JIN NEBENG DAN DIKETAWAIN MBA KUNTI

Aku penasaran dengan pembaca di blog aku. Kalian termasuk orang yang percaya akan hal-hal ghaib seperti hantu atau engga? Kalau aku… ya, percaya. Alasannya? Karena di dalam Al-Qur’an sudah disebutkan.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56.

Tidak ada lagi yang bisa memperkuat selain apa yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an. Namun kebetulan, aku juga punya pengalaman mistis dengan makhluk ghaib. Sebenarnya ada beberapa, tapi yang paling membekas adalah ketika jin nebeng di motor aku dan diketawain jin yang berwujud kuntilanak.

Diketawain Mba Kunti dan jin nebeng terjadi di dua waktu yang berbeda. Aku akan menceritakan terlebih dahulu ketika aku diketawain Mba Kunti, yaa.

Saat itu aku kelas 3 SMA. Aku dan teman-teman sekelas sedang membuat sebuah film kelas untuk kenang-kenangan setelah kita lulus. Ngomong-ngomong penulis naskahnya aku, lho.

Singkat cerita syuting saat itu di rumah salah satu teman di daerah Pemda Cibinong. Rumah temanku berada di sebuah komplek perumahan. Daerah Pemda Cibinong awal tahun 2011 masih cukup asri dan banyak pepohonan. Komplek perumahan temanku ini bisa dibilang baru sehingga masih banyak rumah yang belum selesai dibangun dan sudah ditumbuhi alang-alang di bagian lantainya.

Sore itu setelah solat maghrib, kami semua pulang. Beberapa bawa motor, beberapa nebeng. Aku menjadi salah satu yang bawa motor dan temanku yang bernama Dian (cewek) yang kebetulan rumahnya searah denganku nebeng di motor aku.

Salah satu temanku yang bernama Elca (cowok) menantang semuanya untuk lewat blok rumah kosong yang sudah ditumbuhi alang-alang. “Ayo elah ramean ini.” tantangnya.

Akhirnya kami yang masih remaja itu pun mengikuti Elca. Blok itu sepi tidak ada rumah yang dihuni satu pun, apalagi lampu penerangan. Ada sekitar 5 rumah kosong yang sudah ditumbuhi alang-alang. Karena ramai-ramai, tidak ada perasaan aneh sedikit pun ketika lewat blok tersebut.

Keluar dari perumahan, satu per satu dari kami mulai berpencar ke arah yang berbeda. Sepanjang perjalanan, aku mengobrol dengan Dian dan tidak merasakan hal aneh sedikit pun sampai Dian turun di depan gang rumahnya.

Aku melanjutkan naik motor seorang diri. Mendekati jalan menuju rumahku (masih jalan besar tapi sudah bukan jalan raya), di sana ada beberapa rumah. Di depan beberapa rumah aku mendengar suara ketawa yang rameeek banget tapi terasa jauh. Sampai situ aku masih belum curiga sedikit pun karena aku pikir itu suara orang-orang yang ada di dalam rumah. Saat itu kalau tidak salah ada pertandingan Badminton yang ditayangkan di televisi.

Dari jalan itu, untuk menuju rumahku harus melewati kuburan. Biasanya banyak motor lalu lalang walaupun pencahayaan remang. Jadi aku berani-berani saja lewat kuburan. Saat memasuki wilayah kuburan, suara tawa yang ramai itu terasa sangat konsisten dan tidak hilang-hilang. Bukankah rumah-rumah warga sudah jauh?

Sambil nyetir aku mencoba untuk menguping. Tepat berada di tengah-tengah kuburan, aku tersadar suara itu bukan suara manusia! Suara itu sudah ada sejak sebelum aku sampai kuburan. Aku langsung membunyikan klakson motor berkali-kali agar suara tawa itu tersamarkan. Aku tidak berani melihat spion motor dan langsung gas poll. Kebetulan sekali, di kuburan saat itu tidak ada motor yang lewat satu pun.

Lewat dari kuburan, suara tawa sudah hilang. Namun aku tetap buru-buru sampai rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung menangis membuat Ibu bingung. Suaranya tidak mirip sama sekali dengan suara yang biasa ada di film-film. Tapi seperti suara tertawa orang-orang sekitar 5 orang, seperti anak kucing tapi temponya cepat.

Konon kata orang-orang, jika suaranya dekat berarti si Mbak Kunti ini jauh dan sebaliknya, jika suaranya jauh berarti si Mbak Kunti ini dekat. Yang aku dengar saat itu, suaranya jauh tapi konsisten. Firasatku si Mbak Kunti ini “ikut” dari rumah kosong di perumahan Pemda Cibinong.

Cerita kedua adalah ketika ada jin yang nebeng di motor aku. Kejadian ini pas aku kuliah semester 3. Aku kuliah di daerah Jakarta Selatan. Kampusku ini bekerja sama dengan LBPP LIA sehingga kami diwajibkan untuk ikut 4x kursus bahasa inggris di LIA.

Kebetulan aku mengambil jadwal kelas dari jam 4 – jam 6 sore. Aku sekelas dengan beberapa temanku yang bernama Tere, Gilang, dan Rangga. LBPP LIA ada di Fakultas Pariwisata dekat Fakultas Psikologi. Untuk menuju Fakultas Psikologi dari Fakultas Pariwisata, harus melewati kuburan terlebih dahulu. Tepatnya, kuburan berada di belakang wilayah Fakultas Pariwisata. Oh ya, ada satu teman kami sebut saja L (aku tidak akan menyebutkan namanya) dia anak indigo dan pulang nebeng dengan Tere.

Sore itu usai kursus, setelah solat maghrib kami pun buru-buru pulang. Saat berjalan menuju parkiran motor, tiba-tiba Gilang berkata, “Eh Rang, temenin gue dulu yuk ke Psikologi.”

“Mau ngapain?” tanya Rangga.

“Gue mau fotocopy.” Jawab Gilang.

Entah apa yang aku pikirkan, tiba-tiba saja aku sangat sembarangan bicara. “Kenapa ga sendiri aja, Lang? Takut diperkosa jin, ya?” aku berkata seperti itu di bawah pohon dekat parkiran motor, di antara waktu maghrib dan isya.

“Iseng gue.” Jawab Gilang.

Akhirnya Rangga pun menemai Gilang sementara aku, Tere, dan Puspa pulang duluan. Keluar dari gerbang kampus, aku sudah tidak lagi melihat keberadaan Tere. Tiba-tiba saja sesuatu terasa janggal. Motorku terasa sangat berat sampai-sampai aku harus melipir ke pinggir untuk mengecek apakah ban motorku kemps atau tidak. Baik-baik saja.

Tanpa curiga apapun, aku melanjutkan perjalanan dan motor masih sangat berat rasanya. Seperti ada yang numpang dan beratnya 100 kg-an. Aku tidak bisa melaju cepat, gas motor pun terasa harus lebih poll.

Untuk menuju rumahku, aku harus melwati Jl. Ir. H. Juanda, Depok. Saat berada di sana, aku seperti curiga ada makhluk halus yang nebeng di motorku karena aneh banget. Aku mulai membaca ayat kursi dan beberapa surat pendek lainnya. Sambil terus memusatkan pandangan ke jalan, jika saja tiba-tiba ada sejenis orang di depan tabrak saja jangan mengerem mendadak karena itu pasti setan. Pikirku seperti itu saat itu. Hahaha.

Tepat saat melewati jembatan yang bawahnya rawa dekat lampu merah Tol Cijago, tiba-tiba seperti magic motorku melaju dengan cepat dan tidak berat sama sekali. Aku semakin yakin kalau ada yang “nebeng” dan turun di tengah jalan.

Keesokan harinya, L berbicara padaku. “Kar, kemarin gue liat ada yang numpang di motor lu. Kayak cowok, gede tinggi.”

Alamakjan!! Benar saja, kaan.

Dari dua pengalaman mistisku itu aku mengambil pelajaran: jangan suka menantang dan jangan  bicara sembarangan. Ngeri wajar, tapi jangan takut berlebihan karena dari segi kesempurnaan kita manusia diciptakan lebih sempurna daripada jin. Lagipula, ada Tuhan yang harus kita takuti bukannya jin.

Teman-teman, apakah kalian punya pengalaman mistis?

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

3 thoughts on “JIN NEBENG DAN DIKETAWAIN MBA KUNTI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.