Ketimpangan Media (some case to learn closer)

Ingat kasus rohis sebagai sarang teroris? Kopi sianida? Kasus Audrey? Kalian menangkap ada sesuatu yang janggal gak, sih?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di halaman awal instagramku yang tentunya membuat aku penasaran, pakek banget. Sebagai pengguna instagram yang sudah tahu cara menggunakan instagram dengan baik dan benar, aku pun menggeser ke kanan untuk membaca penjelasan-penjelasannya. “Ah, ternyata..” itulah responku seketika, seperti baru saja tahu bagaimana cara makan kepiting yang benar.

Seperti yang telah aku bahas di tulisanku sebelumnya Jejak Digital di Media Sosial, Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survey sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Dari begitu banyaknya pengguna media sosial, kita asumsikan saja semua pembaca yang mampir ke tulisan ini memiliki instagram. Para pengguna instagram tentunya sudah tidak asing lagi dengan berbagai macam video yang kerap muncul di explore instagram. Mulai dari video cuplikan film, video dubbing, video kocheng oren, video kecelakaan lalu lintas, video misteri, video pembulian, dan banyak macam video lainnya. Untuk video yang merekam suatu kejadian langsung, video merupakan potongan video yang tidak merekam sepenuhnya kejadian yang sebenarnya.

Pada kasus Audrey, video berdurasi 30 detik yang menampilkan video pengeroyokan beberapa murid perempuan yang diketahui merupakan pelajar SMK di Pontianak kepada seorang murid yang diketahui lebih muda dari para pengeroyok. Video amatir tersebut pun viral di jagat maya terutama di instagram. Mulai dari muncul di explore instagram, sampai dishare langsung oleh teman yang lebih dulu mengetahuinya. Hal tersebut menyebabkan viralnya tagar #JusticeForAudrey ditambah dengan adanya beberapa pengakuan yang semakin memojokkan para pelajar yang membuli Audrey walaupun belum ada bukti yang dapat ditunjukkan.

Hal itu pun membuat hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat biasa hingga artis-artis mengecam perilaku para pembuli dan menaruh empati kepada Audrey. Setelah hampir seluruh masyarakat terlanjur mengecam para pembuli Audrey, bahkan tidak sedikit yang menyumpahi dengan kata-kata kasar dan sudah melakukan judgement, muncul tagar #AudreyJugaBersalah karena ditemukannya rekam jejak sosial perilaku Audrey yang menurut masyarakat timur ini bukanlah perilaku yang baik. Bahkan, dari histori ditemukan bahwa Audrey lah yang memprovokasi terlebih dahulu sehingga terjadilah kasus pembulian tersebut.

Dari kasus itu jelas sekali bahwa media penuh dengan bias, dan media dapat mempersempit kesempatan seseorang untuk bersikap netral. Hal tersebut, menurut Cordy dalam bukunya Media, Society, World: Social Theory disebut sebagai ketimpangan media atau media injustice. Media injustice dapat merugikan seseorang karena seperti sudah merenggut hak dari pihak yang sudah terlanjur tersudut.

Seperti sebelumnya, lagi-lagi aku membaca blog The Dancing Rain yang secara kebetulan juga membahas mengenai Media Injustice. Dalam tulisannya, ia memaparkan jenis-jenis ketimpangan media menurut Couldry.

Couldry Couldry (2012) menuliskan terdapat empat bentuk ketimpangan media (media injustice). Ketimpangan media yang pertama terjadi ketika orang tertentu dirugikan oleh media dan tidak memiliki cara untuk menanggulanginya. Ketimpangan ini pada dasarnya dapat kita serupakan sebagaimana seseorang dapat melakukan kerusakan moral antara satu sama lain dengan ucapan mereka (O’Neill, 2002).

Selanjutnya, ketimpangan jenis kedua yang media lakukan ialah ketimpangan dalam hal rekognisi (Honneth, 2007). Media dalam hal ini tidak memberikan rekognisi yang adil pada kelompok-kelompok tertentu, misalnya bagaimana televisi nasional kita tidak memiliki porsi yang adil terhadap keberagaman adat dan budaya di negeri ini. Padahal menurut Couldry (2012) media sepatutnya menyediakan ruang agar kelompok-kelompok tertentu agar dapat mengaktuaisasikan diri mereka.

Ketimpangan ketiga muncul ketika seorang individu atau kelompok tertentu secara tidak langsung terhalang untuk menyuarakan gagasan mereka sebab keterbatasan mereka terhadap akses kapital simbolik media. Kapital simbolik media pada dasarnya memang tersedia secara terbatas dan tidak setara. Namun ketidaksetaraan bukan berarti langsung mengkonotasikan ketimpangan. Ketimpangan terjadi manakala ketidaksetaraan memenggal kemampuan individu atau kelompok tertentu.

Ketimpangan keempat yang media lakukan ialah manakala ruang wacana publik  potensial terisolasi sehingga bukan hanya invidu tertentu melainkan individu, kelompok, dan gerakan manapun terhalang dari rekognisi. Ketimpangan jenis ini pada gilirannya akan bermuara pada pertanyaan yang lebih luas terkait politik.

Dalam kasus pembulian Audrey ini, bentuk ketimpangan yang terdapat dalam buku Couldry yakni merupakan jenis ketimpangan media yang pertama.

Media adalah instrumen. Dari contoh di atas, tidak dapat kita pungkiri bahwasanya media dapat menggerakkan masa ke segala arah. Sehingga penting bagi kita untuk memutuskan bagaimana kita menilai sesuatu. Jangan biarkan siapa pun memiliki kekuatan untuk menentukan pandangan kita. Terburu-buru menilai sesuatu dari durasi yang begitu singkat, bahkan dari opini publik, menjadikan kita memiliki andil sebagai kelompok yang memperkeruh keadaan. Apakah kalian mau menjadi seseorang yang begitu mudah percaya atau tabbayun (mencari tahu) terlebih dahulu? Putuskan sekarang!

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

20 thoughts on “Ketimpangan Media (some case to learn closer)

  1. Di era serba cepat dan penuh hoax, menjadi pembaca kritis adalah kunci, Mbak. Analisa apa yang kita baca sebelum menarik kesimpulan atau membagikan unggahan di sosial media harus dijadikan habit.

    1. Sempet greget dengan kasus audrey. Ternyata eh ternyata ya… Hmm memang seharusnya kita lebih pintar dan bijak dalam membaca ataupun menerima informasi dari media terlebih langsung memberikan kesimpulan..

  2. Kalau saya melihat, media saat ini memang timpang dalam menyajikan informasi. Lebih banyak informasi yang bisa berujung negatif dibanding yang berbuah semangat dan optimisme. Mungkin kayak gitu lebih tinggi ratingnya kali ya?

  3. Media, terutama medsos menjadi salah satu sumber hoax. Dan kadang karena keterbatasan pengetahuan, banyak hoax yang ditelan mentah-mentah.
    Contohnya dulu viral berita bahwa ada orang yang dikutuk jadi ikan pari.

  4. Berita berita seperti itu masih akan terus muncul karena banyak yang suka 😀
    Kita yang harus berhati hati dalam membaca berita apalagi menyebarkannya.

  5. Kita sebagai warga negara yang baik harus pintar-pintar menyaring berita yang kita baca atau lihat, jangan asal sebar berita yang belum tentu kebenarannya.

  6. Hai Mbak Kartini.
    Bagaimana kita bersikap terhadap segala sajian di media dapat menunjukkan seberapa mampu kita menempatkan diri /mencerna sajian tersebut. Ketimpangan dan atribut subjektif lainnya akan terus bergulir. Ah, terkadang kita ikut berperan di dalamnya. Terimakasih kak telah mengingatkan untuk lebih wise bermedia.

  7. Ketimpangan pertama sebetulnya sudah terakomodir dengan adanya “Hak Jawab” seperti yang pernah dilakukan SBY. Tapi memang jarang orang menggunakan hak ini. Biasanya mah bikin opini2 yang melawan, bukan menjawab

    1. Sosial medi seperti pedang bermata dua. Satu sisi memang perlu untuk informasi, tapi ada juga yg memakainya untuk tujuan lain. Buatku sih kedawasaan berpikir serta kemampuan cek n ricek memang harus kita miliki sebagai pembaca

  8. Inilah yang membuat kekhawatiran, ketika suatu berita gembar-gembor padahal hanya menilai dari satu sisi dan dengan mudahnya mengejudge sesuatu. Sebagai penerima kabar harus pandai dalam menyaring suatu berita. Jangan sampai kita menerima kabar hoax yang merugikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.