Mush’ab bin ‘Umair: Pemuda Quraisy yang Berani

Ini akan menjadi awal dimana aku akan menulis tentang kisah para sahabat Nabi Muhammad selain khulafaur rasyidin. Keingintahuanku untuk mengenal mereka, dengan tujuan yang tidak lain sebagai motivasi untuk terus belajar tentang agama yang sempurna ini, Islam Rahmatan lil ‘alamin.

Aku akan mengawalinya dengan kisah Mush’ab bin ‘Umair, sebagaimana Kalid Muhammad Khalid menempatkan kisah Mush’ab bin ‘Umair di bagian pertama dalam bukunya yang berjudul Biografi 60 Sahabat Rasulullah.

Begitu banyak kisah dari Mush’ab bin ‘Umair yang dapat kita teladani. Oleh karena itu, aku akan mencoba menuliskannya kembali menjadi beberapa bagian karena betapa kerennya seorang pemuda bernama Mush’ab itu.

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana dengan aku? Jika ketika kita dilahirkan di keluarga yang sangat berkecukupan, dibesarkan dengan harta yang bergelimangan, dan dimanja dengan segala kemudahan. Di saat itu, datanglah sebuah “agama baru”, agama yang begitu sempurna, agama yang benar. Sementara aku, kalian dan keluarga kita tengah memeluk agama nenek moyang, agama yang dibuat oleh manusia, bahkan Tuhan yang kita sembah pun dibuat oleh tangan-tangan manusia.

Apakah kita akan berpindah ke agama yang benar itu dan meninggalkan agama nenek moyang beserta keluarga kita dengan seluruh harta yang melimpah? Akankah kita sanggup melakukan hal itu? Bayangkan saat dulu, Islam belum seperti sekarang ini, belum banyak yang mengenal Islam. Akankah kita akan berpindah memeluk agama Islam dan menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa?

Mush’ab bin ‘Umair, seorang Pemuda Quraisy yang dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan. Digambarkan bahwa Mush’ab memiliki wajah yang rupawan, dibesarkan dan dimanjakan dari keluarga yang berkecukupan, pakaian yang ia kenakan adalah pakaian yang begitu bagus pada zamannya. Barangkali tidak ada satu pun pemuda di Makkah yang seberuntung Mush’ab.

Suatu hari, Mush’ab yang masih remaja kala itu mendengar pembicaraan tentang Muhammad al-Amin (yang dapat dipercaya), yang pada saat itu mulai menjadi perbincangan para penduduk Makkah dimana Muhammad menyatakan bahwa ia adalah utusan Allah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar manusia beribadah hanya kepada Allah Yang Maha Esa. Siang dan malam para penduduk Makkah tidak hentinya membicarakan tentang Muhammad, sehingga Mush’ab remaja adalah yang paling banyak mendengar cerita tersebut.

Dari pembicaraan yang ia dengar tersebut, ia mendengar bahwa Muhammad beserta para pengikutnya sering berkumpul di tempat yang jauh dari gangguan dan ancaman para kaum Quraisy. Mereka berkumpul di Bukit Shafa, di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Rasa penasarannya membawa Mush’ab pergi ke rumah al-Arqam. Setibanya disana, Mush’ab mendengar lantuan ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh Rasulullah dan para pengikutnya serta mendengar kembali ayat suci Al-Quran dibacakan ketika mereka melakukan solat berjama’ah untuk menyembah Allah Yang Mahabesar. Belum sampai Mush’ab duduk, lantunan ayat suci Al-Quran sudah meresap ke dalam hati dan jiwanya.

Tidak ada kata yang pantas menggambarkan bagaimana keadaan hati Mush’ab kala itu. Ia mendapati dirinya begitu bahagia dan tentram ketika ayat-ayat suci Al-Quran menyentuh telinga dan tenggelam dalam qalbunya. Mush’ab pun memeluk agama Islam. Dalam sekejap, pemuda yang telah beriman dan memeluk Islam itu tampak memiliki kebijaksaan yang melampaui usianya.

Namun Mush’ab begitu takut terhadap Ibunya. Ibunya Mush’ab, Khunnas binti Malik, adalah perempuan yang memiliki kepribadian yang sangat kuat. Kepribadiannya itu membuatnya disegani bahkan ditakuti. Sesudah memeluk agama Islam, tidak ada satupun di bumi ini yang Mush’ab takuti selain Ibunya. Hal tersebut membuat Mush’ab merahasiakan keislamannya demi menghindari kemarahan Ibunya yang masih menyembah agama nenek moyang, yaitu menyembah berhala.

Namun Allah berkehendak lain. Makkah waktu itu tidak ada satupun rahasia yang tersembunyi. Tembok-tembok rumah, pasir-pasir yang berkilauan terkena sinar matahari dapat menjadi telinga. Saat itu Mush’ab bolak-balik ke Darul Arqam (rumah Arqam), membuat Utsman bin Thalhah yang melihat gerak-gerik Mush’ab curiga sehingga ia pun mengikuti Mush’ab dan mendapati Mush’ab secara diam-diam masuk ke Darul Arqam dan pada kesempatan lain, ia melihat Mush’ab melakukan solat seperti yang dilakukan Muhammad. Tanpa tedeng aling, Utsman pun buru-buru menghadap Ibu Mush’ab untuk melaporkan hal tersebut. Berita yang disampaikan Utsman membuat Ibunya menjadi marah dan  hilang kendali.

Mush’ab pun disidang oleh keluarganya, dan para pembesar Makkah—para kafir Quraisy. Dengan keteguhan hatinya, Mush’ab membacakan ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah dengan niat mencuci hati mereka. Namun karena kerasnya hati, pengaruh dari berhala-berhala yang selama ini ia sembah, membuat Ibu Mush’ab ingin menghentikan Mush’ab dengan cara menampar wajah anaknya yang tampan itu. Dengan kebesaran Allah, tangan Ibu Mush’ab mendadak lumpun dan lunglai. Di saat yang bersamaan, wajah rupawan Mush’ab tetaplah memancarkan kewibawaan dan ketenangan.

Segala cara dilakukan oleh Ibu Mush’ab agar anaknya tidak lagi berkumpul dengan Rasulullah. Mush’ab pun dikurung di dalam ruangan dan menutupnya rapat-rapat, sampai beberapa orang di antara kaum Mukminin hijrah ke negeri Habasyah. Ketika mendengar berita itu, Mush’ab segera melakukan rekayasa. Ia berhasil mengelaui Ibu dan para penjaganya lalu bergegas menuju Habasyah dengan penuh ketaatan.

Ia tinggal di sana bersama saudar-saudara sesame kaum Muhajirin kemudian kembali pulang ke Makkah bersama mereka. selanjutnya, ia kembali hijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya bersama para sahabat yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk berhijrah. Mereka pun melaksanakan perintah Rasulullah dengan penuh ketaatan.

Suatu hari, Mush’ab menjumpai beberapa kaum Muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah. Begitu melihat Mush’ab, mereka menunduk dan memejamkan mata. Mereka teringat bagaimana pemuda Quraisy yang tampan itu dulunya. Ia tidak pernah mengenakan baju yang jelek sekalipun, begitu terawat, dan harum semerbak. Sementara sekarang, setelah ia masuk Islam dan memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya dulu yang begitu bergelimang harta, pakaian yang ia kenakan hanyalah jubbah using yang penuh tambalan. Sebagian dari mereka berlinang air mata karena haru dan prihatin.

“Aku telah mengenal Mush’ab ini sebelumnya. Aku tak mengenal pemuda Makkah yang lebih bergelimang harta di sisi kedua orang tuanya seperti dirinya. Selanutnya, ia tinggalkan semua kemewahan itu karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Begitulah sabda Rasulullah, ia tersenyum dengan pandangan bijak, penuh arti, dan cinta.

Sepulang dari Habasyah, Ibu Mush’ab kembali mencoba untuk menyekap Mush’ab. Namun Mushab bersumpah bahwa jika Ibunya melakukan hal tersebut, ia tidak segan untuk membunuh orang-orang yang bersedia membantu Ibunya. Ibu Mush’ab yang tahu betul bagaimana kesungguhan anaknya dalam mewujudkan tekad, maka tidak ada jalan lain selain melepaskan anaknya yang selama ini ia curahkan dengan kemanjaan. Saat itulah, perpisahan yang begitu mengharukan antara seorang anak dengan Ibunya. Keduanya pun menangis.

Namun sekali lagi, Mush’ab benar-benar menginginkan Ibunya menemukan jalan kebenaran yaitu dengan menyembah Allah, namun kekufuran di hati Ibunya menyebabkan hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Ibu Mush’ab pun mengusir Mush’ab dan Mush’ab kini meninggalkan segala kesenangan melimpah yang selama ini ia nikmati dan lebih memilih hidup sederhana. Pemuda rupawan yang wangi itu kini tidak pernah tampak selain dengan pakaian yang paling kasar dan using. Namun, jiwanya yang suci karena keluhuran akidahnya yang memancarkan cahaya Illahi telah mengubahnya menjadi manusia lain yang agung, dihormati, dan penuh wibawa.

Keberanian dapat dibuktikan bukan hanya ketika kita berada di medan perang. Keberanian di dalam diri di saat harus memilih untuk hidup enak dengan harta berlimpah atau hidup sederhana dengan penuh ketaatan. Begitulah kisah Mush’ab bin ‘Umair, seorang pemuda Quraisy yang begitu berani. Berani meninggalkan kehidupannya yang dahulu, yang begitu nikmat tanpa kekurangan dan memilih hidup sederhana di jalan yang benar. Sesungguhnya, kehidupan di dunia hanyalah sementara namun kehidupan di akhirat adalah kekal. Beranilah seperti Mush’ab, teruntuk aku dan kalian.

 

Lanjutan: Mush’ab bin ‘Umair: Duta Islam yang Pertama

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

2 thoughts on “Mush’ab bin ‘Umair: Pemuda Quraisy yang Berani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.