Peraturan Tidak Tertulis di KRL Commuter Line

Bagi para kaum urban yang mencari rezeki di Ibu Kota namun tinggal di daerah Bogor, Depok, Cikarang, Bekasi, maupun Tangerang, tidak sedikit yang memilih untuk menggunakan jasa layanan umum kereta api atau KRL Commuter Line. KRL Commuter Line  adalah layanan kereta rel listrik komuter yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Commuter Indonesia, sebuah anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia. Selain harga tiket yang bisa dibilang murah, faktor tiba tepat waktu dan tidak perlu bermacetan di jalan menjadi alasan banyaknya orang-orang yang memilih menggunakan jasa transportasi tersebut. Dikarenakan hal tersebut, jumlah pengguna jasa pun sangat banyak setiap harinya terutama di hari kerja pada jam berangkat kerja arah Jakarta dan pada jam pulang kerja arah Bogor, Bekasi, dan Tangerang.

Berdasarkan data PT Kereta Commuter Indonesia, jumlah penumpang KRL sepanjang 2017 mencapai 315,8 juta orang. Menurut perkiraan dari DATABOKS.CO.ID, perkiraan jumlah penumpang KRL di tahun 2018 mencapai 320 juta orang.

Jumlah yang sangat fantastis bukan? Hal tersebut tentunya didukung oleh semakin membaiknya fasilitas yang diberikan oleh pihak PT Kereta Api Indonesia dari tahun ke tahun. Jika dahulu kita harus ngeri-ngeri sedap bergelantungan di dalam gerbong dengan kondisi pintu terbuka, sekarang sudah jauh lebih aman karena pintu sudah otomatis tertutup bila kereta mulai berangkat. Dahulu kita sering menjumpai pedagang asongan yang berjualan di dalam kereta sampai orang-orang yang dengan santainya merokok, kini kita tidak akan pernah menjumpai hal-hal tersebut lagi karena sudah ada peraturan tertulis yang melarang.

Mari kita lihat terlebih dahulu peraturan tertulis di KRL Commuter Line:

  1. Duduk di Lantai & Menggunakan Kursi Lipat
  2. Membuang Sampah Sembarangan
  3. Membawa Benda Mudah Terbakar
  4. Membawa Senjata Api/Tajam Tanpa Izin
  5. Membawa Binatang
  6. Berjualan
  7. Ngamen
  8. Makan & Minum
  9. Merokok
  10. Mencoret-coret

Bagusnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah banyak yang disiplin sehingga peraturan tertulis itu pun dipraktikkan dengan sebaik-baiknya. Walau di beberapa poin kita masih saja menjumpai beberapa peraturan yang tidak digubris seperti duduk di lantai dan makan di dalam kereta. Walau hanya sekedar makan siomay terkadang aromanya menyebar kemana-mana sehingga membuat penumpang lain jadi ikutan lapar. Eh salah ya 🙂

Walau tidak dapat dibenarkan, namun menurutku dua poin itu merupakan pelanggaran minor karena yang biasa aku temui, orang-orang duduk di lantai atau makan apabila kondisi gerbong sedang tidak penuh. Ya, tidak tahu diri sih kalau duduk di lantai atau makan ketika kondisi gerbong sedang tidak penuh. Selain itu pun, sepertinya tidak memungkinkan.

Bicara tentang peraturan-peraturan tertulis yang sudah ditaati oleh para pengguna KRL Commuterline, ternyata ada beberapa “peraturan tidak tertulis” yang tidak disadari beberapa penumpang KRL Commuterline. Padahal, peraturan tidak tertulis itu sangatlah bermakna bagi hampir semua para penumpang, terutama aku si anak kereta yang hampir setiap hari berpergian menggunakan KRL Commuterline.

Lalu, apa saja sih peraturan tidak tertulisnya?

Bersandar ke Penumpang Lain Saat Gerbong Kereta Penuh

Pernah tidak sih kalian mengalami keadaan yang seperti ini? Di saat gerbong kereta sedang penuh-penuhnya, ada beberapa penumpang yang tidak dapat diajak bekerja sama. Sudah tidak pegangan, malah asik main handphone dan bersandar di badan penumpang lainnya. Alhasil ketika kereta mengerem atau rel sedang dalam keadaan miring tubuhnya pun menjadi tidak seimbang dan mengganggu kita.

sumber gambar: Kompas

Kita mungkin tidak akan jatuh ngejeledag ketika kondisi gerbong kereta sedang penuh-penuhnya, namun ketahuilah bahwa penumpang yang berdiri dengan benar serta berpegangan akan merasa sangat tersiksa bila harus menahan beban tubuh penumpang yang asik bersandar ke penumpang lain.

Berdiri di Depan Pintu Menghalangi Penumpang Yang Hendak Masuk / Hendak Keluar

Aku paling sering bahkan setiap hari menemui karakter penumpang yang seperti ini. Entah strategi apa yang dimaksud, yang pasti mereka sangatlah egois. Sudah stasiun yang dituju masih jauh, tapi sudah berdiri di depan pintu sehingga menghalangi penumpang yang hendak masuk. “Sudah tidak muat.” Begitulah alasannya karena menumpuknya penumpang yang berdiri di depan pintu padahal di tengah gerbong masih cukup ruang untuk beberapa orang. Yang mereka lakukan tidak hanya mengganggu penumpang yang hendak masuk melainkan mengganggu penumpang yang ingin keluar. Tidak jarang pintu sudah keburu tertutup karena tidak diberikan akses jalan untuk penumpang yang hendak turun. Padahal kalau tidak ingin terdorong, mereka bisa masuk ke dalam bukan berdiri di dekat pintu.

Pura-pura Tidur

Siapa sih yang tidak senang bila dapat duduk di dalam kereta? Selain tidak perlu berpegal ria ketika menahan diri saat kereta sedang mengerem dan sedikitnya resiko kaki terinjak, kita pun tidak perlu berdesakan dengan penumpang lain yang semakin bertambah dari stasiun ke stasiun. Namun, ada saja penumpang yang pura-pura tidur sehingga apabila ada penumpang lain yang seharusnya diprioritaskan namun tidak kebagian kursi prioritas, mereka tidak dapat diganggu gugat.

Perjuangan mendapatkan kursi untuk duduk memang tidak mudah, namun alangkah lebih baik bila kita yang masih bertenaga berbagi kepada yang lebih membutuhkan.

Berbicara Keras-Keras Dengan Teman Sejawat

Pernah atau tidak ketika berangkat atau pulang kerja kalian menjumpai sekelompok Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang bergelombol di titik tertentu di gerbong kereta kemudian mengobrol dan tertawa dengan suara yang cukup keras. Tidak jarang bahasan mereka adalah bahasan orang dewasa lebih ke arah yang tidak sopan dan tidak layak didengar. Padahal yang naik kereta tidak hanya orang dewasa, melainkan anak sekolah atau bahkan ada anak di bawah umur yang seharusnya tidak mendengar kata-kata menjijikan tersebut.

Selain itu, ada lagi segerombolan anak muda atau ibu-ibu yang tertawa cekikian membuat kepala menjadi lebih pening. Pernah ada seorang Bapak dan Ibu menegur, “Jangan berisik.” Namun mereka menjawab, “Kalo gamau berisik, naik kendaraan pribadi.”

Ketahuilah, bahwa kereta memang transportasi publik. Justru karena transportasi publik yang mana merupakan milik bersama, seharusnya kita saling menjaga kenyamanan yang dapat dirasakan oleh semua pengguna. Apalagi bila dijumpai ketika selepas pulang kerja. Kita sudah lelah berkutat dengan pekerjaan di kantor, belum lagi menyiapkan tenaga ekstra ketika berada di dalam gerbong yang penuh sesak. Setidaknya, suasana yang hening sedikit dapat mengistirahatkan otak kita yang sudah “bekerja” sejak pagi.

 

Bagaimana dengan kalian para anak kereta / ankers, apakah punya tambahan lain untuk peraturan tidak tertulis yang seharusnya dipahami oleh para pengguna jasa KRL Commuterline?

 

Baca juga: Dilematis seorang PKD di Gerbong Wanita

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

8 thoughts on “Peraturan Tidak Tertulis di KRL Commuter Line

  1. bener banget tuh.. yang di depan pintu heran deh. kasian yang mau masuk. dan yg sandaran gak pegangan itu menyebalkan sekali… sebagai anak kereta cukup merasakan sakitnya ;(

  2. Tambahin, jangan duduk ngangkang di kereta.. Misalnya duduk ber6 jadi terasa sempit banget padahal idealnya bisa untuk ber7.

  3. Tambahin, ngalah duduk sama lansia, ibu hamil, ibu bawa anak, dan orang dengan disabilitas.. seringnya harus nunggu ditegur buat ngalah tempat duduk.

  4. Paling bete kalo ada yang pura pura tidur tapi pas sampe stasiun tujuan dia langsung bangun. Banyak lansia yang kadang harus berdiri padahal kondisi kereta yang penuh ga terlalu baik buat mereka. Kadang mikir apa mereka lahir dari batu ya 🙁

  5. Bahuku adalah sandaran hidup anak2ku.. Bukan sandaran HP mu darling….😪

    *kezel sama yg main hp di atas bahu gw.

  6. Tambahan lagi, gak cuman di dalem kereta tapi ini di peron stasiun, setiap pagi hari saya naik dari depok orang2 pada nunggu kereta dari dipo. saat kereta datang dari dipo saya ingin masuk ke dalam gerbong krl namun tertahan karena orang2 yang ingin naik kereta berikutnya (beda jurusan), itu sungguh mengganggu karena menghalangi masuk.

  7. Mungkin lebih nyaman buat semua klo bumil ato YG bawa bocah2 kecil GA maksain Di jam sibuk. Coba ikut ke arah berlawanan Dulu misalnya. Sayangi diri sendiri, jgn hrp org lain care klo yg punya badan Aja GA peduli dan maksa masuk meski udh penuh gila2an. Sorry to say, org kondisi biasa Aja fatigue GA karuan, apalagi dlm kondisi seperti itu. Dan juga, org2 YG duduk sebagian besar berjuang buat dapetin duduknya, Dan kondisinya mungkin jg kelelahan atau sakit, you never know. Apalagi klo bkn kursi prioritas, GA usah Minta empati org klo sendirinya GA punya empati ke dirinya (maksa) #justmythoughts

  8. Tambahan buat buibu yg abis belanja di st tenabang. JANGAN SUKA NARO SEMBARANGAN TU PLASTIK BELANJAAN DI TENGAH PERON -NGALANGIN JALAN WOY! DAN JANGAN NGEGEBOK ORANG YG MAU TURUN PAKE TU PLASTIK HANYA KARENA MASTIIN MASUKIN PLASTIK DULUAN KE DALAM GERBONG. *iya saya emosi saban hari kudu ngebacotin buibu tenabang yg seenaknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.