Masa Kecil Meni

Aku menimang tiga bayi mungilku. Melahirkan tiga orang anak di usia semuda ini tidaklah mudah. Kata orang-orang, seharusnya aku sedang berada di usia dimana aku sedang asyiknya bermain. Setelah merasakan betapa sakitnya rasa persalinan dan betapa lelahnya mengurus tiga bayi terkadang aku berpikir apakah keputusanku untuk menikah muda adalah hal yang tepat.

Namun ketika aku melihat wajah ketiga anaku yang begitu mungil dan menggemaskan, aku mengubur dalam-dalam pemikiran itu. Menjadi seorang Ibu memang tidak mudah, tapi aku menikmatinya.

Aku lahir dari Rahim seorang Ibu tanpa seorang Ayah. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Lahir tanpa mengetahui keberadaan seorang Ayah memang tidak begitu menyenangkan. Rasa kesepian kerap kali mampir ke dalam hidupku. Namun karena Ibuku adalah seekor kucing yang tangguh, perasaan itu sirna. Ditambah dua saudara kembarku yang selalu menguatkan.

Aku, Gembul, dan Unyil

Hidupku tidak kekurangan kasih sayang walau tanpa kehadiran seorang Ayah, ditambah manusia itu yang selalu memanggilku Meni begitu menyayangiku. Aku sangat menyukai manusia itu. Dia adalah manusia favorit yang aku panggil “kakak”.

Namun di usiaku yang baru saja beranjak 2 bulan, saat aku dan saudara-saudaraku—Unyil dan Gembul baru bisa buang air besar sendiri Ibuku hilang. Aku melihat kakak menangis tersedu-sedu saat Ibuku tiba-tiba tidak pulang ke rumah. Ditambah sebelumnya, bibiku yang bernama Babon juga tidak pulang ke rumah.

Aku sangat ingat kalau saat itu adalah musim penghujan. Ular-ular besar banyak yang keluar dari sarangnya. Aku begitu khawatir Ibuku dan bibiku dimangsa oleh ular-ular jahat itu. Aku dan kedua saudaraku begitu bingung ketika tiba-tiba kami kehilangan Ibu. Kami masih membutuhkan susu Ibu.

Aku lihat kakak begitu menghawatirkan keadaan kami yang masih membutuhkan air susu Ibu. Kakak tidak kehilangan akal untuk memberi kami susu kitten namun kami tidak suka rasanya. Susu kitten yang kakak belikan rasanya terlalu manis.

Tidak kehilangan akal, kakak memberikan kami makanan yang wanginya begitu menggoda. Amis dan gurih. Kakak mensuir-suir makanan yang akan diberikan kepada kami. Kami pun berebutan padahal masing-masing kebagian jatah. Setelah beberapa hari diberikan makanan enak itu, aku tahu kalau makanan itu dinamakan ikan tongkol kukus. Sebulan sudah kami makan ikan tongkol kukus yang rasanya sampai terbawa mimpi.

Hari demi hari kami semakin tumbuh besar. Aku tumbuh menjadi anak perempuan yang canti. Kedua saudaraku tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan. Namun suatu hari menjadi hari yang begitu mencengangkan bagiku dan Unyil.

“Aku ingin pamit. Tolong jangan beritahu kakak kalau aku mau pamit.” Ujar Gembul

Gembul

Gembul sakit namun kami tidak tahu bagaimana cara memberitahu kakak. Suatu hari, diam-diam Gembul pergi dari rumah untuk menyendiri dan meninggal dengan tenang.

Kini tinggal aku dan Unyil. Perlahan kami mulai melupakan kesedihan-kesedihan yang baru saja kami alami. Aku dan Unyil selalu bermain bersama sampai kami terlelap.

aku dan Unyil bermain bersama

Suatu pagi ketika aku bangun, aku tidak mendapati Unyil berada di sampingku. Aku mencari keberadaannya di sekitar rumah tapi hasilnya nihil. Unyil hilang, dan itu menjadi pukulan yang sangat keras bagiku juga bagi kakak. Aku melihat kakak menangis begitu sedih sambil memelukku erat-erat, seakan begitu berharap agar aku tidak meninggalkannya.

“Tenang kakak, manusia favoritku. Aku tidak akan meninggalkanmu.” Ujarku. Namun kakak tampak tidak mengerti perkataanku. Aku membalas pelukannya dengan sangat erat.

***

Suatu hari saat usiaku meningjak 6 bulan, kakak memperkenalkanku dengan seekor kucing yang lebih tua dariku. Warnanya oren. Wajahnya tampan sekali. Tapi aku terlalu malu dengan kucing tampan itu sehingga aku memilih untuk mengerang. Kucing oren itu bernama Iko.

Iko

Iko tampaknya langsung menyukaiku. Tapi karena responku yang kurang baik, ia menjadi malu dan ragu-ragu untuk mendekatiku.

Kehadiran Iko tentunya menjadi pelipur lara bagiku. Saat itu aku sudah tidak ingin menahan perasaanku. Di usia 7 bulan, aku memberitahu kakak kalau aku ingin menikah dengan Iko. Kakak yang begitu jenius mengerti apa mauku, langsung menikahiku dengan Iko.

Aku dan Iko

Ya, bayi-bayi mungil ini adalah anak aku dan Iko. Di usia yang begitu dini, sepuluh bulan aku sudah mengurus tiga ekor bayi yang begitu menggemaskan. Masa kecilku memang terenggut, namun aku tetap akan menjadi Ibu yang baik.

Aku, Anak-anakku, dan Kakak

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Masa Kecil Meni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.