Panggil Aku Indie

Panggil aku Indie, maka aku akan menemanimu memandangi senja di sore hari tanpa secangkir kopi. Maaf, aku punya asam lambung. Aku harap kamu juga bukan penyuka kopi, karena kopi mengandung kafein. Aku khawatir, jantungmu berdebar bukan karena aku tapi karena kopi.

Panggil aku Indie, aku akan menemanimu keliling kota dengan bus wisata, sambil aku ceritakan sejarah Indonesia. Bantu aku membalik halaman-halaman buku lusuh yang aku genggam.

Namaku bukan Indie, namaku Ayu Anjani Prameswari. Kecintaanku memandangi senja dan menikmati rintikan hujan yang membasahi tanah sampai semerbak harumnya membuatku senang dipanggil Indie. Bagiku, senja di sore hari dan rintikan hujan itu romantis. Selain itu, jalan-jalan naik bus wisata sambil membaca buku bisa dibilang romantis.

Aku menyenangi segala sesuatu yang romantis. Bertengkar juga hal yang romantis. Bertengkar tanpa harus melibatkan amarah, berdebat tanpa harus memikirkan siapa yang harus menang, bagiku itu adalah hal yang romantis. Itulah alasan aku suka membaca buku, buku sejarah terlebihnya.

Perpaduan antara suasana kota dengan buku, senja dengan musik indie, hujan dengan musik indie, senja dengan buku, hujan dengan buku, belum lengkap karena tidak ada kamu. Kamu yang dapat melengkapi romantisme indieku. Siapakah?

Panggil aku Indie, “Anjani!” seseorang memanggilku.

Tidak ada yang mengetahui kalau aku menginginkan seseorang memanggilku Indie. Begitu pula Jani. Iya nama kami sama. Hanya saja namanya tanpa awalan an- . Namun lebih tepatnya, cara pelafalannya adalah “Yani.” Betul, dia adalah teman kampusku di program Magister.

Laki-laki bertubuh lebih tinggi dariku, berkulit putih, dengan jari tangan yang lentik. Sepertinya menurun dari mamanya. Konon katanya, anak laki-laki lebih banyak mengambil bentuk dari Ibunya, sebaliknya anak perempuan lebih banyak mengambil bentuk dari Ayahnya. Itulah alasan kenapa jari tanganku gendut.

Kami tidak terlalu dekat, namun kami dipasangkan oleh dosen kami sebagai satu kelompok. Aku pikir program magister sudah tidak ada tugas kelompok, ternyata masih ada.

Aku menghentikan langkahku ketika Jani memanggil namaku. Ia masih muda, ganteng juga kalau dilihat-lihat. Ia membawa buku dan sekotak susu strawberry di genggamannya. Tentu dengan backpack yang menggantung di bahunya yang—bisa dibilang cukup nyaman untuk tempat bersandar.

Aku bergidik.

Sepersekian detik aku sudah menghayal begitu jauh. Sulit untuk dipungkiri kalau Jani memiliki charisma yang begitu mematikan. Kalau dia diam, terlihat sangat serius. Tapi kalau dia sudah bicara, dia adalah sosok yang periang. Sangat sulit untuk tidak memperhatikannya kalau dia sudah bicara.

“Iya, Jan?”

“Kapan kita bisa kerjain tugas?”

Aku mengetuk-ngetuk sneaker yang aku kenakan ke lantai. Tidak ada pengaruhnya untuk keputusanku, namun supaya terlihat sedang berpikir saja. “Kamu bisanya kapan?”

“Bebas. Hari ini juga bisa.”

“Kalau gitu, hari ini kita ke Ancol.”

Ia mengerutkan dahi dan menganga. “Ha?” satu kata tanpa kosa keluar menyertai kerutan di dahinya.

“Ngapin ke Ancol? Engga di perpus aja?”

“Hari ini kita cari chemistry dulu, baru ngerjain tugas bareng.”

Kerutan di dahinya sirna mendadak. Ia tersenyum lalu menyeruput susu kotak yang ada di genggamannya sampai kotak susu mengempis karena seruputannya yang kuat. Ia meremas kotak susu sampai benar-benar ciut lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.

“Ayo!” katanya bersemangat.

Kami berjalan beriringan. Dua anak muda yang sedang berada di masa quarter life sedang menciptakan sebuah chemistry. Kami berjalan kaki di sekitaran Salemba menuju stasiun kereta. Bangunan-bangunan cukup tua yang sudah ada sejak zaman Belanda membuat suasana mendadak…. Indie.

“Panggil aku Indie.” Ujarku di tengah perjalanan.

“Nama kamu Anjani Indie?”

Ingin tertawa aku dibuatnya. “Bukan. Panggil saja aku Indie.”

“Indie.”

“Oke.”

Kami berjalan kaki menuju stasiun Cikini dan menaiki kereta lalu turun di Jakarta Kota dan menyambung bus transjakarta menuju Ancol. Waktu kami habis saat berjalan kaki ke stasiun tadi. Jalanan pun sedang tidak terlalu lenggang hingga kami tiba di Ancol pukul 5 sore. Langit sedang cerah-cerahnya sehingga harapanku terkabul.

Pantai Ancol memang terdengar sedikit lucu, tapi inilah pantai terdekat yang dapat aku sambangi di rencana yang begitu mendadak ini. “Panggil aku Indie, maka aku akan menemanimu memandangi senja di sore hari tanpa secangkir kopi. Maaf, aku punya asam lambung.” Ujarku saat kami sedang duduk di pinggir pantai Ancol yang masih cukup panas namun tetap segar karena hembusan angin sore.

Tidak ada panggilan Indie detik ini. Aku menoleh ke arahnya, lelaki tampan dan juga pintar yang dipasangkan oleh dosen kami. Aku mendapati wajahnya penuh dengan pertanyaan yang hendak ia layangkan kepadaku, namun senyumnya terlihat begitu menikmati momen ini.

Aku pun, bila menjadi dirinya akan bertanya-tanya di dalam hati. Apa gerangan maksud dari wanita tidak jelas ini. “Indie.” Ujarnya setelah ke sekian detik, ah sepertinya menit. Semenit kurang beberapa detik.

“Indie.”

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.