Meranti

Rintik sisa hujan malam ini terasa begitu sendu, menyisakan suara becek di setiap langkah yang menginjak trotoar Ibu Kota. Lampu jalan terlihat remang, kontras dengan sorot lampu kendaraan yang berjalan pelan-pelan.

Sebagian orang masih menaungi kepala mereka dengan payung, menyesakkan jalan trotoar yang tidak begitu lebar. Orang-orang yang sedang terburu-buru menjadi agak kerepotan untuk menyalip mereka yang berpayung.

Terkena hujan memang terkadang bisa menimbulkan masalah baru, entah demam, entah flu. Bahkan bisa saja membuat permasalahan di hati yang pilu menjadi semakin pilu. Apa hubungannya, mungkin buku-buku psikologi bisa menjelaskannya.

Malam itu Meranti merasa begitu lelah akan hidup yang dijalaninya. Laporan-laporan yang selalu minta diprioritaskan membuat waktu dalam satu hari serasa kurang baginya. Ditambah lagi ketika mengingat namanya yang sangat lucu, bagai nama bolu terkenal di pulau seberang sana.

Walaupun ia selalu memperkenalkan diri sebagai Ranti, tetap saja pada akhirnya orang-orang tahu namanya Meranti. Terkadang ia merasa itulah penyebab dirinya belum memiliki pasangan hingga saat ini. Walaupun ia sendiri tidak bisa mempertanggungjawabkan gagasannya itu.

Melihat halte bus transjakarta yang masih cukup jauh di ujung sana, membuat Meranti ingin sekali pingsan agar orang-orang menggendongnya. Namun sayang, seletih apapun Meranti ia memiliki fisik yang sangat kuat.

Langkahnya lunglai, tidak peduli sepatu andalannya terkena becekan atau tidak. Di pikirannya adalah ia harus segera bertemu kasur di tempat kostnya.

Tibalah ia di halte, menunggu bus yang akan mengantarnya ke tempat peristirahatan selama ia berjuang di Ibu Kota. Setelah dipikir-pikir, berada di kampung halaman memang lebih menenangkan. Walau dengan jurusan yang ia ambil, paling bantar Ranti bekerja di bank atau leasing.

Tiba-tiba Ranti merasa ada yang menepuk pundaknya. Ia selalu ingat pesan Simboknya di kampung, “Di Ibu Kota rawan terkena hipnotis. Kalau ada yang nepuk pundak, jangan lupa sebut-sebut. Jangan tatap mata si penghipnotis.”

Langsung saja Ranti menyebut-nyebut nama Tuhan sambil terus berusaha berkonsentrasi agar tidak terhipnotis. Namun sebut-sebut yang disarankan Simboknya tampak tidak mempan malahan terdengar namanya disebut. “Ranti toh?”

Dengan penuh waspada, Ranti menoleh ke seseorang yang menyebut namanya. Laki-laki yang begitu dikenalnya, Rasyid. Bagaimana tidak, selain teman satu jurusan dan angkatan, ia adalah laki-laki yang begitu terkenal di kampusnya dulu di Jogja. Seorang anak laki-laki perantauan dari Ibu Kota, memiliki wajah tidak terlalu tampan tapi kharismatik.

Kelebihan-kelebihan yang dimiliki, membuatnya terpilih menjadi Ketua BEM di kampus. Rasa-rasanya tidak ada satu pun perempuan yang menolak bila diminta untuk menjadi kekasihnya. Sebelum Rasyid begitu terkenal di kampus, bahkan terkenal di kampus-kampus lain, sebelum kehadiran Rasyid menjadi ingar bagi cewek-cewek mahasiswa baru, sebenarnya Ranti sudah lebih dulu mengaguminya. Saat Rasyid masih belum mengenal Jogja, saat Rasyid masih harus beradaptasi dengan kota orang. Saat itulah Rasyid ditolong oleh gadis kampung asli Bantul untuk mengenal Jogja.

Masa-masa itu, membuat Ranti jatuh cinta pada Rasyid. Tapi tampaknya Rasyid tidak pernah memiliki rasa yang sama seperti Ranti. Ranti pun tidak ingin merusak kedekatan pertemanannya dengan Rasyid sampai kedekatan mereka perlahan pudar seiring kesibukan-kesibukan Rasyid di organisasi kampus.

Rasyid sudah beradaptasi dengan lingkungan barunya, teman-temannya semakin bertambah. bahkan kenalannya bukan hanya dari dalam kampus, melainkan luar kampus. Rasyid adalah sosok yang begitu diandalkan saat itu. Tokoh penting di organisasi. Sampai hari kelulusan pun, mereka sudah tidak lagi ada kesempatan untuk bicara satu sama lain.

Hari ini, setelah 7 tahun berlalu namanya disebut lagi oleh laki-laki yang pernah menggetarkan hatinya. “Rasyid?”

Rasyid masih sama seperti dulu. Hanya saja tubuhnya tidak sekerempeng dulu, sekarang lebih berisi dan membuatnya menjadi lebih berkharisma. Cahaya-cahaya kemilau seperti bertebaran di sekelilingnya. Ia mengenakan kemeja dan celana bahan serta ransel kerja yang ia peluk di dadanya.

Dulu Rasyid tidak mengenakan kacamata, tapi kini ia mengenakannya. “Ga nyangka aku ketemu kamu di sini, Ran.”

“Aku juga engga sangka.” Timpal Ranti kikuk.

“Ya, aku kan memang asli sini. Jadi sekarang kamu yang merantau, Ran? Sudah berapa lama?”

Ranti tersenyum kecil. “Sejak setelah dapet ijazah, Syid.”

“Wah lama juga Ran, kenapa engga hubungi aku? Kan aku bisa bales kebaikan kamu dulu kayak waktu aku pertama kali pindah ke Jogja.”

Ranti hanya tersenyum, agak sinis. Bukankah Rasyid yang melupakannya? Rasyid yang melupakan teman pertamanya. “Eiya, kamu ke Benhil juga?” tanya Rasyid.

“Iya, Syid.”

“Kos di Setiabudi?”

“Iya.”

“Rumahku di daerah situ, Ran. Kita bisa sering ketemu kalau begitu.”

Mendengar kalimat itu seperti terhempas angin segar yang melantahkan rasa sepi selama ini. Memang kalimat itu ternyata bukan sekedar kalimat. Ujaran Rasyid bukan hanya kibul belaka. Setiap akhir pekan banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Bunga-bunga cinta yang sempat layu mulai mekar lagi.

Ranti menjadi lebih sering melihat gawainya untuk sekedar mengecek apakah ada pesan dari Rasyid. Di umur mereka yang sudah menginjak seperempat abad lebih, pertemanan mereka tidak lagi seperti saat masih kuliah dulu. Rasyid memberikan perhatian lebih kepada Ranti sehingga Ranti tidak lagi menyalahkan nama yang diberikan Simboknya.

“Ran, kamu tahu ga sih?” tanya Rasyid di tengah-tengah obrolan mereka di sebuah kafe sekitar Menteng. Tidak begitu ramai, cocok untuk mengobrol santai.

“Apa itu Syid?”

“Aku tuh seneng banget ketemu kamu lagi.”

“Aku juga, Syid.”

“Oh ya, dulu tuh aku pernah suka sama kamu.”

Deg. Debar jantung Ranti menjadi tidak beraturan. Napasnya seperti tersenggal-senggal. Udara yang keluar dari hidungnya terasa dingin. Namun ia tetap memasang wajah santai. Ia mempersilakan Rasyid untuk meneruskan ucapannya. “Tapi aku takut kamu ngga suka balik sama aku Ran, makanya aku memutuskan untuk aktif di organisasi kemahasiswaan biar engga mikirin kamu terus.”

Ranti hanya tertawa, lucu sekali menurutnya. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Hanya saja nahas sekali nasibnya. Cinta yang saling bertepuk itu, memilih jalan yang ia tidak ridhoi.

Mengetahui kebenaran yang begitu menyenangkan, membuat kepala Ranti penuh dengan nama Rasyid. Selama ini mereka tidak pernah bertukar media sosial, membuat Ranti menjadi penasaran aktivitas-aktivitas Rasyid selama ini. Ranti pun mencari tahu media sosial Rasyid.

Rasa senang itu tidak berlangsung lama ternyata. Ranti mendapati Rasyid tidak lagi sendiri. Sudah cukup lama hubungan mereka kalau dilihat dari foto-foto yang diunggahnya. Baru saja hatinya menjadi utuh, sudah kembali patah. Handphonenya berbunyi.

Ini Ranti, ya? Ini Fenti tunangannya Rasyid. Sebentar lagi kita akan menikah, jadi tolong jangan temuin Rasyid lagi, ya.

Pesan itu ia dapat dari nomor Rasyid sendiri. Mungkin hubungan pertemanan mereka sudah diketahui perempuan yang ada di media sosial Rasyid. Ranti merasa seperti perusak hubungan temannya sendiri. Hatinya semakin patah. Ia tidak tahu lagi lem seperti apa yang harus ia beli untuk bisa merekatkan kembali supaya utuh.

Tidak ada pilihan selain memblokir nomor Rasyid. Ia tidak mau merusak hubungan Rasyid dengan tunangannya. Ia tidak mau menjadi perempuan salah, sendiri mungkin lebih baik ketimbang merusak hubungan seseorang. Apalagi orang itu adalah temannya. Teman lama sudah lama tidak tahu kabarnya, kini bertemu, dan harus kembali jauh.

Ranti menghilang. Rasyid mencari Ranti kemana-mana. Jangankan kostnya, kantornya pun tidak mengetahui kabar Ranti. Fenti hanyalah mantan kekasihnya yang belum juga sadar kalau ia hanyalah seorang mantan. Mantan yang begitu posesif. Media sosial Rasyid pun dikendalikan olehnya. Passwordnya diganti, sehingga Rasyid tidak bisa apa-apa lagi.

Kebetulan malam itu mereka bertemu, Rasyid ingin meluruskan hubungannya dengan mantannya itu. Sekedar mengingatkan kalau mereka sudah bukan apa-apa lagi. Ia sudah kembali menemukan cinta monyetnya dulu yang kini bukan sekedar cinta monyet lagi. Entah keteledoran apa yang Rasyid lakukan, ia pun kecolongan oleh Fenti sehingga Fenti berhasil mengirim pesan kebohongan ke Ranti.

Sejak itu, Ranti menghilang.

Rasyid pergi ke Bantul, berharap Ranti belum pindah rumahnya. Namun harapannya tidak dikabulkan Sang Pencipta. Bahkan bentuk jalannya pun Rasyid sudah tidak begitu mengenali. Ranti dan keluarga sudah tidak lagi tinggal di Bantul.

Rasyid kehilangan Ranti. Sekembalinya ke Jakarta, ia bertekad untuk menunggu Ranti. Siapa yang tahu mereka bisa bertemu tanpa terduga, entah di halte setelah hujan, entah di Kota Tua, atau di stasiun kereta.

Belasan tahun itu yang dilakukan Rasyid. Ia memutuskan untuk kembali ke Jogja, pergi ke kampusnya dulu. Tempat yang pernah membanggakan dirinya. Usianya sudah tidak lagi muda, rambutnya sudah beruban, tapi kharismanya tetap terpancar. Ia berdiri di depan lapangan kampus, tempatnya dulu berorasi saat pemilihan ketua BEM. Melihat sekeliling, kilas balik masa-masa ia dan Ranti begitu dekat. Masa-masa ia belajar dialek Jawa yang medok lalu tertawa terbahak.

“Rasyid?” suara yang begitu dikenali terdengar memanggil.

Rasyid berbalik tanpa mau kehilangan seper sekian detiknya. “Ranti.”

“Ya ampun, engga sangka kita bertemu di sini. Kamu apa kabar?”

“Baik Ran. Kamu sedang apa di sini?”

“Oh. Aku jadi dosen di sini Syid.”

Oh betapa pilu menyayat hati Rasyid. Kenapa ia tidak menghampiri kampusnya saat ia mencari Ranti dulu. Rasyid lupa, saat di Jakarta Ranti juga sedang menyelesaikan S2nya di Salemba.

Semakin pilu saat melihat cincin melingkar di jari manis Ranti. Rasyid tahu ia tidak lagi memiliki harapan. Ia datang begitu terlambat. “Gimana kamu sama Fenti?”

“Baik, Ran.” Ia berbohong.

Tidak perlu waktu lama mereka untuk saling bicara. Mereka tidak ingin saling mengganggu. Rasyid pamit untuk kembali ke Jakarta, sementara Ranti duduk termenung di ruangannya. “Ternyata pernikahan kalian berjalan dengan baik, Syid. Bodoh sekali aku menunggu kamu sampai hari ini, berharap pernikahan kalian batal.”

Ranti melepas cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin yang pernah ia beli bersama Rasyid. Cincin pertemanan, bagi anak muda dulu itu mengikat hubungan pertemanan agar tidak terpisah. Tapi Rasyid sudah melupakan cincin itu. Wajar saja, berpuluh tahun sudah berlalu.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Meranti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.