Pencitraan dan Prasangka di Media Sosial (menurut Teori Psikologi dan Teori Komunikasi)

Lagi-lagi tentang media sosial. Ada apa sih sebenarnya dengan media sosial? Kenapa aku begitu tertarik menulis tentang media sosial? Karena begitu banyak hal di media sosial yang dapat dikulik, mulai dari cara seseorang memanfaatkan media sosial sampai konten apa yang biasa seseorang bagikan di media sosial. Bahkan, media sosial bisa menjadi “jati diri” seseorang sehingga tidak sedikit yang berlomba-lomba memoles isi media sosialnya.

Baca Juga:
Ketimpangan Media (some case to learn closer)
Jejak Digital di Media Sosial

Hidup di era digital ini membuat kita tidak lepas dari media sosial. Jika dahulu kala saat kakek buyut, orangtua kita ingin mendapatkan kabar dari keluarga, sang kekasih, atau teman karib saat jarak berjauhan butuh waktu seminggu bahkan lebih, sekarang ini hanya butuh waktu kurang satu detik, tergantung koneksi internet tentunya. Kalau generasi pendahulu kita hanya mengetahui kabar orang yang ingin diketahuinya saja, saat ini orang yang tidak dikenal atau tidak memiliki hubungan kekerabatan pun dapat diketahui kabarnya.

Seperti kita ketahui Facebook, Twitter, Instagram, Line, Whatsapp, BBM Messenger, Path (dulu sebelum keduanya “berpamit”), selain untuk berkomunikasi, aplikasi-aplikasi tersebut dapat digunakan untuk saling berbagi kondisi melalui “status”. Bahasa kekiniannya, “mau update dulu”. Kondisi yang dibagikan di media sosial tentunya belum tentu seratus persen dialami atau benar-benar dirasakan.

Sampai di sini mari kita sepakati untuk orang-orang yang berbagi kondisi kita sebut Pemberi sementara orang-orang yang menerima kondisi kita sebut Penerima.

Mengerucut ke konten yang biasa dibagikan, ada macam-macam jenisnya. Seperti pengalamanku melalui lingkar pertemanan di media sosial, bahasa sederhanannya following ku ada beberapa macam jenis seperti:

  1. Travelling
  2. Bar
  3. Seminar
  4. Work life
  5. Motivasi
  6. Dakwah
  7. Politik

Tentunya dari ke enam jenis konten following ku itu tidak semuanya adalah teman dekat, bahkan ada yang belum pernah bertemu tapi sudah follow. Karena melihat mutual friends nya banyak, ya sudah aku follow back. Selama konten yang dibagikan tidak berbau kekerasan atau ponografi, why not? Toh dari sana pun bisa melahirkan “teman online” yang positif. Prinsip, “ambil baiknya, buang buruknya.” Tampaknya memang harus ditanamkan dalam bermain media sosial.

Konten-konten yang dibagikan tentunya belum tentu semua orang dapat menerima. Hal tersebut bisa dikarenakan si Penerima bosan karena konten yang dibagikan si Pemberi itu-itu saja, risih karena konten yang dibagikan si Pemberi hanya seputar curhatan atau dunia kerja, iri karena konten yang dibagikan si Pemberi menonjolkan kesuksesannya, atau si Penerima berpikir kalau apa yang dibagikan oleh si Pemberi hanyalah sebuah pencitraan belaka.

source: sumber pribadi

Kebetulan siang ini aku ditanyakan pendapat oleh seorang kawan mengenai isi instagram story dari temannya di media sosial. Isi dari story yang dibagikan adalah ketika si Penerima berpikir kalau konten yang dibagikan oleh si Pemberi hanyalah pencitraan belaka. Tentunya ini adalah salah satu yang menginspirasiku membuat artikel ini. Juga sering kali beberapa kawan yang lain menanyakan pendapatku tentang, “Bagaimana menurutmu ketika si Penerima berprasangka kalau si Pemberi hanya pamer karena sudah travelling ke mana-mana.” “Bagaimana menurutmu ketika si Penerima berprasangka kalau si Pemberi hanya sok memberikan motivasi ke orang-orang padahal hidupnya aja berantakan toh?” lebih parahnya, si Penerima berujung berhenti mengikuti si Pemberi.

 

Lahirnya prasangka dari media sosial. Itulah yang dapat aku katakan sampai sini. Hal tersebut ternyata dapat dikaji melaui Ilmu Psikologi. Prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek tersebut. Uncle John E. Farley, mengklasifikasikan prasangka ke dalam tiga kategori:

  • Prasangka kognitif; merujuk pada apa yang dianggap benar
  • Prasangka afektif; merujuk pada apa yang disukai dan tidak disukai
  • Prasangka konatif; merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak

Pada kasus ketika si Penerima berprasangka bahwasanya si Pemberi hanya melakukan pencitraan di media sosialnya, dapat dikatakan bahwa perilaku tersebut masuk ke dalam kategori prasangka kognitif. Teori tersebut menjelaskan bagaimana cara individu berpikir mengenai objek yang dijadikan objek sasaran untuk diprasangkai dan bagaimana individu memproses informasi dan memahami secara subjektif mengenai dunia dan individu lain.

Sementara itu menurut Ilmu Komunikasi, kasus seperti ini dapat kita lihat melalui dua sisi. Yaitu melalui sisi si Pemberi, dan sisi si Penerima.

Sisi si Pemberi

Joseph walther (Littlejohn dan Foss, 2009:897) memperkenalkan Social Information Processing sebagai perspektif alternatif dalam memandang fenomena pengembangan hubungan dalam format computer mediated communication. Social information processing menjelaskan bagaimana komunikator bertemu melalui komunikasi berbasis teks komputer, mengembangkan kesan dan hubungan interpersonal. Social Information Processing menggunakan isyarat verbal dan isyarat temporal sebagai pengaruh utama terhadap pembentukan hubungan. Teori ini menggunakan kedua set isyarat tersebut sebagai parameter di mana komunikasi dan tekonologi dapat bergabung untuk menghasilkan hubungan impersonal, interpersonal, dan hipersonal.

Source: Pinterst

Menerjemahkan teori tersebut dalam kasus si Pemberi di media sosial adalah bagaimana si Pemberi melakukan sebuah usaha untuk membuat suatu hubungan komunikasi—apa yang ingin dibagikannya—di media sosial miliknya kepada teman-teman di media sosialnya.

Sisi si Penerima

Ketika kita melihat apa yang dilakukan oleh orang lain, tak jarang kita akan mencoba untuk mengetahui atau memahami alasan mengapa mereka melakukan perbuatan tertentu. Begitu juga dengan perilaku yang kita tampilkan di hadapan orang lain. Dalam psikologi sosial, hal ini dinamakan dengan atribusi. Yang dimaksud dengan atribusi adalah proses dimana individu menjelaskan penyebab dari berbagai kejadian dan perilaku orang lain. Sementara itu, menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne, yang dimaksud dengan atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak.

Source: google

Menerjemahkan teori tersebut dalam kasus si Pemberi di media sosial, yaitu bagaimana si Penerima menafsirkan perilaku mereka sendiri dan perilaku orang lain. Teori atribusi menekankan pada bagaimana si Penerima menafsirkan berbagai kejadian dan bagaimana hal ini berkaitan dengan pemikiran dan perilaku mereka.

Source: google

Bicara mengenai prasangka dan pencitraan, bukankah sebaiknya kita tidak perlu memusingkan apa yang orang lain bagikan di platform media sosialnya? Apabila isi yang dibagikan bermanfaat untuk kita selaku si Penerima, bukankah sebaiknya kita mengambil kebaikan itu saja tanpa perlu memusingkan apakah si Pemberi pun juga melakukan apa yang dibagikan atau bahkan menjudge si Pemberi hanya melakukan pencitraan karena pencitraan bisa dilakukan dimana saja. Prasangka-prasangka tersebut hanyalah membuat pikiran kita menjadi lelah. Siapa yang bisa menebak hati seseorang? Siapa yang bisa menilai hati seseorang? Dan, siapa pula yang bisa menebak niat seseorang?

Dalam kasus si Pemberi dan si Penerima, ini hanya media sosial, isi yang dibagikan pun mengenai hal-hal baik. Apakah ada alasan kuat untuk kita selalu bersikap skeptis? Skeptis perlu, tapi harus tahu tempat. Kalau tidak tahu tempat, ya bisa muncul prejudice tidak baik terhadap orang lain. Mulai saat ini, baiknya kita selalu berpikir positif supaya hati dan pikiran kita pun menjadi sehat dan kuat. Hati dan pikiran yang sehat melahirkan kehidupan yang mententeramkan.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” [1]
Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”.

 

Massive thank you to:

Teh Tuty anggota Klub Blogger dan Buku Backpacker Jakarta yang sudah mau kasih konsultasi gratis tentang Ilmu Psikologinya.

Temanku Esy, Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia yang sudah panjang lebar memberikan pendapat dan menginformasikan teori-teori komunikasi terkait artikel yang penulis ingin bagikan.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

49 thoughts on “Pencitraan dan Prasangka di Media Sosial (menurut Teori Psikologi dan Teori Komunikasi)

  1. Mantap artikelnya udah kaya anak komunikasi dan psikologi lah. Hahahaa.. keren. Seneng bacanya deh. Terkagum kagum dengan kartini yang menulis topik ini. Wkwkkwk lebay ya.. beneran sih tapi.
    Memang benar sih terkadang postingan”orang menimbulkan berbagai prasangka. Bahkan diri sendiri pun pernah seperti itu. Balik lagi ke diri masing-masing ada yg sebatas menjudge tapi ya udahlah gak usah pusing” dan menerima lalu berpikir ah mungkin sisi positifnya ini. Ada juga yang memikirkan setiap orang itu posting ihh sebel deh bla bla… Begitulah ya. Paham gak ya maksud komennya hahaha.. okay deh udah kepanjangan komennya. Sekian

    1. Anak ekonomi nyasar ke psikologi dan komunikasi yaa? Hmm jd kepikiran buat tulisan ttg ekonomi 😀

      Iya, krn walau bagaimana pun bila muncul prasangka tidak baik, berarti ada “sesuatu” di hati kita.

  2. Wah Kakak positive mind banget, postingannya aku suka banget-banget kak.
    Inilah salah satu dampak media sosial, semoga kita selalu bisa melihat dari segi positivenya ya kak.
    Karena berprasangka ga baik ke orang lain saja sudah dosa, duhhh aku enggak mau menambah dosa karena berprasangka enggak baik.

    1. Aku jg sedang belajar untuk selalu berpikir positif kak. Soalnya kalo berpikiran negatif tuh, kita sendiri yg capek. Apalagi kalo cm mikir negatif ttg postingan orang. Rugiii

  3. Menarik banget tulisannya mba… apalagi efek sosial media sekarang cukup besar sama kehidupan sehari-hari… kadang serba salah mau posting sesuatu.. posting ini dikira itu…
    sungguh sebagian prasangka adalah dosa..
    Thankyou mba ilmu nya..

  4. Setuju, ngapain memusingkan postingan orang lain. Ambil positifnya aja, toh kita bersosial media juga untuk bersenang-senang dan sesekali membagikan apa yang kita tahu.
    Suka deh sama tulisannya 🙂

    Btw, Klub Blogger dan Buku kar, yang di atas terbalik hehe

  5. Hai mba Kartini, salam kenal. Tema ini adalah hal yang lagi hits banget terjadi di dunia permedsos-an ya. Hahaha. Kalau aku pribadi sih ga ada yang salah dengan pencitraan. Justru terkadang diperlukan. Hahaha. Tapi ya balik lagi ke penerimaan orang yang liat. Ada yang terima secara positif ada yang justru berprasangka buruk. Kalau aku sejauh ga merugikan orang lain ya kenapa enggak.. Hehehe.. Baidewei tulisannya keren banget mba, aku pernah pengen bahas beginian, tapi pengetahuan aku ttg psikologi masih terbatas banget, hahaa.. Ga berani deh. Waiting for your next article.

    1. Hi kak. Salam kenal juga 🙂

      Iya, memang tidak ada yg salah dg pencitraan selama pencitraan disini adalah untuk menjaga nama baik. Bukan pencitraan untuk disanjung, takut nanti jdi “penyakit” jg untuk diri kita sendiri hihi.

      Jangan ragu untuk bertanya ke pakarnya kak. Aku jg ga tau, tapi aku tanya2 hihi

  6. “Prasangka” itu kadang2 menjadi kelewatan juga. Tidak jarang, ada yang tersindir karena status seseorang. Padahal tidak ada maksud nyindir sama sekali… Itu apa ya namanya? Hiper sensitif?

    1. Mungkin pernah melakukan sesuatu yang tidak ikhlas. Atau sebenarnya memang pernah melakukan hal yg dibicarakan seseorang di media sosial shg merasa tersindir.
      Bisa jadi emang buat dia, krn manusia pada dasarnya adalah makhluk yg peka 😀

    2. Bahkan pencitraan dan prasangka sudah menjadi pentinh saat ini. Entah kita memandangnya dari sisi positif atau negatif.
      Aku langsung jatuh cinta sama tulisan kakak. Mau baca yg lain juga. Pasti cetar2 mempesona

      1. Intinya sih apa yang mau kita bagiin jangan terpaku sama pencitraan diri nanti malah kitanya sendiri yg tidak ikhlas dan tidak bahagia krn kita bakalan memaksa untuk sempurna buat orang lain yg belum tentu orang lain itu peduli.

        Menurutku pencitraan penting bkn untuk terlihat sempurna buat orang lain, tp untuk kita jadikan sebagai “rem” kalo kita mau berbuat hal yg kurang baik. Shg ga ngubah diri kita.

  7. Sepertinya waktu tidak pernah ‘berhenti’ dengan maraknya comment di medsos ya Kak. Terkadang sayapun terpikir ‘apa sih, maksudnya comment seperti itu?’ Padahal untuk apa ‘mencederai’ kognitif kita dengan sesuatu yang ‘angin lalu’ tokh tetap ada hal positive yang dapat kita petik. Dear Kak Kartini, terimakasih untuk artikelmu yang sangat mencerahkan ini.

    1. Ada saja orang yg tidak dapat menahan diri untuk engga berprasangka tidak baik ke postingan orang lain. Okelah mungkin itu cukup sulit dikendalikan. Tapi setidaknya, kita bisa mengendalikan jari kita untuk tidak melaksanakannya.
      Pengendalian diri itu penting.

      Wah teh tuty, artikel ini pun published karena ada ilmu yg teh tuty bagikan 🙂

    1. Betul. Di zaman seperti sekarang ini, seakan salah satu tempat di dunia yang maya ini bagaikan dunia nyata. Bahkan dunia nyata cenderung “ditinggalkan”. Coba tengok saja anak2 muda kalau berkumpul, mereka tenggelam dengan gadget masing2..

  8. Tulisanmu sudah karya ilmiah Bu, mencantumkan sumber rujukan dan tahunnya juga.
    Media sosial memang banyak digunakan untuk menampilkan “pencitraan”.
    Padahal sebenarnya capek juga kalo harus selalu menampilkan sisi sempurna bagai malaikat.
    Jadi diri sendiri lebih nikmat kok, makanya jauh-jauh atau kurangi untuk bermedsos.

    1. Itulah, kita harus punya seni ikhlas. Bukan seni untuk dipuji. Note juga untuk kita.
      Tapi kadang bermedsos ada manfaatnya jg, mas. Asa tau dosisnya aja

  9. Prasangka, apalagi dengan asumsi sendiri itu memang bahaya sih. Banyak orang jadi ribut hanya karena berprasangka, langsung emosi tanpa ada tabayin atau cek n ricek dulu. Lah temenku aja dilabrak malem2 tanpa dia ngerti salahnya apa. Ternyata si pelabrak punya asumsi sendiri bahwa temenku ini ngomongin dia. Aneh2 aja

    1. Akibatnya, mungkin si pelabrak pun akan malu setelah tahu faktanya. Hihi. Semoga saja setelah tahu jadi damai ya bukan malah mempertahankan apa yg dianggap benar

  10. Mbak Kartini ini emang anak psikologiya?? Ilmunya lengkap banget, aku sampai ckckck bacanya. Lucu jga ya hal sederhana tapi emang iya terjadi banget dibahas secara keilmuan gini tuh.

  11. Artikelnya lengkap dan informatif. Saya pribadi menganggap medsos sebagai alat untuk berinteraksi tapi jangan terlalu hanyut didalamnya.
    Lucu aja kalau kita bermedsos ria hanya untuk baper, julid atau malah bisa jadi fitnah.

  12. Duh, aku banget nih, sempat jadi orang yang ‘overthinking’ dan terlalu memikirkan motivasi orang lain yang suka share di media sosial. Tapi belakangan jadi ‘ngeh’ sih kenapa harus dipikirin, nambah2in beban pikiran aja, ya ga sih? hehe ujung2nya untuk konten yang aku rasa kurang positif ak mute aja biar circle medsos kita tetap add value yang baik.

    1. Iya kak karena banyak yg harus dipikirkan seperti bagaimana kita bisa menjadi pribadi yg berguna untuk orang lain, bagaimana kita bisa mengembangkan diri kita, bagaimana kita menjadi pribadi yang bahagia dan membahagiakan. Jauh lebih worth it ketimbang memikirkan apa tujuan orang lain posting di media sosial.
      Kalo positif, ambil positifnya.
      Kalo negatif, dimute aja *eh iya sih haha karena kita memang harus memfilter sesuatu yg mengganggu

  13. Harus hati-hati juga ya menggunakn medsos, terkadang mau menympakain hal baik pun bisa dianggap tidak baik karena persepsi orang yang berbeda-beda, mantaps artikelnya menambah wawasan.

    1. Sebenarnya tidak masalah kalo kita mau posting hal baik. Tinggal dari diri kitanya aja, memposting hal tsb untuk apa? Memang agak sulit sih kalo mainnya di medsos. Soalnya medsos memang untuk dilihat orang.
      Note untuk kita semua

  14. media sosial bila di pakai untuk hal positif banyak banget manfaatnya, terutama untuk menjalin tali silaturahim. namun sedih aja juga ada yg di pakai ke hal-hal negatif. bukan salah medsos nya sih, tapi salah pengguna nya yang keluar dari jalur medsos itu sendiri. kalau aku paling sebel sama orang yang sering pencitraan baik dalam medsos tapi di kehidupan nyata nya gak bangett..

  15. So, true! Medsos ga usah diambil pusing. Aku malah kalau sama medsos yo bodo amat. Kalau ada orang yang dikenal trus dia posting kebalikan dari kepribadiannya dia di dunia nyata, yo ga urus suka sukae dia wae. Mungkin kala itu, dia mau menginspirasi lewat postingannya dia.

    Tulisan ini terlihat rapi dan persiapannya cukup matang, terbukti dengan hasil tulisannya yang bernas. Thank you for reminding kak ☺️🙏🏻

  16. Bener banget kadang sebuah postingan IG story kalo ditanggapi negatif ya jadi nyinyiran. Kalo. Ditanggapi positif yaa bisa jadi pelajaran. Pakai media sosial nowaday emang gaboleh dibawa baper. Kayak yang dibilang mbak kartini, ambil positifnya aja.

  17. Kalau aku tipe penerima yang nggak mudah baperan seh hehe
    Dan kalau ada yang nggak sesuai sama kenyataan hidupnya tinggal senyumin aja, yah itung-itung hiburan.

    Tulisan yang bagus, pasti risetnya sana sini. Semacam tulisan ilmiah tapi mencerahkan.

    Salam,
    Ratna

  18. Artikel yang menarik. Terkait pencitraan atau prasangka di media sosial, bagi aku prinsipnya satu, APBN aja, ambil positif buang negatif. Dan sadar bahwa lingkungan sekitar atau di luar diri kita termasuk yang terpapar di media sosial adalah netral alias nggak bisa kita kendalikan,. so yang terpenting adalah bagaimana respon dari diri kita sendiri.. Imo.. hehe

  19. Mantab kali tulisannya… Ilmu empiris yang disandingkan ilmu ruhiyah… 😍😍😍

    Kece Kart! Keep writing..kamu memang terniat cari references nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.