Mengenal Tuhan

Aku pernah mendengar sebuah ungkapan dari seorang ulama mahsyur, “Man arofa nafsahu faqad arofa robbahu” yang mana artinya “Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu.”

Ungkapan tersebut membawaku untuk bertanya-tanya pada diriku sendiri mengenai identitasku. Siapa aku? Jika aku tidak mengenali diriku sendiri, maka aku tidak akan mengenal Tuhanku. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa mengenal diri sendiri untuk mengenal Tuhan? Tentu saja jawabanku adalah karena tujuan hidup setiap makhluk yang ada di muka bumi ini pada akhirnya adalah kematian, kembali kepada Tuhan. Untuk kembali kepada Tuhan, maka aku haruslah mengenal-Nya.

Lalu apakah aku sudah mengenal-Nya? Sedari kecil baik di dalam keluarga maupun di sekolah aku diajarkan bahwa Tuhan adalah Pencipta alam semesta termasuk semua makhluk yang ada di dalamnya. Tapi apakah hal tersebut cukup untukku mengenal Tuhan? Apakah hal tersebut cukup untukku mengenal diriku sendiri? Jawabannya tentu saja tidak.

Namun ternyata ajaran bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta dapat menjadi sebuah pondasi untuk memulai mengenal diriku sendiri. Kita semua tahu bahwa alam semesta ini sangatlah luas, jika Tuhan adalah penciptanya maka Tuhan Maha Besar sementara aku (manusia) maha kecil. Jika Tuhan adalah penciptanya maka Tuhan adalah Maha Kaya sementara aku sejatinya fakir. Jika Tuhan menciptakan alam semesta yang begitu luas ini, maka Tuhan Maha Kuasa sementara aku sejatinya adalah makhluk yang lemah.

Dari situlah aku mulai paham tentang identitasku sebagai manusia; yaitu makhluk Tuhan yang begitu kecil juga lemah. Setelah aku mengenali diriku sendiri, sebagai makhluk yang kecil dan lemah yang sedang berjalan hari demi hari menuju pangkuan-Nya—Tuhan sebuah Dzat yang telah aku kenal, apa yang harus aku lakukan? Tentu saja menjadi manusia yang sukses identitasnya.

“Untuk menuju manusia yang sukses identitasnya, ia harus memahami perannya, ada dua peran utama manusia: sebagai hamba dan sebagai khalifah (pemimpin).” Sofi (Kenduri Cinta, TIM, Jakarta 9 Oktober 2015).

Sebagai seorang hamba Tuhan, tentunya aku ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain karena yang menjadikan aku hidup sementara di dunia adalah apa yang aku perbuat, bukan siapa namaku. Apa yang aku perbuat, bermanfaat atau tidak.

Seorang Rasul, yang namanya begitu harum, yang setiap perilakunya menjadi sebuah teladan, Nabi Muhammad shalallau ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadis ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289).

Lalu, siapa aku? Yaitu seorang hamba yang ingin menjadi sebaik-baik manusia.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

5 thoughts on “Mengenal Tuhan

  1. Siapa aku? Yaitu seorang hamba yang ingin menjadi sebaik-baik manusia.

    Heem, jawaban sederhana tapi “menjadi” nya ga mudah yaa. Semoga kita dimudahkan dalam perjalanannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.