Lilin dan Keteledoranku

Hari ini aku ingin bercerita tentang pengalaman nyataku beberapa hari lalu. Menurutku, pengalaman ini sangat menegangkan.

Saat itu pukul 5 sore di sekitar rumahku sedang ada pemadaman listrik. Sebelum maghrib, seperti biasa aku mandi sore. Namun karena kamar mandiku letaknya di belakang dan tidak ada cahaya sedikitpun masuk, membuat kamar mandi menjadi gelap. Memang ada lampu emergency yang telah Ayahku pasang. Namun karena aku orangnya parnoan, aku pun memakai lampu flash handphone plus lilin.

Di dalam kamar mandiku ada mesin cuci. Di atas mesin cucuilah aku meletakkan lilin. Usai mandi, aku sengaja meninggalkan lilin di atas mesin cuci karena aku pikir lilin akan mati ketika sumbunya sudah habis.

Sampai pukul 7 malam listrik di rumahku belum kunjung nyala sementara listrik rumah tetangga sudah nyala. Dikarenakan hal tersebut, Ayah pun berinisiatif ke masjid bertanya ke orang-orang untuk mencari tahu kenapa hanya rumah kami yang belum juga nyala.

Tinggalah aku, Ibu, adik, dan empat ekor kucing yang ada di rumah. Kami bertujuh semua mengobrol di kamar depan. Sampai pukul 8 malam, listrik belum juga nyala. Tiba-tiba, kami mendengar seperti suara langkah kaki yang meningjak daun kering.

“Ayah ya, dek?” tanyaku ke adik.

“Bukan.”

Suaranya semakin lama semakin besar membuatku teringat akan lilin yang aku tinggalkan di atas mesin cuci. Aku pun langsung melompat dari kasur dan lari ke kamar mandi. Benar saja!!! Kamar mandi sudah berwarna merah dan terang sekali. Aku panik.

Pikiranku saat itu adalah menyelamatkan semua orang termasuk anak-anak buluku. Aku kembali ke kamar dan memberitahu Ibu juga adikku untuk keluar rumah. “Bu, kebakaran kamar mandi.” Kataku belepotan. Namun Ibu dan adik hanya diam saja. Ya, siapa yang sangka kalau kamar mandi kebakaran. “Bu! Keluar!!!” kataku berteriak sambil mengambil tempat tidur anak-anak bulu dan membawanya keluar.

Setelah mendengar keseriusanku, Ibu dan adik langsung berlarian keluar mengikutiku. Setelah memastikan Ibu, adik, dan anak-anak bulu berada di luar aku kembali ke dalam untuk memadamkan api. Di sana suhu sudah sangat panas dan api sudah sangat tinggi. Aku pun mengurungkan diri untuk memadamkan api karena menurutku sangat berbahaya.

Di waktu yang bersamaan, aku merasa takut dan bersalah. Penyebab kebakaran adalah diriku. Pikiranku kalut, namun aku harus tetap bisa bertindak cepat. Aku kembali keluar rumah dan meminta adikku untuk menelpon Ayah yang sedang ada di masjid sementara aku berlarian ke rumah tetangga dan meminta tolong.

“Tolong rumah saya kebakaran. Tolongin!” tetangga yang aku mintai tolong tampak bingung dan tidak bergerak cepat. Aku pun tidak dapat mengandalkan mereka sehingga aku kembali berlarian ke masjid untuk memberitahu Ayah. Saat itu aku tidak kepikiran untuk pakai sandal sehingga kakiku menerobos jalan yang agak berbatu.

Dengan napas tersenggal-senggal, aku berteriak. “Yah! Ayah!!!! Kamar mandi kebakaran!!!!” Ayah yang sudah ditelepon oleh adiku pun sudah bersiap-siap berdiri dan hendak pulang. “Yah! Ayo lari! Udah gede apinya!!” kataku berteriak dan gemetaran.

Kami berdua lari secepat mungkin. Aku mengikuti Ayah dari belakang dan Ayah mengambil air yang ada di kamar mandi lainnya. Para tetangga dan orang-orang di masjid semua berkumpul di rumahku. Api pun padam dengan cepat. Rasa takut, bersyukur, dan bersalah semua bercampur menjadi satu.

Usai api padam, kakiku baru terasa perih karena berlarian tanpa alas kaki. Aku menangis di kamar karena pikiranku melayang kemana-mana. Kalau saja kami bertiga ketiduran lalu api menyebar dan kami semua terjebak, habislah. Kalau saja api sudah menyebar dan rumah terbakar, habislah.

Kenapa aku tidak memutus sambungan gas, kenapa aku tidak memutus saklar atau meteran listrik terlebih dahulu. Jika listrik saat itu nyala dalam waktu bersamaan.. ahhh… terima kasih ya Allah, masih dilindungi.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Lilin dan Keteledoranku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.