Program Kampung Zakat untuk Permasalahan Sosial di Indonesia

Mengenal Zakat

Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya). Zakat merupakan rukun keempat dari rukun Islam. Oleh karena itu, hukum zakat adalah wajib bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Dalam zakat kita juga mengenal istilah nisab dan haul. Nisab adalah batasan atau kadar kekayaan minimum yang diwajibkan zakat. Bilamana batasan minimun ini tidak tercapai maka tidak diwajibkan membayar zakat. Sementara haul adalah batasan setahun kepemilikan kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini juga dapat diartikan jika kekayaan yang kita miliki belum genap setahun maka tidak wajib dikeluarkan zakat.

Lalu, apakah sebutan bagi orang yang dikenai kewajiban membayar zakat? Orang yang dikenai kewajiban membayar zakat atas kepemilikan harta yang telah mencapai nisab dan haul adalah Muzakki. Syarat Muzakki ada 3, di antaranya adalah:

  1. Islam: Muzakki haruslah beragama islam. Selain islam tidak diwajibkan untuk berzakat
  2. Merdeka: Muzakki haruslah merdeka, artinya seseorang tersebut bukanlah seorang budak yang harus patuh pada tuannya
  3. Memiliki harta yang dizakatkan.

Macam-macam Zakat:

  • Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan umat Muslim menjelang hari raya Idul Fitri atau pada bulan Ramadan. Zakat fitrah dapat dibayar dengan setara 3,5 liter (2,5 kilogram) makanan pokok dari daerah yang bersangkutan. Makanan pokok di Indonesia adalah nasi, maka yang dapat dijadikan sebagai zakat adalah berupa beras.

  • Zakat Maal

Zakat maal menurut bahasa berarti kecenderunan atau segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk dimiliki dan disimpannya sementara menurut syarat berarti segala sesuatuy yang dapat dimiliki atau dikuasai dan dapat digunakan (dimanfaatkan) sebagaimana lazimnya.

Harta yang wajib dizakati:

  1. Binatang ternak
  2. Harta perniagaan
  3. Harta perusahaan
  4. Hasil pertanian
  5. Barang tambang dan hasil laut
  6. Emas dan perak
  7. Properti produktif

Syarat-syarat harta yang wajib dizakati:

  • Kepemilikan sempurna
  • Berkembang (produktif atau berpotensi produktif)
  • Mencapai Nisab
  • Melebihi kebutuhan pokok
  • Terbebas dari utang
  • Kepemilikan satu tahun penuh (haul)

Lalu apakah sebutan bagi orang-orang yang berhak menerima zakat? Orang-orang yang berhak menerima zakat disebut Mustahik. Menurut kaidah Islam, orang-orang yang berhak mendapatkan zakat dibagi menjadi 8 golongan. Golongan-golongan tersebut adalah:

  1. Fakir

Golongan orang yang hampir tidak memiliki apapun sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.

  1. Miskin

Golongan orang yang memiliki sedikit harta, tetapi tidak bisa mencukupi kebutuhan dasar untuk hidupnya.

  1. Amil

Orang yang mengumpulkan dan membagikan zakat.

  1. Mu’alaf

Orang yang baru masuk atau baru memeluk agama Islam dan memerlukan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru.

  1. Hamba Sahaya

Orang yang ingin memerdekakan dirinya.

  1. Gharimin

Orang yang berutang untuk memenuhi kebutuhannya, dengan catatan bahwa kebutuhan tersebut adalah halal. Akan tetapi tidak sanggup untuk membayar utangnya.

  1. Fiisabilillah

Orang yang berjuang di jalan Allah.

  1. Ibnus Sabil

Orang yang kehabisan biaya dalam perjalanannya dalam ketaatan kepada Allah.

Beberapa Permasalahan Sosial di Indonesia

Kemiskinan menjadi masalah sosial yang menjadi momok di Indonesia. Angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi walaupun berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa terjadinya penurunan presentase tingkat kemiskinan dari September 2018 ke Maret 2018 dari 9,66 persen menjadi 9,41 persen setara dengan 25,14 juta penduduk. Penurunan kemiskinan terjadi di kota dan desa masing-masing dari 13,10 persen ke 12,85 persen dan 6,89 persen ke 6,69 persen pada September 2018 ke Maret 2019. Diketahui dari data tersebut bahwa disparitas kemiskinan kota dan desa masih tinggi. Selain itu, tingkat kemiskinan di desa pun dua kali lipat lebih tinggi dari tingkat kemiskinan di kota. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu bentuk masalah sosial di Indonesia.

Tingkat kemiskinan yang tinggi ini juga dapat menimbulkan masalah sosial lain di Indonesia seperti kesehatan. Masalah sosial yang seringkali dialami oleh masyarakat tentang adanya kesehatan yang mahal. Kesehatan ini dikendari dengan keadaan masyarakat yang kurang mampu akan merasa kesulitan untuk mendapatkan haknya di dalam kesehatan. Ketidakberdayaan inilah membuat masayakat miskin sulit mendapatkan kesehatan yang baik.

Salah satu faktor terjadinya kemiskinan ini adalah tingkat pengangguran di Indonesia yang tinggi. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, diantaranya ketidakseimbangan antara pekerjaan dengan jumlah tenaga kerja, SDM di Indonesia yang tidak dapat mengikuti kemajuan teknologi, digantinya tenaga kerja manusia degan teknologi/robot, rendahnya pendidikan dan keterampilan dari SDM di Indonesia sehingga SDM di Indonesia masih kalah saat berkompetisi dengan tenaga kerja dari negara lain, dan masih banyak hal lainnya yang menjadi faktor penyebab tingginya pengangguran di Indonesia.

Dari banyaknya faktor penyebab pengangguran di Indonesia, kita dapat menggaris bawahi tentang rendahnya pendidikan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah tidak meratanya pendidikan di daerah-daerah tertinggal di Indonesia. Hal ini berhubungan erat dengan kemampuan masyarakat dalam kualitas dan keterampilan yang diberikan sehingga mereka akan kalah saing dengan tenaga kerja dari negara lain. Padahal pendidikan merupakan faktor dalam menggerakan perekonomian suatu bangsa. Data UNESCO tahun 2013 menyebutkan Indonesia menduduki peringkat 121 dari 185 negara ditinjau dari mutu pendidikannya.

Ketiga hal tersebut tentunya saling berkaitan. Kita seperti tidak tahu apa awal mula yang menyadi penyebab utama permasalahan besar di Indonesia. Apakah dimulai dari pendidikan yang rendah, ataukah dimulai dari tingkat kemiskinan yang tinggi, atau dikarenakan tingkat pengangguran yang tinggi? Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia memikirkan dan menjadi penggerak bahkan berperan dalam menyelesaikan masalah-masalah besar yang ada di Indonesia. Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan mengeluarkan dana zakat.

Bagaimana Dana Zakat Dapat Digunakan Untuk Permasalahan Sosial di Indonesia?

Beberapa permasalahan sosial yang ada di Indonesia membuat Bimas Islam Kementerian Agama RI mencetuskan sebuah program yang dinamakan Kampung Zakat. Kampung Zakat adalah program yang dibuat oleh Bimas Islam (Bimbingan Masyarakat Islam) yang bertujuan untuk memberdayakan dana ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah) untuk mustahik dengan memberikan kemudahan, antara lain; pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, kebutuhan sembako tercukupi, pelayanan, dan perlindungan sosial, pembinaan mental, dan membuka lapangan pekerjaan. Hal tersebut diperkuat dengan hasil penelitian Islamic Development Bank (IDB) maupun BAZNAZ yang bekerjasama dengan FEM IPB, diketahui bahwa potensi zakat di Indonesia bisa mencapai ratusan triliun rupiah.

Selain itu, program Kampung Zakat diharapkan dapat meningkatkan standar taraf hidup para  mustahik dengan kegiatan-kegiatan pemberdayaan seperti pelatihan, pendampingan, penyuluhan, dan pembinaan yang bersumber dari dana ZIS. Harapannya setelah adanya program Kampung Zakat, akan lahir muzakki yang bisa ikut membangun kemandirian di daerah asalnya. Memang seharusnya para mustahik tidak hanya mendapatkan bantuan berupa uang atau berupa santunan saja tanpa adanya pengembangan Sumber Daya Manusia. Program ini terlaksana dengan melibatkan banyak pihak diantaranya Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), dan Lembaga Amil Zakat (LAZ).

source: instagram.com/literasizakatwakaf
source: instagram.com/literasizakatwakaf

Target pelaksanaan Kampung Zakat tahun 2019 dilaksanakan di 7 lokasi dan 7 provinsi di antaranya; Bekasi (Jawa Barat), Kab. Indragili Hilir (Bekasi), Kab. Aceh Singkil (Aceh), Kab. Bulukamba (Sulawesi Selatan), Kab. Nunukan (Kalimantan Utara), Kab. Buru (Maluku), Kab. Nabire (Papua). Sementara itu target pelaksanaan yang sudah tereaslisasi di tahun 2018 telah dilaksanakan di 7 lokasi di antaranya; Kab. Lebak (Banten), Kab. Seluma (Bengkulu), Kab. Lombok Barat (NTB), Kab. Balu (NTT), Kab. Halmahera Timur (Maluku Utara), Kab. Raja Ampat (Papua Barat), Kab. Sambas (Kalimantan Barat).

Seperti halnya Kampung Zakat Banten di Kabupaten Lebak yang merupakan target pelakasanaan di tahun 2018, peserta diberikan pelatihan-pelatihan yang dapat menghasilkan pendapatan seperti pengolahan pisang menjadi produk keripik dengan berbagai varian rasa dan aneka masakan dan pengolahan gula aren yang merupakan salah satu produk unggulan Desa Ciladeun, salah satu desa yang menjadi target pelaksanaan program Kampung Zakat. Selain itu, para peserta juga diberikan pelatihan-pelatihan lain seperti pelatihan bantuan hidup dasar dan pelatihan Kampung Tanggap Bencana yang diperuntukkan kepada masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang memiliki ancaman yang besar terhadap tsunami. Di luar pelatihan-pelatihan, disediakan pula perpustakaan keliling untuk meningkatkan literasi anak-anak. Di akhir, diadakan sebuah Expo Kampung Zakat sebagai salah satu bentuk promosi hasil pelatihan usaha peserta Kampung Zakat.

Sementara itu, salah satu program Kampung Zakat yang telah diresmikan pada target pelaksanaan tahun 2019 adalah program Kampung Zakat di Desa Kahayya,  Bulukamba, Sulawesi Selatan. Pemilihan desa Kahaya sebagai kampung zakat berdasarkan hasil data Indeks Desa Zakat yang dirumuskan oleh BAZNAS. Dalam indeks tersebut, nilai desa Kahaya amat sangat rendah yaitu rata-rata 0.38 dengan skala 0-1 meliputi 5 dimensi yaitu Ekonomi, Kesehatan, Sosial Kemanusiaan, Dakwah, dan Pendidikan sehingga menjadi daerah yang prioritas untuk diberdayakan dan dibantu. Program ini merupakan bukti nyata dari gerakan pemberdayaan dari zakat sehingga tidak selalu identik dengan kegiatan santunan saja. Dengan adanya program ini di lokasi Kampung Zakat, diharapkan nantinya kehidupan masyarakat bisa lebih sejahtera.

Permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia tentunya bukan hanya concern untuk pemerintah saja, kita sebagai masyarakat yang juga merupakan makhluk sosial tentunya harus peduli mengenai permasalahan tersebut. Pemerintah sudah berupaya untuk mensosialisasikan manfaat dana zakat dalam program Kampung Zakat melalui Literasi Zakat Wakaf. Sekarang adalah saatnya kita sebagai masyarakat untuk ikut andil secara langsung dalam menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia dengan cara menzakatkan harta kita yang telah mencapai nisab dengan segala kemudahan yang telah diberikan oleh Pemerintah seperti sekarang ini.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.