Menciptakan Rasa Bahagia

Menurutku tidak ada definisi baku mengenai bahagia karena setiap orang dalam mendefinisikan rasa bahagia mereka, pastinya berbeda-beda. Mungkin bagi beberapa orang bahagia adalah jika dapat berpelesiran bersama orang-orang terkasih, mendaki gunung bersama sahabat, atau bahkan merasa bahagia setiap kali mendapatkan senyuman dari orang yang dicintai.

Namun bagiku, bahagia adalah ketika diri ini merasa tenang. Tidak ada rasa gelisah ataupun rasa khawatir yang berlebihan bersarang di dalam diri. Bahagia yang aku rasakan juga adalah ketika bahagia itu dapat dirasakan bersama, terutama bersama orang-orang terkasih baik itu keluarga ataupun sahabat.

Dari dua hal itu, kini aku mengerti dan memahami cara apa yang dapat membuatku bahagia dalam hidup ini. Kenapa bahagia pun perlu ada caranya? Karena bahagia itu kita sendiri yang menciptakan.

Menolong Sesama Makhluk

si mpus yang langganan datang ke rumah

Kucing-kucing liar itu mendatangi rumahku setiap hari, lalu aku memberi mereka makan dan minum. Mereka menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Hari demi hari, jumlah kucing-kucing liar semakin banyak. Rumahku menjadi ramai disinggahi kucing. Mungkin aku ini adalah sosok terkenal di paguyuban para kucing. Siapa yang tahu?

Setiap kali aku melihat pedagang kecil yang menjajakan dagangan, tampak tidak laku, aku menghampiri. Ah, aku tidak menyukai dagangan yang mereka jual. Tapi melihat kulitnya yang begitu legam karena terpapar terik siang setiap hari, peluh yang menetes dari helaian rambut di atas dahi membuatku tetap membeli dagangannya. Sebuah senyuman dan ucapan terima kasih dilayangkan kepadaku. Mungkin saja pedagang kecil itu mendo’akan surga untukku. Mungkin saja dari dagangannya yang aku beli, rasa syukurnya kepada Tuhan menjadi bertambah. Siapa yang tahu?

Bagaimana bisa menolong sesama makhluk terasa begitu membahagiakan dan membuatku merasa tenang? Entahlah, perasaan itu muncul ketika aku melihat diriku bermanfaat bagi orang lain atau tanpa aku ketahui sudah menyelamatkan hari mereka saat itu. Siapa yang tahu?

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.” QS. Al-Maidah: 2

Ah ya, tentu saja aku melakukannya sesuai dengan kemampuan dan kapasitasku. Aku tidak pernah memaksakan diri apabila hal baik yang ingin aku lakukan justru malah menyusahkanku.

Kasih Sayang

momen lebaran bersama keluarga

Semua orang di muka bumi ini pasti membutuhkan kasih sayang. Mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terkasih juga bisa melahirkan rasa aman dan nyaman.

Ibu, dan Ayah mereka telah memberikan kasih sayang mereka kepadaku sejak aku dilahirkan, adik memberikan kasih sayangnya kepadaku sejak ia dilahirkan. Ah, betapa bahagianya keluarga kecilku masih lengkap. Mas, Mamah, dan Bapak yang telah memberikan kasih sayangnya kepadaku. Betapa bahagianya, hadir dan diterima di sebuah keluarga yang tadinya begitu asing, namun kini menjadi begitu membetahkan. Meni dan Unyu, dua peliharaanku yang menggemaskan, aku tahu kalian menyayangiku. Sahabat-sahabatku yang tidak banyak itu, yang terkadang rasa pedulinya seperti keluarga, mendapatkan kasih sayang dari mereka seperti sebuah pelengkap kebahagiaan yang sempurna.

Mendapatkan kasih sayang memang begitu membahagiakan, tapi lebih membahagiakan lagi ketika kita pun memberikan kasih sayang kepada mereka. Saling berbalas kasih sayang sungguh membuat perasaan menjadi tenang.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menyukaiku? Kutipan dari Ali bin Abi Thalib radhiyyallahu ‘anhu tampak mewakili:

“Tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada siapapun, karena yang mencintaimu tidak membutuhkan itu dan yang membencimu tidak akan mempercayai itu.”

Ya, biarkan saja mereka tidak menyukai kita karena kita hidup pasti ada saja yang tidak menyukai kita. Bisa karena tingkah laku kita yang menyebabkan itu, atau rasa dengki dan hasad orang lain terhadap kita. Fokuslah pada kasih sayang yang kita terima ketimbang kebencian yang kita terima. Sungguh, itu akan menenangkan dan tidak membuat diri menjadi gelisah.

Memiliki Ilmu

momen saat menimba ilmu tahsin

Manusia diciptakan beberbekal akal, namun ilmu perlu dicari. Jika kita memiliki ilmu, maka kita akan selamat. Seperti sebuah pepatah lama yang mahsyur, “Kejarlah ilmu sampai ke Negeri China.”

Aku sudah membuktikan bahwa memiliki ilmu itu membuatku bahagia. Ya, walau perlu digaris bawahi, semakin aku belajar dan mendapatkan ilmu semakin aku sadar bahwa ilmu yang aku miliki itu hanya seujung jari. Bagaimana memiliki ilmu bisa membuatku bahagia? Sederhananya, dengan ilmu aku dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tepat dan mana yang keliru.

Sebagai seorang muslim, sedari balita aku sudah dimasukkan ke TPA oleh orangtuaku untuk belajar mengaji. Aku yang sudah gemar membaca Al-Qur’an sedari kecil sampai aku dipilih untuk menjadi Qari di pertemuan antara guru SD saat itu ataupun rutin saat pembukaan Pesantren Kilat, mengira bahwa bacaanku adalah yang paling baik. Tapi ternyata, ketika aku sudah berumur 25 aku kembali belajar mengenai Al-Qur’an, aku mendapati bahwa bacaanku selama ini banyak yang salah. Aku belajar begitu keras kepada guru-guru yang begitu hebat. Gagal berulang kali, namun pantang mundur sampai akhirnya aku dinyatakan “Lulus”. Sudah dapat dipastikan, betapa bahagianya aku saat menerima pengumuman kelulusan itu.

Keterampilan

soto mi bogor buatanku

Aku percaya bahwa setiap orang memiliki keterampilan yang ia bawa sejak lahir. Mungkin kita bisa mengatakan hal itu adalah bakat. Tapi menurutku keterampilan dapat diciptakan. Bagaimana caranya? Ya, dengan berlatih.

Seperti sekarang ini, aku meyakini dan bangga terhadap diriku yang memiliki keterampilan menulis sampai dipercaya untuk menjadi admin instagram di salah satu media sosial fundraising berbasis dakwah. Gak gampang, lho. Jadi aku kudu bangga. Juga, menulis itu membuatku bahagia karena tulisanku bisa saja menghibur atau menambah wawasan orang yang membacanya.

Mencari resep di youtube, lalu pergi ke toko kue atau ke warung sayur kini menjadi aktivitas (hampir) sehari-hariku selama WFH (Work From Home) karena waktu luangku menjadi semakin banyak. Hampir setiap hari ada saja menu baru yang aku pelajari sampai aku benar-benar terampil membuatnya. Bahkan, Ibuku yang masakannya tidak dapat diragukan sudah mulai request, “Neng buat itu, dong…” Well, keterampilan memasakku sudah diakui Ibu. Itu sungguh membahagiakan.

Bersyukur

merasa bersyukur

Poin ini adalah yang paling penting. Bersyukur. Ah, sungguh dengan bersyukur rasa bahagia itu gampang banget dirasakan. Dengan bersyukur, pikiran kita terlatih untuk selalu positif. Dengan bersyukur, kita tidak pernah merasa kurang. Dengan bersyukur, kita jadi selalu ingin memberi.

Tuhan, terima kasih hari ini aku masih dikelilingi oleh orang-orang terkasih.

Tuhan, di saat pandemi ini meraja lela terima kasih Engkau telah menjagaku dan keluargaku.

Tuhan, banyak sekali orang-orang yang kehilangan pekerjaannya. Terima kasih Engkau masih memberiku rizky.

Tuhan, terima kasih telah menjauhkan aku dari orang yang salah menurut-Mu. Kini Engkau menghadirkan orang dengan keluarga yang jauh lebih baik bagi-Mu.

Tuhan, terima kasih masih memberikanku kesempatan untuk hidup.

Di dalam hidup, pastinya tidak hanya bahagia saja yang aku rasakan. Ada saatnya aku merasa sedih, ada saatnya aku merasa bingung, ada saatnya aku merasa marah, ada saatnya aku merasa takut dan perasaan-perasaan lainnya. Wajar saja, itu adalah seni kehidupan. Tapi setidaknya, dengan aku tahu bagaimana suatu hal dapat membuatku bahagia itu menjadi sebuah unlimited reward untuk diriku.

Well, itu adalah hal-hal yang dapat membuatku bahagia. Bagaimana dengan kamu?

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

4 thoughts on “Menciptakan Rasa Bahagia

  1. Bakat bisa dimiliki sehak lahir, tapi keterampilan bisa diciptakan. Bersyukur dan bahagia sih karena aku adalah orang yg masih bingung membedakan antara bakat dan keterampilan. Hahhahah

  2. Kadang suka nggak tega ya kak, apalagi kalau yang jualan udah tua. Walau yang dijual nggak menarik, tapi pengin beli karena ingin membantu.

    Kamu keren banget sih, Kak. Semoga kedepannya selalu bahagia ya 🙂

  3. Terampil, bersyukur, berilmu dan bermanfaat. Rasa benci orang lain adalah sebuah angin lalu terasa sih tapi biarin aja. Selamat berbahagia kak. Semoga di perjalanan hidup selanjutnya selalu punya cara menemukan kebahagiannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.