Lika Liku Hari Ini

Hari ini aku bangun kesiangan setelah semalaman suntuk main game yang sedang naik daun—Among Us setelah sebelumnya aku seharian mencari ide untuk sebuah cerita, yang aku tulis untuk 30 Hari Menulis Cerita. Setelah mandi dan berpakaian rapih, aku buru-buru memanaskan mesin motorku untuk pergi ke stasiun Depok Lama sampai pada akhirnya setelah sampai stasiun aku ingat kalau aku lupa memberi makan kucingku.

Kemudian aku bergegas naik KRL, namun sayang seribu sayang gerbong khusus wanita yang hendak aku masuki sudah padat oleh penumpang yang lain. Akhirnya dengan terpaksa aku mundur lagi ke belakang memilih gerbong campur dengan harapan bisa masuk karena jika tidak masuk kereta ini, aku pasti akan telat masuk kantor.

Harapan tinggalah harapan. Mana ada gerbong kereta sepi di jam sibuk berangkat kerja begini. Tapi aku tidak bisa menyerah begitu saja jika tidak ingin gaji bulananku dipotong karena telat absen kantor. Aku memaksa masuk dengan mendorong penumpang lain yang ada di belakangku. Dengan mengerahkan semua tenaga yang ada di dalam diri, aku pun berhasil masuk. Tepat lima detik setelah tubuhku berada di dalam gerbong, pintu otomatis KRL tertutup.

Sayup-sayup dari luar gerbong, banyak orang berteriak. “Tasnya, Mbak! Tasnya!” tiba-tiba seseorang di belakangku menepuk pundakku.

“Mba, tasnya ada di luar.” Katanya. Aku buru-buru melihat tasku. Ternyata tas bekal milikku hanya talinya saja yang ada di dalam.

Kereta sudah jalan. Aku hanya bisa berharap sebagian tasku yang ada di luar sana aman dan bekalku tidak aur-auran. Kereta melaju cepat dan perlahan memelan ketika hendak berhenti di stasiun pemberhentian selanjutnya. Aku merasa ada yang janggal. Ketika kereta benar-benar berhenti dan pintu otomatis perlahan terbuka, tas bekalku tinggallah talinya saja.

“Ga selamet ya, Mba?” tanya Mas-mas di belakangku.

Aku menggeleng, antara sedih dan malu. “Ga selamet, Mas.”

Beberapa orang ada yang mengasihaniku dan beberapa ada yang diam-diam tertawa kecil. Sebenarnya memang ini cukup lucu, tapi aku merasa sedih. Mengasihani ataupun menertawai sama-sama terasa memalukan.

***

Siang ini aku memutuskan untuk makan indomie rebus pakai nasi. Maksud hati untuk menghemat biaya namun malah tekor. Sambil memikirkan tas bekal yang baru saja beli di shopee seharga lima puluh ribu, sambil melamun aku mengaduk nasi dalam piring yang dipenuhi indomie.

Tiba-tiba saja, aku melamunkan film yang baru saja aku tonton semalam. Film karya Hanun Rais yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa. Dalam lamunan, jasadku terlampar ke Kota Paris  nun jauh disana, Menara Eiffel berdiri tegak seakan menyombongkan diri bahwa tidak ada yang bisa merobohkannya.

Udara dingin Kota Paris membuatku harus memakai baju berangkap-rangkap. Ah, alangkah enaknya jika tinggal di Kota Paris sana. Bahkan katanya, copet di sana pun ganteng. Tiba-tiba suara notifikasi dari handphoneku berbunyi, ada pesan dari Ibu. Belum aku buka pesannya, seakan aku bisa meramalkan apa yang ada di pesan Ibu, aku menyadari bahwa token listrik sudah habis.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.