MOMENTS

Kali ini aku akan menulis agak santai. Membahas pengalaman pribadi yang mungkin bagi sebagian orang tidak begitu menarik. Bukan gayaku juga sebenarnya melakukan hal ini – menceritakan kisah cinta yang tidak sepopuler Lesti Bilar. Tapi walaupun begitu, pasti akan ada pesan moral yang didapat, bukan? Ya, walaupun hanya sedikit.

Saat menulis ini, aku menimbang-nimbang dari tahun berapa aku harus memulai. Dan saat menimbang-nimbangnya, aku tersenyum dan sedikit terkekeh. Padahal itu adalah masa laluku sendiri. Betapa konyolnya aku saat-saat itu.

2008 – Cinta Pertama

Di saat teman-temanku sudah memiliki pacar atau setidaknya ada cowok yang ditaksir sejak SMP atau bahkan sejak SD, aku mulai jatuh cinta pada seorang laki-laki pada saat kelas 1 SMA. Dia adalah kakak kelasku. Orang Jogja berkulit sawo matang, rambutnya ikal, dan matanya sipit seperti Bi Rain.

Kalau diingat-ingat, aku yang saat SMA sangat culun mana bisa cintanya bersambut. Rok kepanjangan, kemeja sekolah kebesaran, tidak pernah pakai bedak, rambut juga disisir pagi saja. Dan benar saja, 3 tahun aku menyukai kakak kelas itu, aku selalu bertepuk sebelah tangan.

Tapi masa-masa itu sangatlah indah. Saat di mana aku merasakan jantungku berdegup begitu kencang saat dia lewat di hadapanku atau sebaliknya. Untunglah, aku tidak pernah punya keberanian  untuk mengungkapkan perasaanku sampai aku lupa dengannya begitu saja.

2012 – Kencan Pertama

Selama satu semester kuliah, aku fokus untuk beradaptasi dengan mata kuliah yang aku ambil. Murid IPA yang mengambil Akuntansi. Hal itu tentunya membuatku tidak kepikiran untuk cari kecengan atau teman dekat.

Namun semuanya berubah begitu cepat saat aku masuk semester dua. Aku ingat betul, kelas itu adalah mata kuliah bahasa inggris. Aku yang orangnya sangat disiplin, tentunya sudah tiba di kelas jauh sebelum dosen datang. Aku duduk di baris ke dua, lalu masuklah seorang laki-laki bertubuh tinggi, hidung mancung, kulitnya putih, fashionable (saat itu dia pakai jeans hitam, hoodie hitam, kaos putih dan sepatu nike).

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Brengsek sekali kalau diingat-ingat. Mataku tidak bisa lepas memandanginya seiring dia berjalan masuk ke dalam kelas. Dia duduk di seberang, tepat di sampingku. Parfum yang dia pakai saat itu AXE Cokelat. Emang bisa membuat bidadari lupa diri.

Aku begitu penasaran dengan laki-laki ganteng itu. Siapa namanya, angkatan berapa, rumahnya dimana, bisa tidak ya dia suka sama aku? Itulah yang aku pikirkan saat itu juga. Tapi saat aku bercermin di toilet, penampilanku tidak banyak berubah dari SMA. Celana jeans, kaos kedombrong, sepatu converse dan tas ransel. Tidak menarik.

Tapi teman, ternyata aku tidak sebegitu tidak menariknya. Beberapa kelas yang sama membuat kami menjadi saling kenal dan cukup dekat. Oh ya, dia pun anak basket di kampus. Kebayang kan, bagaimana kerennya? Aku mengatakannya bukan karena aku menyukainya, tapi memang dia sangat ganteng.

Suatu saat, ketika hubungan kami sudah semakin dekat, dia mengajakku jalan. Puncak adalah tempat kencan pertama kami.

Aku adalah gadis yang sederhana. Saat dia menanyai tempat atau café apa yang ingin aku kunjungi, aku memilih untuk makan indomie di pinggir jalan lalu jalan-jalan di kebun teh. Saat hendak menyeberang dari tempat parkir, aku sangat tidak menyangkanya.

Laki-laki keren, ganteng, yang jadi primadona senior maupun cewek-cewek seangkatan menggenggam tanganku tanpa permisi. Kakiku seperti tidak bertulang, lemas, tapi aku harus tetap menyeberang. Dia tersenyum, aku juga tersenyum. Benar-benar seperti drama korea comedy romance yang sering aku tonton.

Aku pikir dia akan melepas tanganku usai menyeberang. Ternyata tidak. Sepanjang menelusuri kebun teh, dia terus menggandeng tanganku. Kami bermain sangat seru, tertawa sampai kehujanan. Kami berteduh di tenda biru pemilik seorang Bapak penjual kopi dan pop mie. Tenda biru itu benar-benar ada di tengah-tengah kebun teh. Apakah kalian pernah melihatnya?

Kami banyak berkencan, tapi tidak pernah jadian. Selain karena orangtuaku tidak mengizinkanku untuk pacaran sebelum lulus kuliah, dia pun tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung. Hingga hubungan kami perlahan merenggang begitu saja.

2014 – Orang Yang Menyukaiku Sebegitunya Sampai Saat Ini

Part ini saya tulis jika kamu membaca tulisan saya. Terakhir mengaku sekitar hampir satu tahun lalu, katanya kamu masih suka membaca blog saya. Terima kasih, ya. Semua kontak kamu sudah saya blokir karena saya punya kehidupan baru yang ingin saya lanjutkan dengan tenang. Maaf ya.

Saya pernah menyukai kamu, begitu juga kamu. Saat itu kita sama-sama saling menyukai. Tapi karena pemikiran kamu yang tidak cocok dengan pemikiran saya, gaya hidup kamu yang sangat glamor, liberal, ambisius dan menurut saya kamu sangat drama. Akhirnya perasaan itu hilang, benar-benar hilang. Saya serius. Maaf itu adalah kata-kata yang tidak pernah sampai hati saya ucapkan langsung.

Kalau masih menyukai saya, terima kasih saya sangat mengapresiasi perasaan kamu. Tapi satu saran saya sebagai seorang teman. Masa itu sudah berlalu cukup lama, damailah dengan perasaanmu. Aku sudah memiliki kehidupan baru, kamu pun harus begitu. Sukses terus dan menjadi lebih baik lagi, ya! Minggu akhir di bulan Desember 2021, seperti yang sudah sering kali saya jawab ke kamu: Engga.

2016 – Cinta Yang Mendewasakan

Ini mungkin menjadi kisah cinta yang paling banyak orang tahu. Bahkan setelah kami berpisah cukup lama, orang-orang masih menanyai tentangnya kepadaku. Entah apakah dia merasakan hal yang sama.

Bagian ini mungkin menjadi cukup panjang karena kisah ini menjadi salah satu hal yang paling membahagiakan dan menyedihkan dalam hidupku.

Masih ingat betul pertama kali aku bertemu dengannya. Saat itu aku adalah karyawan baru di sebuah Perusahaan. Aku keliling dari bilik satu ke bilik lainnya untuk berkenalan dengan karyawan-karyawan  yang lain.

Di bilik ke 2 dari bilik tempatku duduk, ada seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkacamata, kulitnya hitam manis, mengambarkan kesan orang Jawa tulen. Aku masih ingat warna baju yang dia kenakan saat itu, baju warna pink dan celana bahan hitam. Gayanya sedikit congkak terhadap anak baru. Saat itu aku berpikir dia sudah menikah karena wajahnya yang cukup dewasa.

Tiga hari menjadi anak baru, aku langsung dinas ke Pekanbaru. Aku bersama rekan kerjaku ngekos di kos-kosan karyawan di Pekanbaru. Beberapa hari kami ngekos, laki-laki Jawa yang congkak itu datang bersama rekan kerjanya. Ya, dia kebagian dinas juga di Pekanbaru. Hal tersebut membuat kami mau tidak mau kemana-kemana selalu berempat. Di sini aku tahu kalau dia belum menikah.

Saat ada waktu luang, kami selalu bermain bersama. Entah ke mall, ke wisata alam, museum, dan makan bareng yang tak terhitung. Hal itu membuat aku dan dia menjadi dekat. Dekat sebagai teman, tentunya. Aku tidak jatuh cinta secepat itu padanya.

Namun saat aku ada di Kisaran, Sumatera Utara sementara dia di Jakarta dan semenjak kepulanganku dari Pekanbaru kami belum bertemu lagi. Aku merasakan rindu kepadanya. Perasaan yang sangat aneh. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirimkan pesan singkat kepadanya, melalui Office Communication. Tidak aku sangka, dia chat aku di whatsapp setelahnya.

Aku semakin yakin kalau aku sudah jatuh cinta padanya. Pada laki-laki Jawa yang wajahnya judes dan congkak. Tapi lama-lama, manis juga pikirku saat itu. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Dia pernah mengungkapkan padaku bahwa sejak pertama melihatku, dia sudah berpikir kalau aku manis. Ya, kami pun jadian.

Aku sangat bahagia saat itu, dia benar-benar tipe pria idealku. Memiliki fisik tinggi, tegas, pendiriannya kuat, dan yang terpenting adalah suka membaca buku. Beberapa bulan kami sangat bahagia, dan aku pun merasakan kasih sayang yang sangat penuh darinya. Kami tidak pernah bertengkar, dan dia selalu sabar terhadapku.

Hingga suatu hari tiba-tiba sikapnya berubah drastis setelah kepulangannya dari kampung halamannya. Aku bingung, sangat bingung. Tidak mengerti karena setiap ditanya dia malah bersikap dingin. Aku seperti berada di tengah-tengah ombak, terombang ambing lemas, tergantung begitu saja.

Aku terus berusaha mendapatkan kejelasan. Dia yang seperti hilang begitu saja, akhirnya memutuskan untuk berani menemuiku. Di hari itu juga, dia mengatakan padaku bahwa hubungan kami harus berakhir karena hubungan kami tidak mungkin terjadi, hubungan kami tidak memiliki masa depan.

Di tempat makan itu, aku tidak dapat menahan air mataku. Aku lihat matanya pun berlinang, seperti menahan tangis. Perpisahan ini sangat menyedihkan. Aku masih belum mengerti apa alasan dari hubungan kami tidak memiliki masa depan. Dengan sekuat hati, aku bertanya. “Alasannya apa?” suaraku bergetar diiringi isak tangis.

Suatu hal yang tidak pernah aku sangka pernah terjadi di dalam hidupku. Ibunya tidak menyetujui hubungan kami karena kami berbeda suku. Hatiku terbelah karena menerima kenyataan bahwa dirinya tidak menyakitiku sedikit pun, tapi kenyataan yang seperti jalan buntu itu begitu merobek hatiku.

Berat badanku turun 5 kilo dalam seminggu. Aku begitu frustasi, sedih, sampai orangtuaku menyadarinya. Aku tidak memberitahu apa alasannya karena kalau orangtuaku tahu, tidak hanya aku yang merasa sakit hati. Aku menyimpannya seorang diri, menangis seorang diri, dan tidak bisa move on seorang diri.

Tiga bulan berlalu, aku mencari cara untuk keluar dari kesedihan ini. Bersama sahabatku, kami mencoba mengalihkan kesedihanku dengan bermain gamelan dan masuk ke sebuah komunitas. Tidak sengaja saat itu sahabatku yang juga suka membaca, melihat iklan sumbangan buku. Dengan semangat, kami pun menyumbangkan buku baru yang kami beli.

Baginya dan bagi sebagian orang mungkin ini semua direkayasa dan penuh kesengajaan. Tapi memang istilah “dunia sempit” saat itu berlaku untuk kami. Setelah kami bergabung di komunitas itu, aku baru mengetahui kalau dia ada di komunitas itu.

Saat itu juga, hampir ada satu orang laki-laki yang juga adalah teman baiknya mengungkapkan perasaannya padaku. Laki-laki itu satu genk dengan kami di kantor lama kami. Setelah tahu aku sudah putus dengannya, laki-laki itu meminta kesempatan sampai hatiku bisa beralih padanya. Dia berjanji, tahun depan akan melamarku.

Aku menerima tawarannya, namun tidak menjanjikan kalau aku akan cepat menerima perasaannya. Hingga satu bulan kemudian, dia—mantanku menyatakan perasaannya juga. Ia mengungkapkan perasaannya, bahwa dia belum bisa melupakanku dan ingin kami memperbaiki semuanya.

Aku melepaskan laki-laki yang siap melamarku tahun depan (2018), dan menerima kembali laki-laki yang sudah menjadi mantanku. Namun pada akhirnya, hubungan kami tetap tidak dapat berlanjut. Namun kali ini, aku lah yang mengakhiri hubungan kami. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami karena Ibunya sulit diluluhkan hatinya, dan dia yang aku anggap tegas ternyata tidak tegas terhadap diriku. Sementara itu, laki-laki yang siap melamarku akhirnya melamar gadis lain di tahun 2018. Begitulah hidup.

Dari kisahku dengannya, aku merasa menjadi sangat dewasa dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan hanya karena menyukai suatu hal. Kisah ini tetap sangat membahagiakan dan sangat memilukan kalau diingat-ingat.

2020 – Jodohku

Saat memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya, saat itu juga aku sudah melupakannya. Walau pernah beberapa bulan setelah putus, dia kembali menghubungiku dan berkata kalau dia masih belum melupakanku. Tapi hal tersebut tidak lagi menggoyahkan pendirianku. Aku benar-benar sudah move on. Namun sayang seribu sayang, tidak sedikit teman-temannya yang juga temanku yang masih saja memberikan informasi tentangnya.

Hingga di tahun 2019 akhir, aku bertemu dengan seseorang. Kami berteman hingga tahun 2020, lalu dia menyatakan perasaannya padaku. Aku yang pernah memiliki pengalaman pahit mengenai perbedaan suku, memintanya untuk izin kepada kedua orangtuanya dulu. Ternyata orangtuanya tidak ada masalah sama sekali walaupun kami berbeda suku.

Sebulan kemudian, keluarganya datang ke rumahku untuk berkenalan dengan keluargaku. Bulan April keluarganya datang kembali untuk melamarku dan bulan Juni kami menikah. Sebulan kemudian, kami mendapatkan kabar akan kehadiran buah hati kami. Begitulah jodoh. Tidak banyak drama dan tidak perlu lama-lama.

Teruntuk kisah-kisahku sebelum tahun 2020, aku benar-benar sudah selesai dengan kalian. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini semoga begitu juga dengan kalian. Hatiku sudah berdamai dengan kalian semua, semoga kalian pun begitu. Jika suatu hari nanti kita tidak sengaja bertemu, sapalah aku sebagai teman lama. Terima kasih atas kenangannya.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.