Kamu: Segala Genre Musikku

Kubahagia kau telah terlahir di dunia dan kau ada di antara miliaran manusia

“Aku suka dengerin lagu ini.” ujarku sembari memberikan sebelah earphone milikku. Lagu Perahu Kertas yang dinyanyikan Maudy Ayunda terputar di akun spotifyku.

Dia menaruh earphone ke telinga kirinya sembari mendengarkan lagu yang sedang aku putar. “Aku juga suka sama lagu ini.”

“Oh iya?”

Sambil tersenyum, dia menangguk. “Kamu suka jenis musik yang kayak gini ya? Sesuai sama karakter kamu, tenang. Tapi lucu. Tapi gemas. Tapi manis. Tapi cantik. Tapi aku suka semuanya.” Katanya panjang lebar sambil menyentil hidungku.

Aku bersandar di bahunya, merasa nyaman. “Semua jenis musik enak didengar kalau kamu yang di samping aku.”

Ia menarik pipiku. “Bisa aja.”

Teringat tiga tahun lalu, aku menghadiri sebuah acara ulang tahun organisasi di kampusku sewaktu kuliah. Aku hadir sebagai seorang alumni. Biasanya aku tidak datang di acara seperti ini, tapi berhubung aku baru saja mengalami patah hati aku pun menghadirinya. Hitung-hitung untuk sejenak melupakan rasa sedih yang aku rasakan.

Banyak sekali wajah asing yang aku lihat. Seharusnya aku mengenal mereka tapi karena sudah bertahun-tahun tidak aktif, banyak sekali wajah baru yang aku temui hari ini.

Acara berlangsung meriah, banyak yang berfoto karena jarang-jarang memakai warna baju senada di sebuah momen. Senyum mereka semua sumringah. Aku yang sedang sedih pun ikut tertawa dibuatnya.

Di dekat balon-balon yang menggantung, ada tiga orang laki-laki juga sedang berfoto. Mereka saling bergandengan. Tentu saja seharusnya aku mengenal mereka, tapi aku tidak kenal. Salah satu dari mereka tubuhnya kurus, senyumnya sangat manis. Tapi tidak ada yang spesial darinya. Aku pun pulang tetap dengan perasaan hampa. Ternyata menghadiri keramaian bukan sebuah solusi untuk mengobati patah hati. Keseruan dan tawa hanya sesaat saja. Sejak hari patah hatiku, tiada lagi musik dari segala genre yang seru untuk didengar.

Perlahan, hatiku yang patah pun perlahan mulai kembali utuh. Namun hati yang sudah utuh itu belum juga ada yang mengisi karena jatuh cinta bukanlah hal yang mudah aku rasakan.

Suatu hari kemudian, terhitung dua tahun lalu ketika salah satu teman baik di organisasi saat aku kuliah menikah. Aku menghadiri acara pernikahannya. Saat itu aku datang bersama sahabatku, Puspa. Tentu saja aku menikmati semua gubukan yang ada di pesta itu, aku dan Puspa berpisah untuk mengambil makanan kesukaan masing-masing sampai saat ketika ku sedang mengantre hidangan somay, seorang laki-laki biasa berbaju batik dan celana berwarna khaki mengantre tepat di depanku tidak ada yang spesial dari acara itu, hanya saja semua makanannya enak dan membuat perutku kenyang. Juga, ada sesi foto di pelaminan bersama-sama teman-teman satu organisasi. Tentunya, seperti di acara ulang tahun kala itu banyak wajah baru yang aku temui.

Hari-hariku yang biasa mulai berubah menjadi tidak biasa ketika seseorang hadir di dalam kehidupanku yang sederhana ini. “Hai, selamat bergabung.” Ujarku menyapa new office mate yang ternyata dia adalah salah satu wajah baru yang pernah aku temui tiga tahun dan dua tahun lalu.

Sejak kehadirannya di dalam hidupku, perlahan musik-musik dengan segala genre yang dulunya redup mulai kembali berdendang.

Aku begitu tercengang ketika ternyata selama bertahun-tahun ini kami berada di dalam satu organisasi, berada di grup chatting yang sama dan berkali-kali in frame di banyak foto. Kami tidak saling mengenal dan tidak saling sadar satu sama lain.

Dia, yang kini sedang mendengarkan lagu perahu kertas bersamaku.

Dan kubisa dengan radaku menemukanmu

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Kamu: Segala Genre Musikku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.