Perjuangan Sang Elang Betawi – Part I: Pendahuluan

Kini nama itu disematkan sebagai nama sebuah Jalan Protokol di Jakarta Pusat, dijadikan nama sebuah Universitas, bahkan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Nama yang sudah tidak asing lagi, Mohammad Hoesni Thamrin atau kita lebih sering mendengarnya dengan sebutan MH Thamrin. Bagaimana nama tersebut bisa menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia? Apa sajakah kontribusinya terhadap Negara?

Anak Seorang Pejabat Pemerintah

Foto Keluarga MH Thamrin; dokumentasi pribadi

Menjelang peralihan abad 19 ke abad 20, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 16 Februari 1894, lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Mohammad Hoesni. Nama Thamrin diambil dari nama ayahnya yaitu Thamrin Mohammad Thabri yang mana pada saat Mohammad Hoesni lahir, ayahnya berpangkat Ajun Jaksa Kepala di Pengadilan Distrik Batavia. Pada tahun 1908 diangkat menjadi wedana distrik. Dalam tata pemerintahan Kota Batavia waktu itu, jabatan wedana adalah jabatan tertinggi bagi orang bumiputra.

Oleh karena ayahnya merupakan pejabat pemerintah, Mohammad Hoesni Thamrin memperoleh pendidikan yang cukup baik. Pertama-tama ia dikirim ke Bijbelschool Pasar Baru, yang merupakan sebuah taman kanak-kanak. Kemudian ia masuk ke sekolah menengah yang sangat bergengsi, yaitu HBS (Hogere Burger School) Koning Willem Drie (KW III). Bahasa pengantar di sekolah-sekolah tersebut adalah bahasa belanda. Mayoritas muridnya adalah anak-anak orang Belanda atau Indo Belanda.  Namun Mohammad Hoesni Thamrin tidak menyelesaikan sekolahnya di Koning Willem III.

Diskriminasi Rasial antara Kaum Eropa dan Penduduk Pribumi

Sejak usia remaja, terutama setelah duduk di bangku HBS Koning Willem III, Mohammad Hoesni Thamrin mulai menyadari adanya ketimpangan kehidupan dan penghidupan yang mencolok antara masyarakat penjajah dengan masyarakat yang dijajah, khususnya di kota Batavia dan sekitarnya. Saat itu, diskriminasi rasial begitu hebat dirasakannya. Perlu diketahui bahwasanya penduduk Hindia Belanda dibagi menjadi tiga tingkat. Tingkat teratas adalah bangsa Eropa, tingkat kedua adalah bangsa Timur Asing seperti Tionghoa, Arab, dan India sementara tingkat terbawah adalah yaitu kaum pribumi.

Terdapat contoh kecil ketimpangan sosial dari diskriminasi rasial tersebut seperti: papan pengumuman yang terpampang di gerbang kolam renang ekslusif dengan tulisan berhuruf merah: “Terlarang bagi orang-orang pribumi dan anjing”. Orang-orang pribumi yang ada di tempat demikian hanya para pekerja yang ditugasi menjaga kebersihan. Hal itu sesuai dengan pandangan kaum kolonialis konservatif, yang memandang kaum pribumi hanya layak menjadi kuli bangsa lain.

Selain itu, ketimpangan-ketimpangan lainnya begitu terlihat dari kesejahteraan umum antara orang Eropa dengan orang pribumi. Contohnya adalah dari pemukiman yang ditinggali. Orang Eropa umumnya bertempat di kawasan elit seperti di sekitar Rijswijk (Jalan Veteran) dan di sekitar Noordwijk (Jl. Ir. H. Juanda), Tanahabang, dan Weltevreden (sekitar Medan Merdeka dan Lapangan Banteng) serta pemukiman di kawasan Menteng dan Gondangdia yang dibangun sejak tahun 1910 dengan sanitasi dan drainase yang sangat memadai. Kawasan Noordwijk pada zaman itu merupakan kawasan yang begitu elit, terdapat rumah mode ala Prancis, tempat menjual busana, parfum, sepatu, dan topi buatan Eropa. Di sana juga terdapat beberapa kafe yang popular, di antaranya adalah Maison Rikkers, tempat kongkow-kongkow kaum menengah atas, bahkan kaum politisi.

Kondisi pemukiman orang Eropa tersebut sangat kontras apabila dibandingkan dengan pemukiman umumnya penduduk pribumi yang kumuh di daerah-daerah rendah berawa-rawa. Keadaan kampung-kampung itu jauh dari layak huni, hanya dilalui jalan setapak, air bersih sukar didapat, bentuknya sangat semrawut. Kotoran manusia dan sampah berserakan di  mana-mana. Penduduknya sangat padat, umumnya pekerja kasar dan serabutan. Mungkin ketimpangan-ketimpangan demikian itulah yang mendorong Hoesni Thamrin untuk tidak menyelesaikan pendirikannya di HBS Koninng Willem III, agar dapat lebih leluasa ikut aktif memperbaikinya.

Tokoh-tokoh yang Mengispirasi seorang Mohammad Hoesni Thamrin

Thamrin Muhammad Thabri & Raden Mas Tirto Adhi Suryo

Raden Mas Tirto Adhi Suryo

Thamrin Muhammad Thabri yang merupakan ayah dari Mohammad Hoesni Thamrin merupakan ketua organisasi Sarekat Priyayi. Organisasi ini berdiri pada tahun 1906, dipelopori oleh Raden Mas Tirto Adhi Suryo. Sarekat Priyayi bergerak dalam bidang sosial, terutama membantu keuangan serta tempat tinggal bagi pelajar yang sekolah di Batavia. Menurut sejarawan Bob Hering pada tanggal 1 Januari 1907, R.M. Tirto Adhi Suryo melunjurkan Medan Priyayi, Koran pertama pribumi yang dikelolanya sendiri. dengan kolomnya yang bernama “Bagian Politik”, koran ini dalam waktu singkat memiliki 2000 pelanggan. Diterbitkannya pula majalah bulanan Suluh Keadilan yang cukup banyak pembacanya dari kalangan priyayi dan saudagar. Pada tahun 1908, diterbitkan majalah bagi perempuan Putri Hindia yang mendapat donasi dari Ibu Suri Ratu Belanda Emma von Waldeak-Pyrmont.

Dapat diperkirakan pemikiran-pemikiran progresif R.M Tirto Adhi Suryo sedikit banyak berpengaruh pula pada Hoesni Thamrin dalam bidang sosial, ekonomi dan politik pada masa remajanya.

3 Serangkai pendiri Indish Partij

Tiga Serangkai

Waktu Hoesni Thamrin masih bekerja di Kantor Karesidenan Batavia, pada akhir Juli 1913 tersiar berita ditangkapnya dr. Cipto Mangunkusumo dan R.M Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) dengan dakwaan penghasutan yang dapat mengganggu ketertiban keamanan. Peristiwa itu berasal dari rencana Pemerintah Hindia Belanda tanggal 1 November 1913, akan dilakukan perayaan secara besar-besaran, untuk memperingati seabad bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Rakyat di tanah jajahan pun ikut dikerahkan untuk memeriahkan pesta para tuannya. Didirikanlah komite-komite setempat yang akan memungut sumbangan. Hal itu membangkitkan Cipto dan Suwardi Suryaningrat untuk membentuk Komite Bumiputra. Panitia ini akan mengumpulkan dana untuk mengirim kawat ucapan selamat bagi Ratu Belanda, sekaligus memprotes dan mendesak agar anak negeri diberikan kebebasan politik dan lembaga perwakilan. Dokter Cipto menulis dalam De Express dengan judul “Semua buat satu, satu buat semua”, sementara Suwardi berjudul Als ik Nederlander yang mana artinya adalah Andaikan saya seorang Belanda.

Akibat hal tersebut, Cipto dan Suwardi ditangkap pada 30 Juli 1913 dengan memtuskan Cipto Mangunkusumo diasingkan ke Banda dan Suwardi ke Bangka dengan catatan bahwa mereka diizinkan untuk meninggalkan wilayah Hindia Belanda. Pada tanggal 6 September, Cipto dan Suwardi meninggalkan Tanah Air menuju Negeri Belanda dengan sebuah kapal Jerman. Di kapal ini, mereka bertemu dengan E.F.E Douwes Dekker (Dr. Danudirjo Setiabudhi) yang juga mengalami nasib sama. Di Belanda, perjuangan tiga serangkai dilanjutkan dengan gencar karena undang-undang di sana lain daripada di tanah jajahan. Mereka mendapat dukungan dari pihak-pihak yang bersimpati dan mereka berhasil menerbitakan majalah De Indier.

Tiga serangkai ini kemudian mendirikan Indische Partij dengan arah pergerakannya menjunjukkan bahwa dirinya adalah organisasi yang bergerak di bidang politik yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Indische Partij didirikan pada tanggal 25 Desember di kota Bandung. Indische Partij bertujuan untuk membangunkan rasa cinta di dalam hati setiap orang Hindia terhadap Bangsa dan Tanah Airnya. Parai ini membawa gerakan baru di dalam pergerakan kebangsaan Indonesia, yaitu aliran yang disebut nasionalisme radikal, karena Indische Partijberani mendengung-dengungkan semboyan Indie los van Nederland, yang artinya Hindia atau Indonesia lepas dari Negeri Belanda.

Pada masa itu, untuk mendirikan suatu organisasi baik yang bersifat sosial ekonomi maupun yang bergerak di bidang politik harus meminta izin kepada Pemerintah Kolonial Belanda. Hal ini merupakan salah satu bentuk tindakan represif pemerintah colonial untuk mengantisipasi tumbuh dan berkembangnya gerakan nasionalisme Indonesia. Pada tanggal 7 Januari 1913 para pemimpin Indische Partij mengajukan surat permohonan agar Indische Partij disahkan dan diakui sebagai badan hukum. Namun pada tanggal 4 Maret 1913 menolak permohonan Indische Partij karena menganggap partai ini organisasi yang berbahaya dan berpotensi mengganggu serta mengancam ketertiban umum. Kemudian para pemimpin Indische Partij berusaha mengubah Anggaran Dasar dan tujuan partai agar tidak dianggap terlalu radikan dan mengajukan lagi permohonan namun kembali ditolak, bahkan dinyatakan sebagai partai terlarang. Demi keselamatan anggotanya, maka pada tangagl 31 Maret 1913, pimpinan Indische Partij memutuskan untuk membubarkan partainya agar Pemerintah Kolonial tidak dapat sewenang-wenang menangkapi anggotanya.

Hal-hal tersebut itulah yang dijadikan bahan pertimbangan oleh Hoesni Thamrin dalam menentukan sikap dan taktik politiknya dalam kerangka strateginya mencapai Indonesia Merdeka. Taktik perjuangannya tampak bertahap, selangakh demi selangkah sesuai dengan sitausi dan kondisi, baik lokal, regional, nasional, bahkan internasional.

Catatan tambahan:
Wedana: pembantu pimpinan wilayah Daerah Tingkat II (kabupaten) yang berlaku pada masa Hindia Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia yang dipakai di beberapa provinsi.
Bumiputra: anak negeri; penduduk asli
Dr. Danudirjo Setiabudhi: kini menjadi nama salah satu Jalan di Kota Bandung, Jl Dr. Setiabudhi.

Referensi: Sepak Terjang Mohammad Hoesni Thamrin UP. Museum Joang 45

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

51 thoughts on “Perjuangan Sang Elang Betawi – Part I: Pendahuluan

  1. Wah suka neh cerita tentang sejarah. Jadi reminder buat diri sendiri, ayuk baca lagi kisah sejarah pahlawan Ratna.

    Makasih ya sudah menulis ini.
    Jaman sekarang sedikit anak muda yang tak mengenal para pahlawan bahkan di lingkungan tempat tinggalnya.

    Dulu saya sering bareng teman napak tilas tentang nama tokoh yang di jadikan jalan du Jakarta.

    Semangat Kartini, lanjutkan ya. Ditunggu tulisan kisah pahlawan berikutnya

  2. Dari sini jelas terlihat bahwa yang kita butuhkan itu kesempatan. Kesempatan bisa dibuat, bukan hanya ditunggu.

    Jika ada kesempatan setiap orang indoseia bisa spt MH Thamrin. Mari kita buat kesempatan utk kita menjadi besar.

  3. Senang sekali saya dengan pilihan tulisan kakak untuk arisan kubbu. Penyajian konteks sejarah yang utuh, akurat dan mencerahkan untuk pembacanya. Ditunggu ya kak ‘Perjuangan Sang Elang Betawi Part II ya …..

    1. untuk arisan blog ataupun bukan, aku ga hanya ingin memberikan tulisan yang menghibur tapi juga memberikan manfaat, teh. nanti di arisan selanjutnya akan ada part IInya..

  4. Jadi inget pelajaran sejarah jaman sekolah dulu nih berpuluh tahun lalu 🙂 Ngapalin tentang Indish Partij.
    Dulu dan sekarang hampir mirip sih ya kalau mau mendirikan organisasi politik bukannya izin jua ya? duh maaf gak paham dunia politik saat ini

    1. iya memang hrs izin kak.. hanya saja peraturan dulu kn peraturannya kolonial belanda yg mana mereka pasti lebih strict lagi dalam hal setuju/tidaknya supaya engga merugikan mereka..
      nah dari contoh yg udh dilakuin indish partij, bisa dijadikan pelajaran untuk MH Thamrin..

    1. Kak Kartini mengenalkan sejarah dengan cara yang lain. Dulu di zaman aku sekolah aku benci pelajaran sejarah. Saat ikutan arisan blog aku terpaksa baca sejarah.

      Terima kasih Kak Kartini atas tulisannnya yang mencerahkan pengetahuan sejarahku.

    1. Salfok sama tahun lahirnya yg 94 wkwkwk kirain salah ketik 1994 ternyata pas liat lagi 1894 hehe. Ingin request melanjutkan cerita MH thamrin mengenai taktik politk dan perjuangannya untuk ikut serta dalam mencapai indonesia merdeka, mungkinkah? Untuk baca buku sejarah mumet juga kalo udah di rangkum mantap lah ya. 😆

  5. Kak Kartini mengenalkan sejarah dengan cara yang lain. Dulu di zaman aku sekolah aku benci pelajaran sejarah. Saat ikutan arisan blog aku terpaksa baca sejarah.

    Terima kasih Kak Kartini atas tulisannnya yang mencerahkan pengetahuan sejarahku.

  6. Belum banyak yang mengulas tentang Thamrin. Padahal orang besar, sampai namanya aja dijadikan nama jalan utama di Jakarta. Seneng baca ini. Jadi makin tau tentang mereka. Trus mbayangin kehidupan mereka di zaman itu. Btw itu RM Tirto Adhi Suryo, Minke bukan ya?

    1. betul mbak nunik, agar orang2 hanya tahunya ya nama jalan, universitas.. seperti itu, semoga tulisan ini dapat mengenalkan beliau yg memiliki banyak jasa untuk indonesia terutama jakarta dapat banyak yg kenal…

      aku belum baca buku bumi manusia ataupun nonton filmnya.. tapi setahuku, iya mbak tokoh minke ini adalah RM Tirto Adhi Suryo. denger2 di cerita bumi manusia Minke jg sekolah di STOVIA kan yaa

    1. lebih tepatnya sejarah MH Thamrin kak..
      aku memasukkan tokoh 3 serangkai itu krn pemikiran2 atau tindakan2, atau taktik politik dr MH Thamrin bisa jadi termotivasi dr mereka..

  7. Aku seneng banget cerita sejarah ka. Ngerefersh ingatan hahaha terus nulis tentang sejarah ka biar bisa dibaca sama semua orang. Karena sejarah itu penting dan salah satu cara ngerusak moral anak bangsa masa kini adalah membuat mereka lupa sejarah ehhehee…. jadi terus nulia ttg sejarah ya ka….

    1. setuju, kalau saja anak bangsa sekarang melek sejarah.. pasti mereka akan sangat mencintai dan bangga terhadap indonesia seutuhnya dengan cara terus memikirkan kontribusi apa yg dapat diberikan untuk negara.. siap kak, ditunggu part ii nya yaa

  8. Ternyata salah satu tokoh idolanya adalah Minke. Saya pernah berkunjung ke museumnya. Disana dijelaskan sama bapak2 yang ada di museum tapi tidak sedetail ini. Lain waktu pengen mampir lagi kesana. Makasih buat penjabaran sejarahnya yah mbak💚💚

    1. sepertinya lebih tepatnya adalah sosok yg mempengaruhi pemikiran, taktik politik atau dijadikan bahan strategi beliau nanti.
      saya kemarin ke sana bener2 blong hanya baca2 sendiri saja tidak ada yg memandu. memang paling enak napak tilas itu ada pemandunya. dijelaskan detil2 tiap sisi bangunan dengan kisah yg terjadi.

      semoga bermanfaat kak..

  9. Dulu pertama pindah ke Jakarta sempat heran juga..Nama Mh Thamrin ada diabadikan di beberapa tempat. Memang pas belajar sejarah dengar ceritanya, tapi dari artikel ini makin lengkap dapat informasi. Makasih sudah mengingatkan kembali perjuangan Beliau, Kak

  10. Kaaar, seperti biasa ya tulisanmu tentang sejarah bikin menarik untuk dibaca. Padahal dulu di sekolah aku sering tidur pelajaran sejarah. Hahaha. Ditunggu part 2 & tulisan sejarah lainnya ya.

  11. Waktu pertama kali Kubbu bikin trip ke museum MH Thamrin aku kaget loh, ga nyangka ada museum tersembunyi dan besar di balik gang di samping pasar Kenari. Btw, salut aku sama Kartini, tiap nulis sejarah selalu dengan banyak referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.