Perjuangan Sang Elang Betawi – Part II: Sepak Terjang Memperjuangkan Kaum Betawi

Jalanan luas dan vila besar terlukis bagi siapa saja yang membayangkan kota Batavia kala itu. Bangunan-bangunan elit gaya Eropa yang dipenuhi kalangan atas menghiasi kota Batavia kala itu. Namun, siapa yang menyangka. Di balik kegemerlapan kota, di sudut lain, di sisi pinggir kota Batavia, terdapat sebuah tempat yang redup, yang tidak terlihat saat terang hari oleh para penguasa, yang tidak dapat terlihat oleh siapapun kala malam hari. Gang-gang kecil bau, apakah rumah ataukah sampah tidak ada yang dapat membedakan. Jauh dari kesan jalanan lebar nan mulus, melainkan jalan becek yang menjijikan. Itulah, sisi lain kota Batavia.

 

Sebagai pemuda yang secara financial cukup kuat, fasih berbahasa Belanda dan Inggris, serta berkedudukan sebagai perusahaan pelayaran terbesar, Hoesni Thamrin tidak sulit untuk berkenalan dengan sejumlah penganut politik etis Belanda. Politik etis merupakan politik balas budi kepada warga pribumi jajahan Hindia Belanda yang menderita akibat kebijakan sistem Tanam Paksa yang memberikan kemakmuran bagi Negara Belanda. Tanam Paksa adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah colonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah colonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun pada kebun-kebun milik pemerintah yang dianggap semacam pajak.

Johannes Van den Boch

Hoesni Thamrin bahkan  bersahabat dengan Daan van der Zee, Sa Koperberg, dan E.F.E Douwes Dekker yang merupakan penganut sosialisme. Daan van der Zee sejak tahun 1920 menjabat sebagai sekretaris Dewan Kotapraja Batavia. Olehnya, Hoesni Thamrin diperkenalkan dengan beberapa anggota Indische Sosial Democratiche Partij (ISDP) dan memperbincangkan politik di Maison Rikkens* di daerah elit Franche Buurt*. Perbincangan-perbincangan tersebut membulatkan tekad Hoesni Thamrin untuk terjun dalam bidang politik, sebagai anggota Dewan Kotapraja Batavia. Ia mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Kotapraja Batavia pada pemilihan yang dilaksanakan pada tanggal 25 September 1919 dan ia pun terpilih.

Pada tahun pertama sebagai anggota dewan, sebagai anggota baru yang belum berpengalaman, ia mendukung berbagai  usul anggota lain yang dianggap baik, terutama yang menyangkut kepentingan penduduk miskin. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, ia dengan cepat mempelajari “cara main” di sana dan ia pun berkembang dengan cepat menjadi seorang anggota dewan dengan kemampuan pidato dalam bahasa Belanda yang fasih. Perlu diketahui bahwasanya anggota dewan ini tidak hanya terdiri dari pribumi, melainkan Belanda. Gaya berdebatnya menimbulkan kekaguman dan rasa hormat bagi kawan maupun lawan. Kemampuannya itu sering kali menyudutkan Pemerintah ke polisi sulit sehingga Pemerintah kewalahan untuk memberi jawaban.

Sisi Lain Batavia Kala Itu..

Hal-hal yang oleh sebagian anggota Dewan Kotapraja Batavia mungkin diabaikan seperti kehidupan dan penghidupan penarik gerobak, kusir, supir penjaja makanan, pengemis dan gelandangan, serta sekolah bagi rakyat melarat, oleh Hoesni Thamrin ditampilkan ke permukaan, baik dalam forum dewan, maupun di luar forum dewan.

Pada salah satu pertemuan Dewan, ia menyampaikan kritik agak keras terhadap cara pendekatan dewan. Kritiknya itu didukung kuat oleh anggota dewan lain yaitu Roelof Schotman dari sosial demokrat. Roelof Schotman menyatakan bahwa dewan tidak pernah memperhatikan kampung-kampung di Batavia dan dewan juga kurang peduli terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di perkampungan. Ia menyimpulkan bahwa program untuk memperbaiki keadaan sebagaimana disampaikan Hoesni Thamrin haruslah dilakukan tanpa ditunda-tunda lagi.

Thamrin adalah anggota dewan yang menganggap bahwa mandat untuk membela kepentingan penduduk bumi kota merupakan di atas segalanya. Bagaimana tidak, kondisi yang begitu timpang yang dirasakan kaum pribumi begitu nyata sejak dahulu. Contohnya seperti perbaikan kampung di daerah Kramat dan Kwitang ditunda untuk dialihkan pada daerah Menteng, tempat kediaman ekslusif bagi orang Eropa, ketika proyek tempat tinggal itu baru saja dimulai. Daerah pemakaman pribumi selalu terkena banjir saat musim hujan, sehingga tidak mungkin melakukan penguburan. Harga tanah di pemakaman orang Eropa di Landhof (tempat pemakaman orang Eropa) ditetapkan 10 gulden dan menjadi hak milik, sedangkan tempat pemakaman orang pribumi di Mangga Dua harganya 4,5 gulden tanpa menjadi hak milik.

Selain itu, terdapat perbedaan yang kontras antara jalan-jalan raya Batavia yang lebar dengan jalan dan gang-gang di kampung. Jalan-jalan raya yang bagus hanya menyembunyikan kampung-kampung jorok dengan lorong-lorong yang tidak dapat dilewati. Sejumlah kampung keadaannya sangat menyedihkan, seperti Kampung Pondok Seng, Gang Abu, Kampung Kelapa, Kampung Sawah Besar, Kampung Krekot, Kampung Pintu Besi, serta tempat mandi umum di Gang Kouw, Gang Lie, Jembatan Lima, dan Kali Got, semua benar-benar jorok dan penuh limbah. Selain itu, keadaan seumlah kampung jauh di bawah standar seperti Kampung Tanah Tinggi, Gang Sekolah, Gang Ajudan, Kampung Kepuh, Kampung Pulau Kramat, Kampung Pejambon, dan Kampung Petojo. Begitu banyak tempat kotor yang menjadi sarang kuman penyakit dan tempat-tempat gelap pada waktu malam tanpa adanya penerangan.

Sepak Terjang dalam Membela Orang Kecil

Pada bulan Februari 1922, Thamrin menyatakan sangat mendesaknya perbaikan kampung dan ia menyatakan kekecewaannya terhadap kemajuan dari program tersebut karena hasil yang dicapainya amat sedikit. Ia kecewa melihat kenyataan bahwa sedikit yang telah dilakukan oleh dewan bagi kepentingan kampung. Thamrin menekankan bahwa  di kampung-kampung tersebut tinggal ratusan ribu penduduk yang sehari-hari hidup dalam bahaya karena lingkungan yang jorok, sanitasi yang buruk, dan kurangnya fasilitas memadai untuk penampungan sampah. Ia pun mengusulkan penyediaan dana 100.000 gulden yang dihimpun dari pemotongan berbagai pos yang lain dari anggota dewan bagi perbaikan umum kebersihan kampung. Usulnya banyak didukung oleh beberapa anggota dewan dari kalangan pribumi serta Schotman, dan Van Marle (anggota dewan dari kalan gan Belanda), namun walikota tetap menganggarkan 30.000 gulden bagi sektor pribumi selagi menunggu hasil perbaikan kampung. Miris, anggaran 30.000 gulden tersebut telah dialokasikan secara tidak semestinya, mengubah peruntukkannya secara sepihak untuk kepentingan daerah tuan tanah dan Inlandsch Bestuur (pangreh praja, salah satu dari dua bentuk birokrasi pemerintahan di Hindia Belanda).

Pada 13 Juni 1923, akhirnya dalam sidang yang digelar walikota menyetujui mengenai perbaikan kampung untuk dilaksanakan karena pemerintah menyadari urgensi perbaikan kampung. Mereka sejutu bahwa perbaikan kampung perlu ditangani dengan serius. Berbagai perdebatan terjadi dalam sidang antara Thamrin beserta kawan-kawannya dengan anggota dewan lain dan akhirnya usulnya pun diterima. Hasil dari sidang, terdapat usul pembentukan sebuah komite untuk menyiapkan rencana perbaikan kampung. Komite ini melibatkan beberapa pegawai sipil pribumi di luar dewan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman khusus tentang kondisi kampung.

Batavia Tempo Dulu via hipwee.com
Batavia Tempo Dulu via hipwee.com
Batavia Tempo Dulu via hipwee.com

Selain itu, Thamrin mengutip Bupati Batavia Achmad Djajadininingrat yang menyatakan tentang gawatnya keadaan kaum miskin di daerah pinggiran Betawi. Mereka sering kekurangan makan, tinggal berdesak-desakn di pondok-pondok tanpa ventilasi dengan penghuni empat sampai lima orang miskin tanpa pekerjaan bersama orangtua tak berdaya yang masih bekerja maupun yang menganggur. Oleh karena itu, Thamrin mengundang walikota dan anggota dewan yang lain untuk mengikuti perjalanan bupati meninjau kampung-kampung untuk menyaksikan sendiri keadaan fisik dans osial kampung yang ada. Sikap walikota yang sebelumnya berencana menaikkan pajak penduduk, dikritik oleh Hoesni Thamrin berdasarkan temuan-temuan dari hasil peninjauan kampung tersebut.

Daya upaya Thamrin yang tak kenal lelah untuk meringankan beban penderitaan penduduk pribumi yang miskin, yang sebelumnya ia katakan sebagai tanpa harapan, ternyata membawa perubahan dramatis. Walikota memberikan perhatian terahadap argumen Thamrin menyangkut perbaikan kampung dan pelapisan jalan, serta hal-hal lain yang perlu diperhatikan. Sejak pengangkatannya sebagai anggota dewan, Thamrin semakin giat memperjuangkan ide-idenya untuk memperbaiki kondisi masyarakat kaum Betawi. Posisinya pun semakin lama semakin baik, ia mendapat kepercayaan untuk menduduki jabatan-jabatan kemasyarakatan yang penting. Pada tahun 1929, terjadi kekosongan posisi wakil walikota Bataia yang kemudian diisi oleh Mohammad Hoesni Thamrin, karnea dianggap mampu untuk menduduki jabatan itu. Thamrin selalu mencari cara agar perjuangannya lebih bermakna dan membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia.

 

*Maison Rikkerstempat kongkow-kongkow kaum menengah ke atas, bahkan kaum politisi

*Franche Buurt : lingkungan Prancis. Disebut begitu, bukan karena penduduknya melulu orang Prancis, tapi karena adanya beberapa rumah mode ala Prancis, menjual busana, parfum, sepatu, dan topi buatan Eropa.

Catatan:

Dewan Kotapraja dibentuk pada tahun 1620, dewan ini terdiri dari lima warga kota yang diangkat ditambah empat pejabat Kompeni

 

Artikel Sebelumnya: Perjuangan Sang Elang Betawi - Part I: Pendahuluan

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

43 thoughts on “Perjuangan Sang Elang Betawi – Part II: Sepak Terjang Memperjuangkan Kaum Betawi

  1. Aku baru tahu tentang sejarah perjuangan hoesni thamrin. Tnyata sejak dahulu sudah ada perjuangan untuk memperjuangkan rakyat kecil, khususnya pinggiran daerah batavia.

    Artikel yang sangat menarik

  2. Saya selalu hanyut dengan tulisan ka Kartini, merasa kembali ke Batavia tempo dulu apalagi ditambah dengan ilustrasi gambar. Saat ini memang Indonesia sedang membutuhkan wakil rakyat yang seperti Bapak Mohammad Hoesni Thamrin, seorang Betawi yang inspiratif bagi politisi muda saat ini.

  3. Sang Elang Betawi. Sehebat ini yah bapak Hoesni Thamrin memperjuangkan Betawi. Banyak sisi lain yang tidak pernah saya tahu dari seorang Hoesni Thamrin. Makasih yah mbak. Banyak pengetahuan baru aku dapetin dari tulisan mbak Kartini
    🙏

  4. Walaupun terlambat tahu, saya mesti nih mengucapkan terimakasih kepada MH Thamrin Sang Elang Betawi atas usahanya yang signifikan untuk terwujudnya lingkungan tinggal yang layak / manusiawi bagi warga Betawi saat itu sejak jadi anggota Dewan Kota Praja hingga Wakil Walikota Batavia. Dear Kak Kartini, terimakasih untuk tulisan2 nasionalis nya ya.

  5. Saluuttt, Hoeni Thamrin peduli banget sama lingkugan sekitarnya. Sejujurnya aku sedih pas ke museumnya, yang berkunjung sedikit sekali 🙁

    1. Sebaik baiknya ilmu adalah yg bermanfaat. Hoesni Thamrin dari kalangan yg terpelajar dapat memperjuangkan rakyat miskin. Ternyata tata kota memang tidak Djakarta memang tidak balance dari Jaman Belanda.

  6. Kalau dipikir2 dlu Belanda itu kejam banget ya pas Jajah Indonesia. Hak kemanusiaan banyak yang gak dianggap, bahkan cenderung diperlakukan layaknya budak. Duhhh gak kebayang betapa menderitanya rakyat Indonesia pada saat itu. Syukurnya muncul tokoh muda seperti Hoesni Thamrin yang memperjuangkan hak rakyat. Semoga kisah tentang Hoesni Thamrin ini menginspirasi kita semua utk berbuat bagi kemanusiaan di Indonesia..makasih udah bertutur tentang sejarah mba Kartini.

  7. Kedatangan seorang Hoesni Thamrin bagaikan angin segar bagi warga Batavia saat itu, ia sangat memperjuangkan hak warga sipil pribumi untuk mendapatkan kesetaraan hidup. Sepertinya cerita ini belum selesai ya, Mbak? Aku penasaran bagaimana perjuangan akhirnya nih

  8. Jalan-jalan bagus hanya untuk menyembunyikan tempat-tempat kumuh, dan dana pembangunan kampung disalahgunakan. Sepertinya sejarah terus berulang. Semoga ada penerus sang elang betawi di tengah-tengah kita.

  9. Baca tulisan ini bisa membawa gw merasain gimana grergetnya perjuangan sang elang betawi alias M.H Thamrin..hehe..
    Ditunggu kelanjutannya..

    Nice article 🙂

  10. Wah aku jadi paham sosok Thamrin. Jujur masa SD pernah diceritain sama guru Sejarah dan belum detail lengkap bacanya.

    Ternyata beliau banyak sumbangsih ya buat Jakarta dan masyarakat Betawi

  11. Perjuangan tokoh nasional ini untuk membantu masyarakat kelas bawah memang bikin takjub.
    Zaman sekarang saja masih banyak gang-gang sempit yang kotor dan bau. Gak bisa dibayangin saat itu gimana kondisinya.

  12. Wahhh pengetahuan baru lagi. Tapi sepertinya masalah semacam ini seperti kekal abadi. Di zaman siapapun selalu ada. Saya juga yakin bahwa pahlawan untuk mereka yang membutuhkan juga selalu ada. Namun sayang, tidak semua orang tau tentang kebaikan yang sudah mereka lakukan. Terima kasih banyak sudah membagi fakta baru kepada saya kak

  13. Makasih Mbak Kartini.. sudah menceritakan kembali tentang perjuangan salah satu pahlawan kita yaitu Muhammad Hoesni Thamrin Sang Elang Betawi. Tulisannya mendetail tapi enak dibaca😊

  14. Wah keren sekali Pak thamrin ini yah. Saya selama ini hanya familiar dengan ia sebagai nama Jalan protokol di Jakarta. Ternyata sekeren ini, artikelmu kaya bgt ya Kar.

  15. Dari dulu daerah menteng sudah istimewa ya. Jaman belanda jadi tempat tinggal meneer2 belanda. Jaman sekarang rumahnya keren2. Heheh.
    Bapak hoesni thamrin berjasa banget memperjuangkan hak penduduk asli jakarta

  16. Husni Thamrin memang salah tokoh pahlawan Betawi.
    Kebetulan saya juga sempat mengunjungi museum Husni Thamrin di jalan Kenari.
    Beliau juga merupakan tokoh dibalik Sumpah Pemuda .

  17. Eh demi apa lho, aku ingin sekali nulis tentang museumnya. Cuma masih ngerasa miskin informasi ttg tokoh ini. Ya ampun, terimakasih dek. Tulisannya bisa jadi referensi aku.

    1. Akhirnya part II yang aku tunggu-tunggu. Salut banget sama perjuangan Hoesni Thamrin, bener-bener memperhatikan kaum pinggiran. Jasanya akan selalu dikenang, semoga makin banyak anak muda seperti Hoesni Thamrin.
      Nice articel kak, semakin menambah wawasanku. Thank you

  18. Benar-benar sebuah perjuangan dari hati ya sang Elang Betawi untuk memperbaiki kehidupan masyarakat saat itu, terima kasih ka buat tulisannya.

  19. Kar, aku ini salah satu penggemar tulisanmu yang suka membahas sejarah. Cara kamu nulis menarik banget! Bisa membuat aku membayangkan situasinya. Keep up the good work ya!

    Dan, aku baru tahu perjuangan MH Thamrin si Elang Betawi. Beliau fleksibel dan multi talenta ya ternyata. Salute!

  20. Sebaik baiknya ilmu adalah yg bermanfaat. Hoesni Thamrin dari kalangan yg terpelajar dapat memperjuangkan rakyat miskin. Ternyata tata kota memang tidak Djakarta memang tidak balance dari Jaman Belanda.

  21. sebuah sejarah betawi yang jujur aku baru baca dari tulisan kakak, batavia tempo dulu bener2 bikin aku ingin merasakannya . masih snagat bersih dan penuh perjuangan kali ya kak.. tulisan ini aku sukaa bangettt kakk..

Leave a Reply to endah marina Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.