Mush’ab bin Umair: Mahkota Para Syuhada

Apalah arti sebuah kisah tanpa adanya hikmah. Rasanya, kisah dari Mush’ab ini sangatlah sarat akan hikmah. Ketika mendengar nama Mush’ab, yang ada di benak kita pastinya adalah tentang perjuangan dan pengorbanan dalam melindungi tauhid—kalimat dakwah pertama yang disampaikan kepada umat manusia oleh Rasulullah, yaitu ajakan mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengakui dirinya sebagai utusan Allah.

Demi kalimat tauhid ini pula dan demi ketauhidan yang tertanam di dalam jiwa serta keimanan seorang Mush’ab, ia rela mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah. Sebuah pengorbanan dan kematian yang indah. Yang membuat tidak satu orang pun seorang muslim dengan tauhid yang tertanam di dalam dirinya, tidak iri dengan perjalanan hidup Mush’ab sampai akhir hayatnya…

Keberhasilan Mush’ab dalam mengajarkan agama Islam di Madinah, tentu saja membuat para kaum musyrikin Quraisy begitu dengki. Rasulullah dan para sahabat hijrah ke Madinah. Saat itu pula kaum musyrikin Quraisy mulai mempersiapkan rencana batil.

Terjadilah Perang Uhud. Kaum Muslimin mempersiapkan diri mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah-tengah barisan kaum Muslimin, menatap setiap wajah orang beriman untuk memilih di antara mereka yang berhak membawa bendera Islam. Terpilihlah Mush’ab untuk membawa panji kaum Muslimin.

Pertempuran terjadi dan sangat sengit. Namun, sangat disayangkan para pasukan panah melanggar perintah Rasulullah dan meninggalkan posisi mereka di atas bukit karena melihat kaum musyrikin mundur dengan kekalahan. Kemenangan kaum muslimin berubah menjadi kekalahan. Pasukan kaum muslimin dikejutkan oleh serangkan balik pasukan berkuda Quraisy yang mengepung dari atas bukit dan secara mendadak. Mereka menyerang pasukan kaum muslimin yang saat itu dalam keadaan lengah.

Ketika musuh melihat ketakutan memporak-porandakan barisan perang pasukan kaum muslimin, mereka memusatkan serangan untuk membunuh Rasulullah. Mush’ab menyadari akan hal itu. Ia pun kemudian mengangkat bendera tinggi-tinggi dan mengumandangkan takbir dengan begitu menggema. Ia segera menghadapi musuh dengan tiada ampun. Hal tersebut bertujuan agar musuh menaruh perhatian kepadanya dan meninggalkan Rasulullah.

Meskipun Mush’ab bertempur seorang diri, namun ia tampak seperti pasukan yang besar. Sebelah tangannya memegang bendera, sementara tangan satunya menebaskan pedang dengan gagah berani. Namun, semakin lama musuh semakin banyak.

Ibnu Sa’d menuturkan bahwa Ibrahim bin Muhammad bin Syarahil al-‘Abdari menceritakan dari Ayahnya. Ia berkata, “Dalam Perang Uhud, Mush’ab bin ‘Umair tampil membawa bendera. Ketika barisan kaum Muslimin kocar-kacir, Mush’ab tetap berdiri tegak pada posisinya. Selanjutnya, datanglah Ibnu Qami’ah dengan menunggang kuda. Ia menebas tangan kanan Mush’ab hingga putus dan Mush’ab ketika itu berkata: Muhammad itu tiada lain adalah seorang rasul yang telah didahului oleh rasul-rasul sebelumnya’ Selanjutnya, ia raih bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Namun, kali ini musuh pun kembali menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab membungkuk ke arah bendera kemudian merangkulnya dengan kedua pangkal lengannya. Selanjutnya ia dekapkan bendera di dada seraya mengucapkan. ‘Muhammad itu tiada lain adalah seorang rasul yang didahului oleh rasul-rasul sebelumnya.’ Untuk ketiga kalinya, Ibnu Qami’ah kembali menyerang Mush’ab. Kali ini ia menyerangnya dengan tombk dan menusukkannya hingga patah menembus tubuhnya. Mush’ab pun akhirnya gugur dan jatuhlah bendera perang yang dibawanya.”

Rasulullah dan para sahabat datang memeriksa jejak medan peperangan demi menyampaikan kata perpisahan kepada para syuhada. Tatkala sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, mengalirlah air mata beliau yang penuh berkah dengan derasnya. Khabbab bin Arat mengatakan, “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah sallallahu alaihi wassalam demi mengharap ridha Allah hingga jelaslah pahala di sisi Allah bagi kami. Beberapa di antara kami ada yang meninggal dan tidak sedikit pun sempat memakan pahalanya di dunia. Salah satu di antaranya adalah Mush’ab bin ‘Umair yang gugur dalam Perang Uhud. Saat itu kami tidak mendapatkan sesuatu pun yang bisa digunakan untuk mengafaninya selain selembar kain selimut. Jika kami letakkan kain itu di kepalanya, tampaklah kakinya. Sebaliknya, jika kami letakkan di kakinya, teringkaplah kepalanya. Rasulullah memerintahkan, ”Letakkanlah kain itu di bagian kepala lalu tutuplah kedua kakinya dengan idzkhir (tumbuhan berbau harum yang bisa digunakan dalam penguburan).”

Rasulullah berdiri di samping Mush’ab bin ‘Umair dengan kedua mata yang memandang diliputi cahaya kesetiaan dan kasih sayang. Beliau membacakan ayat:


… ۖ  مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 23)

Dengan pandangan penuh rasa iba, Rasulullah melihat kea rah burdah (kain) yang digunakan untuk membungkus jenazah Mush’ab seraya bersabda, “Dahulu ketika di Makkah tidak ada seorang pun yang kulihat lebih halus pakaiannya dan lebih indah rambutnya selain engkau. Namun, sekarang engkau gugur dengan rambutmu yang kusut masai dan hanya dibalut sehelai kain.”

Dari kisah Mush’ab kita belajar akan sebuah ketaatan, sebuah cinta, sebuah kesetiaan yang membuatnya kembali dengan menjadi seorang syuhada. Seyogyanya ketaatan pada hukum Allah adalah sebuah refleksi tauhid seorang muslim. Seorang muslim tidak akan menjadikan syariah islam sebagai perkara yang boleh dipilih sesuka hati. Mungkin kita tidak mendapatkan kesempatan seindah Mush’ab dalam menjaga ketauhidan di dalam dirinya. Namun, di era saat ini, kita dapat menanamkan tauhid di dalam diri kita dengan tidak mudah terpengaruh oleh orang-orang jahil yang membolak-balikan ayat Allah, orang-orang yang berpaling dari ayat Allah, karena sesungguhnya orang-orang itu tidak memiliki tujuan kecuali satu, yaitu umat muslim yang menggadaikan akidahnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sungguh orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberikan pembalasan keapda orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS al-A’raf: 40).

Sebelumnya: Mush’ab bin ‘Umair: Duta Islam yang Pertama

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.