak akan merespon apapun. Aku tidak menolak, pun tidak membalas genggamannya. Yang pasti, jantungku berdebar bukan main. Aku sudah memprediksikannya.

Aku menghela napas lagi, seolah-olah beban hidupku sangat berat. Setelah dipikir-pikir, memang berat. Tapi bukan beban hidup melainkan beban di hati. Aku sudah kepalang nyaman dengan laki-laki di sebelahku, tapi aku tidak mungkin berharap untuk memilikinya. Berpikir untuk berharap saja aku tidak berani. Hanya saja, aku menyukainya.

Takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Jalan tidak selalu lurus, ada belokan juga ada putaran. Barangkali ia tidak berjalan memutar, tapi Tuhan mengarahkannya untuk berbelok ke arahku. Hanya saja, aku memilih untuk tetap diam dan membiarkan Tuhan menikmati peran-Nya untuk memutuskan kemana takdirnya dan takdirku akan berlabuh.

Jalanan sepanjang Senayan yang masih basah menuju Kemang. Akhir Maret di tahun ini.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.