Mush’ab bin ‘Umair: Duta Islam yang Pertama

“Kewajiban kita hanyalah menyampaikan.” Kalimat itulah yang paling aku ingat dari kisah Mush’ab bin ‘Umair. Kalimat yang disampaikan oleh Rasulullah kepada Mush’ab ketika Mush’ab ditugaskan untuk berdakwah mengajarkan agama Islam di Madinah dimana saat itu tidak ada penduduk Madinah yang memeluk agama Islam kecuali dua belas orang sebelumnya yang telah membai’at Rasulullah dalam Ba’iat ‘Aqabah.

Benar, Islam itu memang sangatlah indah. Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam. Betapa indahnya Islam. Bagaimana dengan kita? Apakah ketika kita mendakwahkan teman kita sudah melakukan dengan cara yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabat? Barangkali untuk mengajak teman memeluk agama Islam masih jarang terjadi, namun mengajak teman sesame muslim untuk hijrah menjadi pribadi yang lebih baik dan mengenal agama sudah sering kita lakukan.

Lalu aku akan mengulang pertanyaanku sebelumnya, apakah kita sudah melakukan cara yang benar? Cara yang dicontohkan oleh Rasulullah sebagaimana Mush’ab meneladaninya. Sungguh kawan, keresahanku saat ini ketika sesama umat muslim malah saling membenci karena ada yang merasa sudah paling benar dalam hidupnya karena lebih dulu tahu, lebih dulu belajar agama. Kemudian ia menyampaikan kepada temannya yang belum berhijrah atau hendak berhijrah namun terkaget-kaget dengan apa yang terlontar sehingga pada akhirnya yang belajar lebih dulu merasa dia, dia, dia salah sementara dirinya benar. Dan temannya itu malah memiliki pandangan yang sinis tentang orang-orang yang sedang belajar agama.

Kewajiban kita hanyalah menyampaikan. Seperti kisah Mush’ab yangs sangat berhasil dalam mengajak para penduduk Madinah untuk bertuhan hanya kepada Allah.

Masih dengan kisah Mush’ab bin ‘Umair. Setelah ia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya, meninggalkan segala kesenangan yang melimpah yang selama ini ia dapatkan, saat itulah Rasulullah menunjuk Mush’ab untuk mengemban tugas yang paling berat saat itu. Ia menjadi duta ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada kaum Anshar yang telah beriman dan berbai’at kepada Rasulullah di Bukit Aqabah, mengajak selain mereka untuk masuk Islam, serta menyiapkan Madinah untuk menyambut hijrah yang agung.

Mush’ab mengemban amanah dalam menentukan masa depan Islam di Madinah yang tidak lama kemudian menjadi titik pusat dakwah dan para da’i dengan berbekal kecerdasan pikiran dan akhlak mulia yang dikaruniakan Allah kepadanya. Hati para penduduk Madinah sangat terkesan dengan sifat zuhud, keluhuran, dan ketulusan Mush’ab hingga mereka pun berbondong-bondong masuk Islam.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, ketika Rasulullah mengutus Mush’ab untuk datang ke Madinah, tidak ada penduduk Madinah yang memeluk agama Islam kecuali dua belas orang sebelumnya yang telah membai’at Rasulullah dalam Ba’iat ‘Aqabah. Namun hanya dengan beberapa bulan Mush’ab berada di tengah-tengah para penduduk Madinah, banyak dari mereka yang bersedia untuk memeluk agama Islam.

Keberhasilannya itu tentulah tidak lain karena kesungguhan Mush’ab dalam mengemban amanah yang ditujukan kepadanya. Mush’ab benar-benar paham dengan misi yang ia bawa dan memperhatikan batasan-batasannya. Ia tahu bahwa dirinya adalah penyeru kepada Allah dan pembawa kabar agama Allah yang mengajak manusia untuk menjemput hidayah. Ia pun paham bahwasanya ia tidak memiliki kewajiban selain menyampaikan sebagaimana Rasulullah yang ia teladani.

Di Madinah, Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zararah. Ia bersama As’ad mendatangi kabilah-kabilah, rumah-rumah penduduk, majelis-majelis dan membacakan ayat-ayat Al-Quran kepada para penduduk Madinah. Namun tidak selamanya ketika mengemban tugas, mulus-mulus saja. Mush’ab pernah menghadapi keadaan yang mengancam keselamatan dirinya.

Suatu hari ketika sedang menyampaikan nasihat kepada para penduduk Madinah, datanglah Usaid bin Hudhair, tokoh Bani Asyhal di Madinah dengan menghunus tobak. Usaid sangat marah kepada Mush’ab karena menurutnya Mush’ab datang merusak agama kaumnya, mengajak mereka untuk meninggalkan Tuhan mereka dan menceritakan tentang Allah – Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka ketahui dan kenal sebelumnya.

Menurut suku Bani Asyahl, Tuhan-tuhan yang selama ini mereka sembah diketahui keberadaannya. Ketika mereka membutuhkan Tuhan mereka, mereka dapat menemukan keberadaan Tuhan mereka dengan sangat mudah sementara Tuhan yang sedang Mush’ab dakwahkan tidak diketahui keberadaannya karena mereka tidak dapat mengetahui tempat-Nya dan tidak dapat melihat-Nya.

Ketika Usaid datang dengan kemurkaan yang mengerikan, orang-orang di majelis yang sedang berkumpul bersama Mush’ab khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap Mush’ab. Namun Mush’ab tetap tenang dan tidak ada sedikit pun gentar dari dalam dirinya. Dengan sangat marah, Usaid berkata kepada Mush’ab dan As’ad, “Untuk apa kalian datang ke desa kami? Apakah kalian ingin membodohi orang-orang lemah dari kami? Pergilah dari desa kami kalau tidak ingin kehilangan nyawa kalian!”

Namun dengan kebijaksanaan dan ketenangan yang terpancar dari diri Mush’ab, Mush’ab menjawab lontaran kalimat Usaid, “Tidakkah Anda mau duduk dan mendengarkan dulu? Sekiranya Anda senang dengan yang kami bawa, Anda dapat menerimanya. Namun, jika Anda tidak suka, kami akan menghentikan apa yang Anda tidak sukai.”

Usaid bukanlah orang bodoh. Ia mengerti bahwasanya Mush’ab hanya ingin mengajaknya dialog sehingga Usaid pun memberikan kesempatan kepada Mush’ab. Mush’ab pun membacakan ayat-ayat Allah di depan Usaid, dan ia menyampaikan maksud dari dakwah Nabi Muhammad. Usaid begitu tenggelam dengan lantunan-lantunan ayat yang dibacakan oleh Mush’ab, kalimat-kalimat Allah begitu meresap ke dalam hatinya. “Alangkah bagus dan benar ucapan itu. Apa yang harus dilakukan oleh orang yang ingin memeluk agama ini?”

MasyaAllah.. Usaid telah menjemput hidayahnya. Mush’ab menjawab, “Segera sucikan pakaian dan tubuhmu lalu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.” Usaid pun meninggalkan mereka untuk bersuci dan kembali untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Berita keislaman Usaid tersebar begitu cepat hingga terdengar sampai telinga Sa’ad bin Mu’adz. Sa’ad pun mendatangi Mush’ab untuk mendengarkan uraian Mush’ab. Setelah mendengarkan dan merasa puas, Sa’ad pun memutuskan untuk memeluk agama Islam. Setelah Sa’ad, kemudian Sa’d bin ‘Ubadah. Dengan keislaman mereka bertiga, selesailah persoalan dengan berbagai suku di Madinah. Para penduduk Madinah pun berbondong-bondong mendatangi Mush’ab untuk beriman kepada Allah.

Kawanku, apabila kita sudah lebih dulu menjemput hidayah sehingga kita pun dalam proses hijrah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, mengenal agama lebih dalam, mengetahui mana saja yang memang diperintah oleh Allah dan mana yang dilarang oleh Allah sementara kawan kita belum sampai sana, kita memang berkewajiban untuk menyampaikan apa yang sudah kita ketahui lebih dulu. Namun sekali lagi, ingatlah bagaimana Rasulullah dulu berdakwah menyampaikan agama Allah. Kita ini tidak memiliki kewajiban selain menyampaikan.

Alangkah disayangkan, apabila kawan-kawan kita yang sebenarnya ingin seperti kita—menjemput hidayah, namun karena cara kita yang terlewat batas dalam mengajak membuat kawan kita mengurungkan diri. Lebih disayangkan, apabila kita merasa paling benar dan merasa dia paling salah. Sungguh sangat disayangkan, karena hal tersebut kita menjadi Islam yang berkubu. Bukankah tujuan utama kita adalah menuju jannah bersama?

Contohlah Mush’ab, contohlah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam, Nabi kita.

Penjelasan:

Ba’iat Aqabah adalah perjanjian Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan 12 orang di Yastrib yang kemudian mereka memeluk Islam. Bai’at Aqabah ini terjadi pada tahun ke dua belas kenabiannya. Kemudian mereka berba’iat (bersumpah setia) kepada Muhammad. Isi bai’at itu ada tiga perkara:

– Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun
– Melaksanakan apa yang Allah perintahkan
– Meninggalkan apa yang Allah larang

Sumber Penjelasan: Wikipedia

Sebelumnya: Mush’ab bin ‘Umair: Pemuda Quraisy yang Berani

Selanjutnya: Mush’ab bin Umair: Mahkota Para Syuhada

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.