Muadzin Kampung Rawa Belong

Sore itu langit kelabu mengeluarkan air dengan begitu derasnya ditemani dengan kilatan-kilatan yang bisa saja menyambar pohon kelapa di pinggir jalan. Orang-orang masuk ke dalam rumah bilik masing-masing. Bahkan anak-anak yang seringnya senang bermain hujan tidak ada yang keluar satu pun. Khawatir tersambar petir.

Suara riuh domba dan ayam yang berkokok tiap kali suara petir menggema terdengar sayup di tengah derasnya hujan.

Sepuluh meter dari jalan setapak, ada rumah seorang pemilik kebun kelapa sawit yang sukses. Pak Marsani namanya. Ia memiliki kebun kelapa berhektar-hektar untuk dijual ke Pabrik Minyak. Untuk menuju ke rumahnya, harus melewati jalan panjang dari gerbang bambu tinggi. Ia adalah orang yang disegani di kampung karena Pak Marsani suka menolong warga-warga sekitar yang rata-rata berpenghasilan rendah.

Namun di balik itu, orang-orang kampung juga tahu bahwa Pak Marsani suka sekali menyiksa anak lak-laki pembantunya. Setiap hujan deras datang seperti sekarang ini, kerap kali Pak Marsani menyuruhnya menggali tanah untuk dijadikan sumur. Ia jadikan sumur itu sebagai tempat penyimpanan air ketika musim kemarau tiba.

Tidak hanya menyuruhnya, Pak Marsani kadang menyiksa anak laki-laki pembantunya dengan cambuk kalau anak laki-laki pembantunya itu ketahuan berhenti melakukan pekerjaannya.

Ia adalah Burhan. Anak laki-laki dari Mak Rijot, wanita tua yang sudah berpuluh tahun bekerja sebagai pembantu di rumah Pak Marsani.

Kulit badan Burhan terasa perih karena air hujan. Bagaimana tidak, di punggungnya terdapat luka sayat dari cambukan. Warga sekitar banyak yang mengetahui hal itu namun hanya bisa untuk berpura-pura tidak tahu. Khawatir kalau mereka menegur Pak Marsani, tidak ada bbantuan yang datang untuk mengebulkan dapur mereka.

Pak Marsani terkenal sangat menyukai emas. Tidak ada yang tidak tahu kalau Pak Marsani menyimpan begitu banyak emas batangan di sebuah ruangan di rumahnya.

Sore itu juga, di tengah derasnya hujan dan petir yang menyambar-nyambar, seorang laki-laki muda berusia 30 tahunan datang menemui Pak Marsani. Matanya tidak lepas dari Burhan yang tengah mencangkul tanah dengan badan menggigil.

“Saya ingin membeli anak itu.”

“Dengan apa kamu akan membeli anak itu?” tanya Pak Marsani dengan angkuh.

“Emas batang yang kamu sukai.”

Mendengar emas batang terlontar dari mulut seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkulit putih itu, Pak Marsani begitu tergiur. “Ternyata kamu sangat mengenalku.”

“Berapa harga yang kau tawarkan?”

“Siapa kamu? Bisakah membayarku dengan banyak?” tanya Pak Marsani meyakinkan. Ia tahu tidak ada yang mampu selain dirinya di kampung.

“Bagaimana dengan 5 batang emas?”

Mendengarnya, Pak Marsani malah merasa tersinggung. Bagaimana bisa Burhan—anak laki-laki miskin bertubuh kurus dan hitam karena sering terkena terik matahari siang bolong dihargai begitu mahal. “Bagaimana dengan 7?” tanya Pak Marsani mengetes lawan bicaranya.

“Aku Hamka akan memenuhi permintaanmu.”

Mendengar keingiannya dikabulkan, membuat Pak Marsani semakin merasa tersinggung. Hujan semakin deras membuat nada bicara mereka semakin tinggi. “Kenapa kamu rela membeli babu seperti dia dengan harga mahal?”

“Aku dengar si Burhan ini pandai sekali mengaji. Suaranya pun sangat merdu ketika adzan.”

“Hanya karena itu?”

“Tidak. Kalau saya sudah membelinya, saya akan menitipkannya kepada Ustadz Marco.”

Pak Marsani semakin naik pitam dibuatnya. Burhan berhenti melakukan aktivitasnya. Ia merasa begitu tersanjung. “Ustadz Marco guru ngaji di kampung ini? Cih! Ustadz angkuh, satu-satunya orang yang tidak menerima bantuanku. Akan aku jual dia dengan harga 1 batang emas, sungguh si Burhan itu tidak ada harganya.”

“Sungguh aku akan membayarmu sebanyak 10 batang emas.”

Kecintaannya terhadap emas batangan mengalahkan rasa gengsinya.

Di tangan Hamka, Burhan dan Ibu tercintanya bebas dari jeratan Pak Marsani. Konon dahulu kakek buyut Burhan ditolong oleh kakek Pak Marsani. Sejak itu, kakek buyut Burhan berjanji akan mengabdi sebanyak 7 turunan.

Kini lepas sudah ikatan itu, Hamka seorang konglomerat dari kampung sebelah telah membebaskan Burhan dan membawa Burhan ke Ustadz Marco—sahabat sekaligus gurunya.

Bersama Ustadz Marco, Burhan dipekerjakan sebagai marbot masjid. Upahnya sangat cukup untuk menghidupi dirinya dan Mak Rijot. Marco pun diberikan tempat tinggal di dekat masjid oleh Ustadz Marco.

Hidupnya kini tetap sederhana namun serba cukup. Bersama Ustadz Marco, Burhan kapan saja dapat mengaji. Berbeda saat bersama Pak Marsani, ia harus mengumpat-ngumpat agar bisa datang ke masjid.

Berpuluh tahun Burhan mengikuti Ustadz Marco. Orang-orang menjulukinya muadzin Kampung Rawa Belong. Hal tersebut dikarenakan Ustadz Marco seorang ulama di sana. Dahulu kala, masjid tidak banyak. Biasanya satu kampung punya satu masjid sehingga ketika bulan Ramadhan, banyak warga yang tarawih di sana.

Mengalir begitu saja, kini Burhan sering mengajar mensyiarkan agama dan mengajar ngaji. Kini ia menjadi murid sekaligus sahabat Ustadz Marco. Ia begitu menyayangi Ustadz Marco, apalagi setelah mengetahui bahwa Ustadz Marco lah yang meminta Hamka untuk membelinya. Hanya Ustadz Marco yang berani melakukan itu tanpa takut tidak mendapatkan bantuan dari Pak Marsani.

Sekiranya Burhan berusia cukup untuk menikah, Ustadz Marco pun memperkenalkannya dengan anak dari sepupunya. Menikahlah mereka. Lengkap sudah kebahagiaan Burhan.

Namun tidak lama kemudian, seperti tersambar petir di siang bolong, Burhan mendapat kabar duka dari guru sekaligus sahabatnya—Ustadz Marco meninggal dunia.

Kepergian Ustadz Marco sangat memukul dirinya. Burhan begitu sedih. Setiap kali melihat masjid, ia mengingat Ustadz Marco. Setiap kali adzan, ia teringat Ustadz Marco. Burhan pun memutuskan untuk pindah ke kampung sebelah tempat Hamka berada.

***

Bertahun-tahun Burhan tinggal di kampung sebelah. Perlahan ia mulai bisa menata kembali hatinya yang sedih hingga sampai suatu hari Hamka si pembawa kabar mendatangi rumahnya. “Ada apa Pak Hamka datang ke rumahku?”

“Kemarin saya pergi ke Kampung Rawa Belong. Mampirlah sesekali ke sana. Warga di sana sangat merindukan suara adzanmu.”

“Maaf Pak, saya tidak bisa. Kalau saya pergi ke sana saya akan mengingat Ustadz Marco.”

“Setidaknya, kunjungilah makam Ustadz Marco. Tanpanya, kamu mungkin masih hidup dalam kekangan Pak Marsani.”

Kata-kata Pak Hamka terus terngiang-ngiang sehingga Burhan pun memutuskan untuk mampir ke Kampung Rawa Belong untuk berziarah ke makam Ustadz Marco.

***

Siang menuju sore mendekati waktu ashar, Burhan dan istrinya tiba di Kampung Rawa Belong. Sebelum menuju makam Ustadz Marco, Burhan mampir terlebih dahulu ke masjid tempat dia bekerja dulu sebagai seorang marbot.

Waktu ashar tiba, istrinya berbisik, “Adzanlah, dulu saat Ustadz Marco masih hidup kamu tidak pernah absen adzan.”

Dengan sangat berat, Burhan pun berwudhu kemudian adzan.

“Allahu akbar Allahu akbar..

Allahu akbar Allahu akbar..

Asyhadu an laa ilaaha illa Allah…”

Para warga Kampung Rawa Belong yang begitu hapal dengan suara Burhan langsung bergegas menuju masjid. Mereka begitu merindukan suasana panggilan solat dari mulut Burhan.

Suara adzan semakin terdengar parau. Burhan tidak dapat menyelesaikan adzannya. Ia begitu merindukan guru sekaligus sahabatnya. Saking sedihnya, Burhan pun pingsan saat mengumandangkan suara adzan. Sungguh para warga yang menyaksikannya dibuat begitu sedih olehnya.

Itu adalah adzan terakhir Burhan di Kampung Rawa Belong. Setelah berziarah ke makam guru sekaligus sahabatnya itu, Burhan tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Kampung yang membesarkannya.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

2 thoughts on “Muadzin Kampung Rawa Belong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.