Rasa

Aku tersenyum ketika melihat notifikasi muncul dari gawaiku. Sudah lima tahun aku mengenal orang ini. Andai saja tidak ada yang meninggalkan dan ditinggalkan, mungkin aku tidak perlu menyimpannya selama ini.

Dua anak perempuan sedang berbisik-bisik—yang satu terlihat panik, yang satu terlihat sok. Andai saja hati ini memiliki bibir, simpulan senyum akan terbentang dengan yakin. “Yah kak, itu mah gue kenal. Temen seangkatan gue.” Ujar anak perempuan yang model rambutnya gelombang, wajahnya mungil, tapi gayanya seperti abang-abangan walau sudah mencoba untuk tampil feminim. Hardika namanya. Tapi, siapa anak perempuan yang Dika panggil kakak? Dia pikir aku tidak mendengar kalau baru saja dia memujiku. Kata “cakep” memang cocok untukku.

Dua anak perempuan itu berjalan menghampiriku, tidak—sebenarnya mereka hanya melewatiku karena ingin masuk ke ruang kemahasiswaan, menenteng-nenteng proposal. Dika menyiku tangannya, dia pun mengeluarkan bunyi ssshh, seperti hendak ingin memberikan sinyal kepadaku namun tidak ingin melakukan secara terang-terangan. Ah, menggemaskan sekali.

Pujiannya saat itu tidak dapat aku anggap hanya angin lalu. Di dalam kelas pun aku terus saja mengingatnya, berharap memiliki kesempatan untuk sekelas dengannya. Hingga suatu hari, gawaiku bergetar. Menyampaikan sebuah informasi bahwa baru saja ada yang menambahkanku sebagai teman di Blackberry Messenger. Namanya asing, namun foto profilnya sangat tidak asing. Aku tersenyum, padahal jam belajar mengajar sedang berlangsung. Ah biar saja lah, mata kuliah ini terlalu membosankan. Tanpa berpikir panjang, aku pun menerima pertemanannya.

Aku penasaran bagaimana ekspresinya ketika aku menerima pertemanannya ini. Pasti dia saat ini sedang tersenyum lebar, atau bahkan sedang pamer ke Dika. Ah, terlalu percaya diri aku ini. “Gue apain ya?” tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku segera tengok kanan kiri, khawatir Bapak Dosen yang membosankan dan teman-teman sekelas yang lain mendengar. Aman, setelah aku memastikannya. Aku lagi-lagi melihat profil blackberry nya, bingung harus aku apakan kontak ini. Sudah lah..

Dia pun lulus, tidak lagi aku melihatnya berkeliaran di lorong-lorong kampus. Sesekali dua kali aku melihatnya mengurus administrasi kelulusan. Hingga saat itu pun aku belum pernah bicara langsung dengannya, belum pernah mengucapkan selamat atas kelulusannya secara layak. Aku hanya berani mengucapkannya di kolom komentar path juga instagram.

Aku berusaha untuk fokus dengan apa yang ingin aku raih saat ini—kelulusan, sehingga aku harus menyimpan rasa dengan baik dan berharap Tuhan menjaganya untukku kelak.

Suatu malam, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengomentari status di blackberry messengernya sebagai alasanku untuk dapat chat secara pribadi namun percakapan itu tidaklah berlangsung lama. Lagipula, memang sudah malam dan tidak pula berlanjut esok paginya. Biarlah..

Aku pun terus berdoa dan berharap kepada Tuhan. Doa-doa itu indah, harapan-harapan itu indah, namun tidaklah selalu indah dengan hasilnya. Bukan tidak, mungkin saja belum. Anak perempuan yang aku titipkan ke Tuhan, kini sudah ada laki-laki lain yang menjaganya. Tampaknya dia sangat bahagia. Wajarkan kalau aku tidak senang melihatnya?

Cinta itu adalah bahagia bila melihat orang yang kita cinta bahagia, walau bukan dengan kita. Ah, itu semua bullshit. Aku sama sekali tidak bahagia melihatnya. Aku terus berupaya untuk menghancurkan angan-angan indah bersama anak perempuan yang dulu pernah memujiku di depan ruang kemahasiswaan. Mungkin saat itu dia tidak serius, atau saja memang tidak ada momen yang membuat rasanya terhadapku tumbuh dalam dan subur? Sampai lulus pun, kami tidak pernah sekelas. Sampai detik ini pun kami belum pernah mengobrol langsung. Payah.

Aku mencoba untuk dekat dengan wanita lain, namun gagal. Begitu pula dengan hubungannya, gagal. Aku perhatikan, memang benar-benar gagal. Aku pikir mereka akan selamanya bersama. Nyatanya gagal juga. Apakah karena doaku yang terselip dikabulkan oleh Tuhan?

Kesempatan…Hai Kak! Aku tidak pandai menulis rangkaian kata nostalgia seperti dirimu. Tampaknya kita harus mengobrol langsung untuk pertama kalinya ketimbang hanya bertegur sapa lewat pesan langsung di instagram?

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.