Mas Ruslan

Pernikahan

Penyesalan datang di hari pernikahan. Sepertinya itulah yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Dalam waktu satu jam ke depan, aku akan dipersunting oleh laki-laki dingin yang tampaknya tidak mencintaiku. Dari awal pertemuan sikapnya begitu dingin. Satu-satunya kalimat yang pernah ia ucapkan padaku adalah, “Aya, walau kita dijodohkan dengan kedua orangtua kita, apa kamu ikhlas untuk menerimaku yang belum kamu kenal?” hanya itu yang pernah ia ucapkan, di hari khitbah kami.

Seharusnya aku bilang, “Tidak.” Ah bukan, seharusnya aku tidak bercerita ke Ibuku kalau aku jatuh cinta pada Ustadz di tempatku mengaji yang sudah beristri. Ibu takut, aku rela menjadi istri ke dua. Lebih parahnya, Ibu takut aku menjadi pelakor. Itu semua tidak akan pernah terjadi, Bu.

Aku pernah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang selalu menjadi imam saat sholat maghrib. Suaranya begitu merdu, membuatku ingin berlama-lama menjadi makmumnya. Berawal dari suara, aku pun penasaran ingin melihat wajahnya. Saat aku melihat wajahnya, aku semakin jatuh cinta. Namun sayang, ternyata ia sudah menikah dan segera punya anak. Aku pun mundur.

“Gimana, Mbak? Udah puas belum?” Tanya seorang periasku membuyarkan lamunan penuh penyesalan. Aku melihat ke arah cermin, hari ini aku begitu cantik. Make up flawless yang aku inginkan terkabul oleh tangan profesional periasku. Aku tersenyum kecil. “Puas, mbak. Perfect.”

“Siap akad, nih?”

Aku terdiam sejenak. Memperhatikan riasan dan hijab sederhana serta gaun putih yang menempel di tubuhku. Sejauh ini, akad impianku masih sesuai dengan rencana. Riasan flawless, pashmina putih dan gaun sederhana namun bak putri raja. Hanya saja, calon suamiku yang tampaknya tidak sesuai dengan impianku. “Siap ngga siap harus siap, Mbak. Akunya sudah cantik begini, masa mau kabur.” Aku tertawa kecil.

“Bisa aja.”

***

Aku memilih masjid dekat rumahku untuk menjadi tempatku menggelar akad dan resepsi pernikahan. Halaman masjid yang penuh dengan pepohonan rindang sangat cocok dengan konsep resepsi pernikahan impianku, garden party.

Aku diantar oleh dua orang sepupuku untuk duduk bersama Ibuku sementara Mas Ruslan, laki-laki yang sebentar lagi mengikrarkan akad untuk mempersuntingku sudah duduk di depan Ayah dan pak penghulu.

Laki-laki itu sebenarnya tampan, wajahnya sangat manis dan kalem, tubuhnya tinggi, tidak kurus, tidak gemuk. Secara fisik, ia memang tipeku. Tapi aku sangat khawatir kalau Mas Ruslan tidak akan pernah menyukaiku.

“Bagaimana saksi?”

Dua orang saksi pun berkata, “SAH!” dan dengan itu, kami pun resmi menjadi sepasang suami istri. Jantungku berdebar begitu kencang, entah bagaimana Mas Ruslan. Setelah serangkaian do’a terucap untuk pernikahan kami, aku pun maju mendekat ke Mas Ruslan, suamiku. Ia memakaikan cincin ke jari manisku, aku mencium tangannya, lalu ia mendoakanku.

Jantungku sangat tidak santai sejak akad tadi. Kini kami duduk berdampingan, Mas Ruslan masih saja tidak bicara apapun. Para tamu undangan mungkin saja berpikir kalau pernikahan kami adalah sebuah paksaan. Kami memang dijodohkan, tapi tidak ada paksaan.

“Ayaaaa.. Selamat yaa, suaminya ganteng.” Sahabatku, Rere yang paling berisik naik ke pelamaninan, menyelamati kami dan kata-katanya sangat aku duga.

“Makasi ya Re, cepet nikah juga lo.”

“Tar dulu, gue masih nyekolahin adek-adek gue. Yang penting, suami lo ganteng.”

“Sst berisik banget lo Re.”

Rere beralih ke Mas Ruslan. “Selamat ya, Mas. Jangan buat Aya nangis ya walaupun dia aneh.”

Iya, aku memang aneh karena aku malah mencubit pinggang Mas Ruslan sampai ia meringis. “Aaaaw!!”

“Eh, kok..”

“Sabar Ay, ntar malem aja. Masih banyak tamu udah cubit-cubit aja.” Ledek Rere.

“Udah sana-sana makan yang banyak ya habisin.” Aku mendorong Rere untuk segera pergi dari pelaminan. Kacau memang kalau sudah bertemu dengan Rere. “Mas, maaf ya. Aku harusnya tadi cubit Rere, tapi malah cubit kamu.”

“Iya, ga apa-apa.” Jawabnya dingin.

Ih, amit-amit.

***

Aku dan Mas Ruslan kini sudah berada di hotel yang telah dipesan oleh orangtua kami. Orangtua kami memang tidak ingin membuat kami risih karena harus tinggal di rumah yang pastinya banyak saudara menginap. Walaupun aku tahu, tidak akan terjadi apa-apa di hotel ini. Lagipula, hari ini aku ingin sekali meluruskan tubuhku. Ternyata menikah itu sangat melelahkan.

Kini aku dan Mas Ruslan sudah berganti pakaian tidur, namun aku masih memakai hijabku. Rasanya sangat sulit untuk membuka hijab di depan laki-laki asing walaupun ia adalah suamiku. “Kamu buka saja hijabnya, aku kan suami kamu.”

Aduh, kenapa aku jadi deg-degan dia bicara begitu.

Ia menatapku, tapi masih dingin walau tidak sedingin sebelumnya. Tubuhku tidak bergerak, aku malah berdiri menghadap ke arahnya tanpa melakukan apapun. Mas Ruslan yang sedang duduk di sisi tempat tidur berdiri dan berjalan ke arahku. “Maaf yaa, aku buka.” Ia memegang hijabku dan membukanya perlahan. Rambut panjangku pun terurai. Lalu ia menaruh hijabku di kursi dekat tempat tidur kemudian kembali duduk di sisi tempat tidur.

Aduh, makin deg-degan.

Dengan kikuk, aku berjalan ke sisi tempat tidur dan duduk. “Kita belum mengenal satu sama lain, yang saling mengenal dengan baik hanya orangtua kita. Ada yang mau kamu tanyain tentang aku?”

“Umur kamu berapa, Mas?”

Ia tertawa kecil, singkat. Aku lihat ia tertawa lalu menahannya. “Cuma beda dua tahun sama kamu.”

“Emang kamu tau umurku berapa?”

“Tau, kan aku udah tanya-tanya ke papa mama. Kamu engga tanya-tanya tentang aku emangnya?”

Aduh gawat, engga sama sekali.

“Hehehe. Hobi kamu apa, Mas?”

“Sama kayak kamu.”

“Travelling?”

Ia mengangguk. Mas Ruslan benar-benar sudah tahu banyak tentang aku sementara aku tidak ada satu pun yang aku tahu tentang Mas Ruslan. “Mas, kemarin-kemarin kenapa ga pernah ngomong sama aku? Tadi di pelaminan juga ekspresi kamu kayak dipaksa nikah.”

“Aku juga engga tahu kenapa.”

Hee?

Aku bingung, tidak tahu harus bertanya apa lagi. Mas Ruslan memang tidak banyak bicara. Wajahnya juga judes, tapi lama-lama aku suka. Namun ada satu hal yang sangat aneh, kenapa sedari tadi aku merasakan kram di perutku? Semakin ke sini, rasa kramnya semakin kuat. Aku melihat tanggal di handphone. Ya ampun, ternyata ini tanggal aku haid.

“Mas.”

“Iya?”

“Kamu tadi sudah denger kan kata-kata Rere? Temenku yang berisik itu.”

“Kamu aneh?”

Aku mengangguk. “Sepertinya malam ini aku haid.” Mas Ruslan berdiri lalu mendekatiku, wajahnya tampak serius.

“Sakit?” Ia memegang bahuku.

Ya ampun, kenapa dia mengerti sekali. Aku mengangguk. “Dalam tiga jam ke depan akan semakin parah, tapi setelahnya akan biasa aja.”

“Pas kamu sakit, aku harus apa? Aku engga punya adik atau kakak perempuan, jadi aku gak paham.”

“Biasanya ayahku pijat telapa kakiku, dan biasanya aku nangis. Saat nangis, biasanya Ibuku di samping aku. Tapi masalahnya, aku ga sedia pembalut.”

“Aduh gawat. Aku ga paham.”

Aku browsing pembalut yang biasa aku pakai lalu aku kirimkan gambarnya ke whatsapp Mas Ruslan. “Maaf ya, Mas.”

Tampaknya Mas Ruslan sangat tertekan, malam-malam harus pergi ke supermarket dan membeli pembalut untuk pertama kalinya dalam hidup. Tapi Mas Ruslan tidak komplain, sepertinya ia adalah suami yang baik.

“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.” Tiba-tiba saja aku merasa begitu bersyukur, pilihan orangtua memang tidak pernah salah. Semoga.

Perutku semakin sakit, aku mulai berkeringat. Tidak kuat, aku pun berbaring. 15 menit kemudian Mas Ruslan kembali dengan membawa pembalut. Walau ini adalah pengalaman pertamanya, ia tidak salah. Mas Ruslan duduk di sampingku. Ia mengusap kepalaku. “Sakit banget, ya?” aku mengangguk.

“Kamu pakai pembalutnya dulu, nanti kaki kamu aku pijat.”

Aku bangun dan ke kamar mandi lalu kembali dengan tubuh meringkuk kesakitan. Mas Ruslan sudah siap untuk memijat kakiku. “Sudah pas?” tanyanya, aku mengangguk. Ia memijat kakiku tanpa komplain apapun. Setelah satu jam lamanya, ia berhenti memijat kakiku. Ia menaiki tempat tidur dan duduk di sebelahku berbaring. “Masih sakit?”

“Udah agak mendingan, Mas.” Jawabku. Ia menyeka keringat di dahiku.

Aku melihat tangannya menumpu di pahanya. Ia bersandar, matanya terpejam. Aku tahu kalau ia pun lelah ingin merebahkan tubuhnya. Namun ia setia menemaniku yang sedang kesakitan. “Mas..”

“Iya, kenapa? Sakit banget?”

“Engga, kamu kalau ngantuk tidur aja.”

“Masih belum terlalu.” Tangannya bergerak, ia mencari tanganku dan memegangnya.

Aduh deg-degan. Tapi perutnya sakit.

Aku menarik tangannya ke arah wajahku. “Makasih ya, Mas.”

“Iya, Aya. Kalau sakit banget, bilang ya.”

Dua jam telah berlalu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mas Ruslan masih terjaga, tanpa kotak-katik handphone. Hanya diam, matanya tidak terpejam hanya sesekali saja. Tangannya masih setia memegang tanganku.

Keram perutku sudah hilang. Aku meremas tangan Mas Ruslan, ia menoleh. “Udah engga sakit, Mas. Tidur, yuk.”

Perlahan ia menurunkan tubuhnya, kini kami saling berbaring. Jantungku berdebar bukan main seakan Mas Ruslan bisa mendengarnya. Aku pikir ia akan melepas tangannya, ternyata tidak. “Hari ini sangat melelahkan. Tapi aku senang.”

Mas, aku tidak melihat raut senang di wajahmu.

“Ya sudah mas, kamu segera tidur ya.”

“Iya, sebentar lagi juga aku pulas.” Ia menghela napas. “Semoga nanti kamu bisa sayang sama aku, ya.”

Mas, sepertinya aku sudah sayang.

“Kamu udah sayang belum sama aku?”

“Aku engga tahu, tapi aku mau melindungi kamu sebisaku. Kalau ada level di atas sebisaku, aku akan melakukan itu untuk melindungi kamu.”

“Aku pikir…”

“Sst. Jangan terlalu banyak berpikir. Besok, kita omongin lagi ya kita mau bulan madu ke mana.”

Mata Mas Ruslan sudah terpejam. Mas, sisi tempat tidur sana masih lega. Tapi aku suka, begini saja.

Sepertinya Mas Ruslan sudah terlelap. Aku memperhatikan wajahnya. Hidungnya tidak terlalu mancung, tapi tidak pesek juga. Semuanya pas, benar kata Rere, Mas Ruslan tampan. Beruntung sekali aku.

***

Aku merasakan sinar matahari merebak masuk ke dalam kamarku. Tumben, Ibu belum teriak-teriak membangunkanku. Seorang laki-laki tampan, mengikrarkan akad dan menjadi suamiku. Mataku terbuka. Tubuhku reflek terbangun. Aku melihat Mas Ruslan sedang duduk di depan balkon sambil menyeruput secangkir teh hangat.

Aku mencium harum sarapan kesukaanku, lontong sayur. “Lah ada lontong sayur.” Aku melihat dua bungkus lontong sayur teronggok rapih di atas meja. Aku buru-buru jalan ke kamar mandi untuk melihat kondisi wajah dan rambutku. Masih aman.

Aku menghampiri Mas Ruslan yang sedang ada di balkon. “Mas, aku kesiangan. Maaf.”

“Iya, kesiangan banget.” Timpalnya tanpa basa basi.

Saat melongok ke dalam untuk melihat jam dinding, aku terkejut bukan main. Ternyata sudah jam 9. “Gak apa-apa, kamu kan lagi sakit perutnya. Aku udah beli sarapan kesukaan kamu, kita sarapan dulu, yuk.”

Kami ke dalam. Aku menyiapkan lontong sayur ke dalam mangkuk. Aku benar-benar ingin mejadi istri yang baik, walau saat ini rasanya sedikit aneh. “Kamu ternyata ngorok, ya kalau tidur.” Ujarnya di tengah-tengah sarapan.

“Hah? Aduh. Gimana ngoroknya?”

“Ya, kayak orang ngorok.”

“Aku ngorok kalau kecapean, Mas.”

“Aku baca Al Fatihah pas subuh sampai salah terus gara-gara jadi ga fokus.” Tiba-tiba Mas Ruslan tertawa terbahak-bahak. Jadi selama ini dia menahan tawa. Kurang ajaaaar. Aku reflek menendang kakinya.

“Mas!!”

“Sorry sorry. Habisnya lucu banget.” Ia mengusap-usap kepalaku.

“Mangap ngga?”

Mas Ruslan kembali tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku. Mas Ruslan memang default-nya dingin. Tapi ternyata asik juga. “Mangap.” Jawabnya lalu kembali tertawa.

“Awas keselek.” Kataku datar.

Aku sampai tidak sadar kalau lontong sayurku sudah habis. Ternyata Mas Ruslan begitu mengasyikkan. Mas Ruslan pun sudah menghabiskan sarapannya. “Ga usah dicuci dulu, diemin aja dulu di situ. Aku mau nonton TV.”

Mas Ruslan berjalan ke tempat tidur lalu menghidupkan TV. Aku ikut berjalan ke tempat tidur karena tidak tahu mau ngapain. “Kita dipesenin hotel berapa hari, sih?”

“Besok check out. Kamu mau bulan madu kemana?”

“Ke Sumut.”

Deal. Mau get lost atau ada persiapan?”

Get lost aja lebih menantang.”

Aku sangat senang dan gemas dengan Mas Ruslan. Rasanya mau selfie bareng, tapi nanti dulu deh. Hihi.

***

Bulan Madu

Kini kami sudah berada di kereta bandara. Dua buah ransel yang tidak terlalu besar ukurannya sudah berada di rak bagasi kereta. Sedari tadi Mas Ruslan belum ada bicaranya denganku. Aku pun masih agak kebingungan untuk memulai. Menyesuaikan diri dengan sifat Mas Ruslan memang tidak mudah. Kadang ia banyak sekali bicara, kadang ia bisa menjadi sangat dingin seperti membenciku. Atau mungkin aku yang terlalu berperasaan? Tapi Mas Ruslan pernah bilang, “Jangan terlalu banyak berpikir..” baiklah, aku tidak akan banyak berpikir.

Sulit. Apa yang sedang Mas Ruslan pikirkan, ya?

Aku memperhatikan Mas Ruslan yang terus melempar pandangannya ke luar jendela. Tangannya tidak menggenggam tanganku, padahal aku kepingin. Mas Ruslan tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku yang tidak pandai berakting hanya memasang wajah datar plus kedipan yang tidak perlu. “Kenapa?” akhirnya satu kata keluar dari mulutnya.

Perlahan aku memutar leherku ke depan, lalu menunduk. “Ngga apa-apa.” Aku yang kikuk pun mengambil handphone yang kutaruh di tas kecilku. Namun saat tanganku hendak mengambil handphone, Mas Ruslan mengamit tanganku.

Aduh deg-degan lagi.

Mas Ruslan menaikkan penyangga tangan sehingga tidak lagi ada penghalang di antara kami. “Udah sayang aku belum?” Tanya Mas Ruslan tiba-tiba berbisik di telingaku, membuat perutku melilit seketika.

Lidahku kelu menjawabnya. Padahal sepertinya aku sudah sayang sejak malam pertama kami menjadi suami istri. “Kamu gimana?” aku malah bertanya balik.

“Udah.”

Aduh mules.

Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum. Terlalu indah dan manis didengar. “Aku juga.” timpalku tanpa mengeluarkan suara, Mas Ruslan tidak tahu aku mengatakan itu.

***

Tempat yang tidak pernah sepi dan selalu sibuk. Sementara aku sibuk memperhatikan suamiku yang lagi-lagi tidak ada bicaranya. Aku sudah tahu dia seperti itu, namun aku tidak pernah bisa untuk terbiasa. Aku selalu ingin mengobrol dengannya, tapi aku pun selalu berat untuk memulai duluan.

Waktu kami tidak banyak sehingga kami langsung ke atas dan tanpa menunggu lama kami sudah harus boarding. Di dalam pesawat, aku memilih untuk duduk di dekat jendela. Jaga-jaga saja, apabila Mas Ruslan sedang angot diamnya, aku bisa melihat-lihat awan. Melihat awan memang tidak pernah bosan walau gitu-gitu saja.

Benar saja, selama perjalanan Mas Ruslan tidak bicara satu patah kata pun kepadaku. Bahkan saat ia ingin ke toilet pun, ia pergi begitu saja tanpa bicara denganku. Seperti orang yang sedang solo travelling.

Mas Ruslan sudah kembali. Aku berpikir keras untuk mulai membuka percakapan. “Kamu tadi habis pipis atau pup?”

“Pipis.” Jawabnya singkat.

Aku menunjukkan gallery handphoneku karena sempat mengambil beberapa foto langit yang menurutku cukup bagus. “Mas, lihat deh. Bagus ya?”

Ia melongok ke handphoneku. “Iya, bagus.”

Aku menarik kembali handphoneku. Aku tidak ada lagi ide untuk mencairkan suasana. Aku pun memilih untuk tidur. Aku menarik kupluk hoodieku sampai menutup mata dan memakai masker.

Sayup-sayup suara pengumuman bahwa kita akan landing terdengar, aku pun terbangun namun aku merasakan sesuatu mengganjal di tanganku. Tangan Mas Ruslan menggenggam tanganku.

Aku membuka kupluk hoodieku dan melihat Mas Ruslan. Ia masih tertidur lelap dengan headset menggantung di telinganya. Dengan lembut, aku mencopotnya menggunakan tangan kananku. Tangan kiriku masih berpegangan dengan tangan Mas Ruslan. “Mas..” dengan lembut aku membangunkan Mas Ruslan.

Perlahan ia membuka matanya. “Sudah mau sampai, ya?”

“Iya.”

Mas Ruslan menarik tangannya lalu tiba-tiba ia memelukku. Ini adalah kali pertama ia memelukku. Ia mengecup dahiku sekilas. “Are you okay?” Tanya Mas Ruslan. Harusnya aku yang menanyakan hal itu.

“I’m okay.”

“Good.”

Pesawat sudah landing, kami mengambil ransel kami yang kami taruh di kabin pesawat. Dengan semangat, kami turun dari pesawat setelah diperbolehkan.

Kami membeli tiket kereta bandara menuju Stasiun Medan. Kami masih punya waktu satu jam sampai kereta tiba. Perutku sudah terasa begitu lapar, kami pun memutuskan untuk membeli fried chicken di dekat situ.

“Aku lapar banget.”

“Kalau kurang, bilang ya. Nanti aku beliin lagi.”

Aku menyenggol lengan Mas Ruslan. “Jangan gitu, nanti aku gendut.”

“Oh iya. Ya udah, kalau kurang tahan ya. Nanti kita makan lagi di Medan.”

Aku menendang kaki Mas Ruslan pelan. “Ish.”

“Kenapa?”

“Harusnya kamu bilang, ‘kamu gendut juga engga apa-apa, aku tetap sayang.’ Masa malah diiyain.”

Mas Ruslan menghela napas. “Ya ampun, kamu ga perlu ucapan yang seperti itu karena aku akan melakukan itu. Aku hanya ingin mengabulkan keinginan kamu. Kamu takut gedut, ya berarti makan jangan banyak-banyak.”

Ternyata Mas Ruslan memang sangat kaku. “Iya.” Jawabku agak ketus.

“Mau kulit ayam aku?”

“Kamu emangnya ngga suka?”

“Suka.”

“Ya udah buat kamu aja.”

“Yakin? Padahal aku mau berbagi.”

“Buat kamu aja.”

“Ya sudah, buat aku aja.”

Setelah menghabiskan makananku, aku izin pergi ke toilet untuk mengganti pembalut. Setelah beres, aku bercermin dan mencuci muka. Aku merasa aku sangat labil hari ini. Entah pengaruh haid, atau aku yang tidak bisa membiasakan diri dengan sifat Mas Ruslan yang sering kali dingin. Apa yang harus aku lakukan? Ia manis, tapi aku tidak suka dengan sifat dinginnya yang tiba-tiba muncul.

Mas Ruslan sedang memainkan handphonenya. Baru kali ini aku melihatnya sibuk memainkan handphone. Tampaknya sangat serius. Aku melihat Mas Ruslan sedang menghapus tanda yang dibagikan di instagram. Aku melihat akun yang menandainya adalah seorang wanita. Aku hapal namanya, terekam otomatis di kepalaku. Namun Mas Ruslan masih belum sadar aku sudah berada di sampingnya.

Aku sengaja menjatuhkan tempat minumku, membuat Mas Ruslan kaget. Ia buru-buru menutup instagramnya. “Tanganku licin tadi habis cuci tangan.”

Mas Ruslan mengambilkan tempat minumku.

Pengumuman kereta sudah tiba terdengar. Kami pun bergegas ke peron dan mencari tempat duduk kami. Kepalaku terus saja memikirkan wanita yang menandai fotonya dengan Mas Ruslan. Kenapa Mas Ruslan hapus? Apakah wanita itu adalah kekasihnya? Apakah aku penghancur hubungan mereka? Apakah Mas Ruslan terpaksa menyayangiku? Apakah selama Mas Ruslan bersikap dingin ia memikirkan perempuan itu?

“Kamu kenapa?” Tanya Mas Ruslan.

“Masih lapar.” Jawabku berbohong.

“Tuh kan, kamu sih.”

Aku mengamit lengan Mas Ruslan. “Tenang, ga lapar-lapar banget.”

Aku tidak bisa untuk tidak memikirkan apa yang tadi aku lihat. Aku merasa bulan madu kami akan terasa berat. Aku begitu penasaran, namun aku tidak berani untuk bertanya. “Malam ini kita makan durian ucok, ya. Setelah itu pesen hotel, besok kita ke danau toba.”

Aku mengangguk kecil. Tidak bersemangat. “Kamu haid hari ke berapa?” Tanya Mas Ruslan.

Mataku terbelalak. “Kenapa tanya?”

“Aku perhatiin kamu kayaknya capek banget.” Ah, ternyata tidak seperti yang aku pikirkan. Maaf, Mas. Sepertinya aku belum bisa menjadi istri yang baik. Terlalu banyak yang aku pikirkan tentangmu.

“Iya, Mas. Aku ngerasa capek. Mungkin karena haid.” Sebenarnya aku tidak pernah ada masalah dengan haid kecuali tiga jam pertama saat haid dimulai. Lagi-lagi aku membohongi suamiku. Aku merasa kasihan dengan Mas Ruslan, namun di satu sisi aku ragu dengan dirinya. “Maaf ya, Mas.”

“Ga apa-apa. Pokoknya jangan dipaksain yaa. Bilang kalau kamu butuh istirahat.”

Ya Allah, aku ingin menangis. Walaupun seandainya ada wanita yang dicintai Mas Ruslan sebelum menikah denganku, namun Mas Ruslan begitu baik sebagai suami. Sementara aku, terlalu banyak menebak dan tidak berani untuk bertanya.

Saat tiba di Medan, jam sudah mendekati waktu Isya. Mas Ruslan mencari musolah untuk solat maghrib. Aku menunggu di luar sembari menjaga tas Mas Ruslan. Ia pun menitip handphonenya kepadaku.

Aku iseng membuka handphone Mas Ruslan yang ternyata tidak ada pengamannya. Aku membuka instagramnya dan membuka profil perempuan dengan akun @citrahasibuan. Perempuan itu orang Sumatera Utara dan aku meminta bulan madu ke Sumatera Utara. Lucu sekali aku.

Aku memberanikan diri untuk membuka profilnya. Subhanallah, banyak sekali foto suamiku di akun itu. Terakhir upload foto bersama Mas Ruslan sekitar 4 bulan lalu. Foto-foto bersama Mas Ruslan sangat banyak dan tidak dihapus. Aku menutup instagram dan kembali mengunci handphone Mas Ruslan.

Suasana hatiku benar-benar sangat tidak baik. Seharusnya aku tidak melihatnya.

Mas Ruslan selesai solat, rambutnya masih sedikit basah karena air wudhu. Tampannya suamiku. Aku selalu bahagia karena itu. Aku tersenyum melihatnya, tapi mataku sedih. Mas Ruslan mengusap-usap lenganku. “Kamu kelihatan capek banget. Makan duren ucoknya ditunda aja, kita cari hotel aja ya. Kamu istirahat dulu, nanti kalau rasanya udah enakan dan mau makan duren, baru kita keluar.”

Aku mengangguk pelan. Mas Ruslan memakai ranselnya dan memakai ranselku di depan. Aku kaget. “Eh, ga usah, Mas.”

“Ga apa-apa. Ga berat, kok.”

Aku memegang tangan Mas Ruslan, kini aku duluan yang memulai. Kami keluar stasiun dan memesan taksi yang sudah berjejer di luar stasiun. “Tolong carikan hotel yang paling bagus ya, Pak.”

“Baik, Pak.” Ujar supir taksi dengan semangat.

Tidak ada argo. “Mas, argonya engga ada. Kalau kita dikenain gimana?” bisikku ke Mas Ruslan.

“Kamu ga usah khawatir.” Jawab Mas Ruslan.

Kami pun saling menyandarkan punggung kami ke kursi sembari masing-masing melemparkan pandangan ke arah luar. Medan sudah benar-benar malam, namun masih ramai. Seperti Jakarta. Bedanya, tidak terlalu macet. “Sebelah kanan namanya Kampong Keling, Pak, Bu. Dinamain Kampong Keling karena banyak orang Indianya.”

“Oh begitu ya Pak.” Jawabku tidak bersemangat. Sebenarnya aku sudah tahu karena aku sudah beberapa kali ke Medan. Tampaknya Mas Ruslan pun demikian.

“Saya carikan hotel yang strategis ya Pak. Kalau mau ke durian ucok juga dekat.”

“Iya Pak, siap. Yang penting engga serem hotelnya.”

Supir taksi tertawa mendengar permintaan Mas Ruslan. “Memang hantu Medan itu seram ya Pak? Bukan hantu saja seram kali.”

Mas Ruslan tertawa mendengarnya. “Engga gitu juga sih, Pak. Yang penting istri saya nyaman. Kalo yang serem gitu nanti parnoan, kasian.”

“Baiklah Pak. Dari mana ini Pak?”

“Jakarta Pak.”

“Bulan madu kah?”

“Iya nih Pak. Besok rencananya mau ke Parapat.”

“Bagus Pak. Mantap kali lah. Semoga lancar semuanya, ya.”

Tidak terasa kami sudah tiba di hotel. Hotelnya bagus walau tidak begitu besar. Setidaknya, tidak seram. Mas Ruslan tetap membawakan ranselku. Ia menyuruhku duduk sementara ia memesan kamar di resepsionis. Setelah mendapatkan kunci, kami diantar bellboy ke kamar.

Kamar kami terletak di lantai 3. Kamarnya tidak besar, hanya seukuran tempat tidur dan kamar mandi saja. Tanpa bicara apapun, aku langsung mandi untuk menyegarkan pikiran. Aku mengganti pakaianku dengan baju tidur, menandakan kita tidak akan kemana-mana setelah ini.

Mas Ruslan gantian mandi. Selagi Mas Ruslan mandi, aku mengeringkan rambut. Pikiranku memang menjadi lebih segar, namun foto-foto tadi terus menempel di ingatan. Aku menarik napas dalam-dalam. “Aya, kamu harus menjadi istri yang baik. Masa lalu adalah masa lalu, kamu juga punya masa lalu suka dengan suami orang. Yang terpenting adalah masa sekarang, dan masa depan.” Aku bicara dengan diriku di depan cermin.

Aku merias wajahku, tipis-tipis. Sedikit bedak dan lipstick tipis. Bukankah berias untuk dilihat suami akan mendapatkan pahala? Aku duduk di sisi tempat tidur sembari menonton TV. Mas Ruslan keluar dengan baju tidurnya dan berjalan ke arahku.

Aku deg-degan.

Ia mencium kepalaku. “Wanginya sama kayak rambut aku.”

Aku tertawa dan memukul perut Mas Ruslan pelan. “Kan aku pakai shampo hotel. Pasti sama.”

“Iya juga, ya.” Ia bergaya seakan baru tahu. “Kamu haid hari ke berapa?”

Ia menanyai pertanyaan itu lagi. Apakah ia ingin melakukan apa yang suami istri harusnya lakukan setelah menikah? “Hari ke 3, Mas. Masih seperti Sungai Bengawan Solo saat musim hujan.”

Mas Ruslan mencubit pipiku sampai rasanya akan melar. “Masih lama, ya?”

Aku membalas mencupit pipi Mas Ruslan. “Dua hari lagi sepertinya seperti Sungai Bengawan Solo saat musim kemarau.”

“Kenapa sih kamu harus menganalogikannya dengan Sungai Bengawan Solo?” Mas Ruslan tertawa.

Aku pun jadi ikut tertawa. “Terserah aku.”

Mas Ruslan berdiri dan pindah ke sisi tempat tidur lainnya. Ia merebahkan diri dan memiringkan badannya ke arahku. “Kamu lapar ngga?”

Aku menggeleng. “Udah engga lapar. Kamu lapar?”

“Agak lapar sih, tapi males ah udah sikat gigi.”

Aku menaruh remot ke meja sebelah tempat tidur namun membiarkan TV tetap menyala. Aku merebahkan badanku dan menghadap ke Mas Ruslan. “Aku minta maaf, ya.”

“Karena engga makan durian ucok?”

Iya, selain itu aku meragukanmu, Mas.

Aku mengangguk. “Ga apa-apa. Aku sebenarnya udah pernah makan durian ucok. Tapi sama kamu belum.”

“Udahnya sama siapa?” tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar.

Mas Ruslan terdiam sejenak. Aku tidak siap mendengarnya. “Kepo.” Mas Ruslan mencubit hidungku, kebetulan ada upil kering sampai-sampai rasanya seperti tanah retak. Aku meringis kesakitan, mataku berair. “Eh perasaan pelan.” Mas Ruslan terlihat begitu khawatir.

“Ada upil kering, Mas. Hidungku retak.”

Mas Ruslan tertawa mendengarnya. Tiba-tiba saja aku begitu merasa begitu jatuh cinta pada Mas Ruslan, sehingga aku begitu takut kehilangannya. Hal itu membuatku menjadi sedih karena teringat juga dengan perempuan bernama Citra. Aku jadi menangis. “Kamu nangis?” Tanya Mas Ruslan. Aku merasa ini bukanlah diriku, begitu mellow, berlebihan.

Aku terduduk, Mas Ruslan pun jadi ikut bangun. Ia memelukku. “Kamu jahat banget, Mas!” aku memukul Mas Ruslan.

“Maafin aku.”

“Mas, aku udah sayang kamu. Kamu beneran sayang sama aku kan?”

Mas Ruslan melepaskan pelukannya. “Kamu kok tanyanya begitu. Ada yang kamu pikirin, ya? Kamu aneh deh. Coba cerita ke aku.”

Semakin ditanya seperti itu, aku menjadi semakin sedih. Aku menggeleng. “Aku hanya sayang sama kamu, Mas. Aku mau jadi istri yang baik.”

Mas Ruslan kembali memelukku. “Iya. Kamu istri yang baik.”

***

Lagi-lagi aku kesiangan. Mas Ruslan sudah membawa lontong Medan untuk sarapan. Ia sudah mandi dan siap berangkat, sementara aku masih berantakan. Aku kacau sekali, seperti belum menikah. Kami sarapan bersama. Setelah itu, aku mandi dan menguatkan diri untuk tidak bawa perasaan.

Kami sudah menyewa travel untuk mengantar kami ke Parapat. Kami lewat Siantar dan mampir sebentar untuk makan Misop Mesra, itu adalah Misop yang aku makan 4 tahun lalu. Rasanya masih sama, dan aku pesan 2 mangkok. Mas Ruslan hanya geleng-geleng melihat kebrutalanku dalam makan.

Aku lihat kadang Mas Ruslan sibuk dengan handphonenya saat sedang makan. Bahkan, beberapa kali tidak nyambung saat aku ajak bicara. Aku menghela napas dan berusaha untuk bersabar.

Kami melanjutkan perjalanan dan menghabiskan waktu 4 jam untuk tiba di Parapat. Tidak ada yang berubah, anak-anak laki banyak yang berenang di pinggir danau untuk mengumpulkan koin yang dilempar oleh turis.

Kami menunggu 2 jam hingga feri kami siap untuk berangkat. Saat feri kami berangkat, sudah sangat sore dan langit sudah mulai gelap. “Kamu jangan jauh-jauh dari aku ya.” Ujar Mas Ruslan.

Aku mengangguk pelan. Kami duduk di kursi kayu yang tidak ada sandarannya. Lagi-lagi Mas Ruslan sibuk dengan handphonenya. Sesekali aku curi pandang ke arah handphonenya, ia sedang menghapusi tanda. Berapa banyak foto yang diupload oleh Citra?

Aku mengajak Mas Ruslan bicara, namun ia terlalu fokus dengan handphonenya. Aku berjalan menuju dek kapal untuk mencari senja. Namun ternyata sudah malam. Dari kejauhan, terdapat kelap kelip lampu dari Pulau Samosir. Bayangan bukit pun terlihat tidak begitu jelas. Angin dek kapal terasa cukup dingin. Banyak sekali orang yang berada di sini, melihat kegelapan yang sangat indah. Indah dirasakan.

Kakiku muli terasa lelah. Aku duduk dan memejamkan mata. Sayup-sayup aku mendengar namaku disebut. “Aya! Aya! Aya dimana?” handphoneku bergetar. “Halo?”

“Aya, kamu dimana?” Mas Ruslan terdengar agak membentak. Aku kaget.

“Aku di sini.” Aku melihat Mas Ruslan dari ujung. Aku berdiri dan melambaikan tangan. Mas Ruslan melihatku, wajahnya terlihat agak marah.

Ia menarik tanganku dengan kasar dan membawaku ke dalam, ke tempat yang sepi. Aku sangat bingung, biasanya Mas Ruslan tidak seperti ini. “Aya, kamu ingat tadi aku pesan apa?”

“Jangan jauh-jauh dari kamu.” Jawabku sambil menunduk.

“Kamu mau jadi istri baik, tapi kamu ga dengerin aku. Kamu udah tau pesanku, tapi engga dijalanin.”

Oh sakit sekali hatiku mendengarnya. Aku pun punya alasan kenapa aku berjalan ke dek kapal. “Kamu sibuk aja sama handphone kamu. Sampai engga engeh aku ajak ngomong. Entah apa yang kamu lakuin, menghapus tag-an orang lain. Entah foto apa.”

Mas Ruslan diam. Aku pun tidak sadar aku bisa-bisanya mengatakan hal itu. Aku terlalu marah mendengar ia bawa-bawa keingiannku untuk menjadi istri yang baik. “Aya, maafin aku. Aku cuma khawatir. Kata Ibumu, kamu engga bisa berenang. Aku takut kamu jatuh dari kapal.”

Tanganku gemetar. Aku begitu marah sebelumnya, namun setelah mendengar alasan Mas Ruslan aku begitu luluh. Tapi aku masih marah. Perasaan itu campur aduk menjadi satu, sangat tidak nyaman.

Aku menjatuhkan tubuhku ke Mas Ruslan. “Maafin aku engga jadi istri yang baik. Engga dengerin pesan kamu.”

“Engga Aya, maafin aku udah berkata begitu. Aku hanya khawatir. Maafin aku kalau aku cuekin kamu tadi. Aku janji, engga akan main handphone kalau ga urgent. Sekarang kita balik ke tempat tadi, yuk. Atau kamu mau ke dek kapal lagi? Kalau mau, aku temenin.”

“Aku sumpek, Mas. Kamu mau temenin aku?”

“Iya aku temenin.”

Kami kembali ke dek kapal, menikmati semilir angin danau. Mas Ruslan memelukku dari belakang. Perasaan ini sangat nyaman. Aku merasakan kasih sayang yang diberikan Mas Ruslan. Sesekali ia mencium kepalaku. “Wangi shampo hotel.”

“Emangnya nembus ke hijabku, ya?”

“Iya, nembus.”

***

Kami tiba di Samosir pukul tujuh. Kami mencari makanan halal di sekitar sana lalu mencari hotel paling dekat. Kami memilih Hotel Carolina Tuk Tuk. Hotelnya sangat mencerminkan kearifan lokal dengan bentuk atap khas rumah Batak. Kami memilih kamar dekat pinggir danau. Kamar di lantai satu.

Seperti biasa, kami bersih-bersih sebelum beristirahat. Aku lihat haidku tinggal sedikit, besok pasti sudah bersih. Aku sangat gugup mendapati fakta ini. Namun aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Beberapa hari ini aku sangat tertekan, aku tidak ingin menambahnya.

Mas Ruslan gantian memakai kamar mandi sementara aku merebahkan diri setelah perjalanan yang cukup panjang. Dari dalam kamar, aku mendengar suara perahu yang menabrak pembatas. Suaranya cukup konsisten. Suara air danau pun terdengar jelas dari dalam kamar.

Perkataan Mas Ruslan kembali terngiang. Seperti meneriaki bahwa aku bukanlah seorang istri yang baik. Aku membuka ranselku. Mengambil pouch make up ku. Aku kembali berhias, kini lebih tebal dari semalam. Aku ingin menyenangi suamiku. Aku pun memakai parfum agar sabun atau shampo hotel tidak mendominasi wangi di tubuhku. Selesai berhias, aku kembali ke tempat tidur sembari menonton TV.

Mas Ruslan menotice riasanku. Ia memandangiku tanpa berkedip. “Kamu dandan? Cantik.” Aku tersenyum dan mengangguk. Mas Ruslan duduk di sampingku. “Kamu wangi.”

Aduh, jadi deg-degan.

“Aku takut.” Ujar Mas Ruslan.

“Takut kenapa?” tanyaku bingung.

“Aku takut ngga bisa.”

“Ngga bisa apa?”

“Kamu terlalu cantik malam ini.”

Ya ampun, aku tahu kemana arah pembicaraan ini.

Aku berjingkat turun dari tempat tidur, aku mengambil pouch make up dan mengambil micellar water juga kapas. Aku memberikan keduanya ke Mas Ruslan. “Bantu aku bersihin make up aku, ya.”

Mas Ruslan tersenyum. Ia mengangguk. Ia membersihkan make up ku diakhiri dengan kecupan hangat di dahi. “I love you.”

Aku menutup diriku dengan selimut. Aku sangat malu mendengar kata-kata itu. “I love you too.” Balasku dari balik selimut.

***

Mas Ruslan mengenakan celana tiga perempat dan kaos berwarna coklat susu sementara aku mengenakan dress coklat susu dan kerudung hitam. Mas Ruslan sudah menyewa motor untuk kendaraan kami di Samosir.

Pemandangan di Samosir sangat indah di setiap mata memandang. Ia mengajakku ke Pasar Tomok untuk menonton Sigale-gale. Boneka yang digerakkan oleh seseorang seakan sedang menari. Sejarahnya, Sigale-gale dapat menari sendiri karena dipanggil arwah dan masuk ke dalam boneka tersebut. Kami pun menari tor-tor bersama penduduk lokal.

Setelahnya, kita mendatangi museum rumah adat batak dan aku memakai baju adat pengantin batak. “Jadi pengantin apapun kamu tetap terlihat cantik.” Ujar Mas Ruslan. Aku memukul perutnya.

“Gombal.”

Kami menelusuri Pulau Samosir dan mengunjungi semua tempat yang kami lewati sampai sore hari pun tiba. Kami kembali ke hotel untuk menikmati sore hari. Tidak ada senja di sini, namun pemandangannya tetap indah. Kami duduk-duduk di pinggir danau. “Mas, kita belum ada foto selfie.”

“Oh iya.”

Mas Ruslan mengeluarkan handphonenya lalu membuka kamera. Kami pun mengambil begitu banyak foto. Hari ini aku sangat senang, tidak ada cacat sedikit pun sampai sebuah notifikasi terbaca sekilas muncul dari handphone Mas Ruslan.

“Sampai kapan pun aku ga bisa lupain kamu.”

Mas Ruslan buru-buru menyimpan handphonenya. “Udah ya, udah banyak.”

Aku sudah tidak bisa berpura-pura untuk tidak tahu. Kepalaku pusing, aku menunduk seketika. “Aku tiba-tiba ga enak badan, sepertinya masuk angin. Aku duluan ya.”

Tanpa menunggu iya dari Mas Ruslan, aku masuk ke kamar hotel kami. Aku ke toilet melihat haidku, ternyata sudah bersih. Namun, aku sangat malas untuk mandi. Aku hanya cuci muka dan ganti baju, lalu ke tempat tidur.

Mas Ruslan lama tidak masuk ke dalam kamar, mungkin dia sedang menyelesaikan chatnya dengan perempuan bernama Citra. Tidak terasa air mataku mengalir, sedih sekali rasanya. Suara pintu terdengar terbuka. Aku buru-buru menghapus air mataku dan pura-pura tidur.

Mas Ruslan ke kamar mandi, tampaknya dia mandi. Ini adalah mandi terlamanya. Mungkin dia sedang bingung. Terdengar langkah kaki Mas Ruslan berjalan ke tempat tidur. Tangannya memegang lenganku, terasa dingin. “Are you okay?”

Aku hanya diam. Pura-pura tidur. Mas Ruslan tampaknya tidak ingin menggangguku. Aku merasakan tubuhnya merebah dan membelakangiku. Setelah beberapa jam, aku menyadari kalau Mas Ruslan sudah tidur lelap. Aku memberanikan diri untuk mengambil handphonenya.

Aku buka chat dengan perempuan bernama Citra itu. Hatiku sedih sekali mendapati fakta kalau mereka memang saling mencintai sampai perjodohan itu tiba. Isak tangis tidak bisa ditahan, Mas Ruslan menyadari hal itu. Ia mendapati aku menangis sembari memegang handphonenya. Ia tahu apa yang sedang terjadi.

“Aya.. Aku sudah ngga mencintai dia.”

Aku mengembalikan handphonenya, aku kembali merebahkan tubuhku dan membelakanginya. Aku tidak tahu apakah aku benar melakukan ini. Ya Allah, maafkan aku.

“Aya..” Mas Ruslan mencoba membujukku, namun aku tidak bergeming. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan tentang ini. Aku adalah wanita yang menghancurkan hubungan dua insan yang saling mencintai.

“Ya, aku udah ngga ada perasaan apa-apa sama perempuan itu. Demi Allah, aku hanya cinta kamu.”

Ia bersumpah atas nama Allah, bulu kudukku merinding. Namun aku tetap tidak ingin melihatnya. Aku sangat cemburu, aku sangat sedih. “Aku besok mau pulang.”

“Aya..”

Mas Ruslan turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiriku. Aku menutup wajahku dengan selimut. Perlahan ia menurunkan selimutku. “Aya, kamu percaya sama aku. Aku udah ga ada perasaan apa-apa dengan dia. Aku sedang memohon ke dia untuk lupain aku, terakhir dia chat yang kamu baca. Aku berniat untuk blokir dia. Aku tahu, aku sadar hubungan aku sama dia saat itu tidak dirihoi Allah. Hubungan yang Allah ridhoi ya sama kamu. Di hatiku saat ini, hanya kamu Ya.”

“Aya, mungkin ini bukan waktu yang tepat untukku meminta ke kamu. Aku mau kamu percaya denganku, mungkin ini adalah salah satu jalan agar kamu ga ragu denganku. Kamu udah selesai kan..”

Aku menggeleng. Iya aku lagi-lagi berbohong kepada suamiku. Dan kebohongan kali ini sangatlah dimurkai oleh Allah, aku tahu itu. Aku menolak suamiku sendiri. Mas Ruslan menghela napas pelan. “Kalau kamu besok mau pulang, kita pulang yaa. Aku keluar dulu, mau cari angin.”

Mas Ruslan keluar dari kamar. Tidak lama handphoneku berdering. Panggilan dari Mama Mas Ruslan. Reflek aku terbangun dan menghapus air mataku walau aku tahu Mama ga bisa melihat air mataku. “Halo, Ma..”

“Aya, lagi apa? Mama ganggu ga ni..”

“Engga, Ma.” Suaraku sedikit bergetar. Aku harap Mama tidak menyadarinya.

“Ruslan mana, Ya?”

“Lagi keluar, Ma..”

“Kebetulan. Mau ngobrol sama Mama sebentar?”

“Iya, Ma..”

“Aya. Mama kepikiran sama kalian, tadinya Mama mau ngomong langsung sama kamu. Tapi Mama takut kamu banyak pikiran kalau Mama tunda-tunda. Ruslan ga banyak ngomong, ya?”

“Kadang-kadang gitu, Ma..”

“Saat Ruslan sama Mama dan Papa datang ke rumahmu, Ruslan cerita ke Mama kalau Ruslan sangat ingin pernikahan ini benar kejadian. Sepertinya Ruslan jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu. Ruslan banyak tanya tentang kamu ke Mama. Mama juga kan ga terlalu tau kamu. Mama sampai buat grup dengan Ayah dan Ibu kamu, biar Mama bisa jawab pertanyaan-pertanyaan Ruslan. Tapi Ruslan itu anaknya agak kikuk, Ya.. Apalagi ke kamu, orang yang dia suka. Kalau kikuk, dia ga banyak bicara dan terkesan judes. Mama khawatir kamu terganggu dengan hal itu.”

Aku tidak kuasa menahan tangis, selama ini aku sudah menduga yang tidak-tidak hanya karena perempuan bernama Citra. “Ma, aku sayang Mas Ruslan.”

“Eh, kok kamu nangis. Kenapa? Bener ya, kamu terganggu karena Ruslan banyak diemnya?”

Aku menggeleng walau tahu Mama tidak melihatnya. “Bukan Ma.. Citra, Ma..”

“Citra? Dia masih ganggu Ruslan? Aya, Ruslan sudah lama ingin mengahiri hubungan dengan Citra. Ruslan pernah ajak Citra ke rumah Mama, tapi Citra anaknya engga sopan. Melihat perilakunya ke Mama begitu, Ruslan jadi ilfil. Apalagi semenjak Ruslan belajar agama, dia tahu kalau pacaran itu engga boleh. Tapi Citra lengket banget. Makanya, pas denger Ruslan mau Mama jodohin sama kamu dia seneng banget. Akhirnya bisa mencintai seseorang dengan cara yang Allah ridhoi. Apalagi pas ketemu kamu, dia seneng sama kamu. Citra masih ganggu Ruslan?”

Aku mengangguk. “Aku baca chatnya, dia ga akan lupain Mas Ruslan.”

“Yang terpenting perasaan Ruslan atau perasaan Citra?”

“Mas Ruslan, Ma..”

“Ruslan itu anaknya jujur, Ya.. Ruslan bilang dia sayang sama kamu?”

“Iya, Ma..”

“Percaya sama Ruslan ya, Ya..”

Aku merasa sangat lega, namun aku merasa sangat bersalah. “Ma, aku dan Mas Ruslan belum apa-apa.”

Dari ujung sana, aku mendengar Mama tertawa. “Gara-gara Citra?”

“Aku haid, Ma.. Tapi hari ini sudah selesai. Tapi gara-gara Citra, aku ga mau. Aku dosa ya, Ma. Aku tahu itu dosa, Ma. Aku pernah belajar.”

“Ya udah, kamu udah mandi?”

“Belum, Ma.”

“Kamu mandi, dandan yang cantik. Senengin suami kamu. Niatkan Ibadah.”

“Tapi awkward ga sih, Ma..”

“Engga.. Percaya sama Mama.”

“Yauda, Ma. Aku tutup ya teleponnya. Makasi, Ma. Mama telepon di timing yang sangat tepat. Aku sayang Mama.”

“Mama juga sayang Aya.”

Aku tutup panggilan yang sangat melegakan itu. Aku menarik napas dalam-dalam. Membuang semua pikiran negatif yang sedari awal berseliweran di kepalaku. Aku mengikuti saran Mama.

***

Mataku sangat bengkak, berdandan seperti apapun tampak tidak bagus. Aku menghela napas. Terdengar suara pintu terbuka, posisi ini sangat serba salah. Tubuhku tidak dapat reflek berpindah dari depan cermin ke tempat tidur. Tubuhku menegang bagai orang kesetrum. Melihatku, Mas Ruslan berubah sumringah.

Ia mengendus-endus, entah apa yang ia endus. “Aku kok nyium wangi sabun hotel. Ada yang baru mandi, nih.”

Mas Ruslan bergegas ke kamar mandi, tidak lama ia keluar lalu mengendus telapak tangannya yang basah. “Wanginya sama.” Ujarnya seperti sedang memverifikasi.

Mas Ruslan menghampiriku. “Udah engga marah kan sama aku?” ia melihat ke arahku lalu ke peralatan make up bergantian. Ia tersenyum kecil.

“Maafin aku ya, Mas.” Air mata seperti kembali ingin keluar. Namun dengan sigap jari Mas Ruslan menahannya.

“Ssst. Udah engga marah kan sama aku?”

“Engga.”

“Alhamdulillah…” Mas Ruslan tersenyum, begitu hangat, begitu tampan. Iya, dia suamiku.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.