Riba vs Sedekah (Manakah yang menambah harta? Riba atau Sedekah?)

Saat kita bertemu dengan teman-teman dengan segala harta baru yang kita miliki seperti kendaraan dan alat komunikasi memang terlihat seperti harta kita bertambah. Saat kita mengundang teman-teman atau sanak saudara ke hunian kita yang berada di sebuah townhouse atau cluster, tampaknya akan membuat kita terlihat mapan. Hal tersebut betul membuat harta kita bertambah apabila semuanya kita miliki tidak dengan cara berhutang dengan bunga (riba).

Dalam kamus Lisaanul ‘Arab, kata riba diambil dari kata رَبَا. Jika seseorang berkata رَبَا الشَّيْئُ يَرْبُوْ رَبْوًا وَرَبًا artinya sesuatu itu bertambah dan tumbuh. Jika orang menyatakan أَرْبَيـْتُهُ artinya aku telah menambahnya dan menumbuhkannya.

Dewasa ini, begitu banyak dan mudah cara kita melakukan pinjaman dengan tambahan bunga di setiap cicilan pengembaliannya. Dalam artian saat kita melakukan pinjaman, utang yang menjadi kewajiban kita untuk dibayar adalah sekian. Namun dengan adanya riba, maka utang kita menjadi sekian ditambah sekian (bunga).

Jika dahulu hanya dapat kita jumpai pada rentenir-rentenir kampung yang keliling meminjamkan uangnya dengan bunga berlipat yang akhirnya begitu mencekik si peminjam, saat ini rentenir tersebut berevolusi menjadi lembaga-lembaga atau badan yang menyediakan jasa pinjaman dengan persyaratan yang sangat mudah.

Mulai dari bank, perusahaan pembiayaan, bahkan saat ini sedang maraknya pinjaman online (baik yang sudah terdaftar di OJK maupun tidak) dan aplikasi-aplikasi kredit yang membuat orang-orang semakin menjadi konsumtif dengan cara berhutang yang berbunga. Sosialisasi dan marketing yang gencar mengenai produk-produk riba ini membuat riba menjadi semakin merajalela.

Bagi siapapun yang belum mengetahui bahaya riba, tentu saja hal tersebut menurutnya sangatlah membantu. Karena tanpa harus memiliki uang pun, kita sudah dapat memiliki sesuatu. Sudah dapat memamerkan harta yang padahal bukan milik kita (masih milik badan/lembaga yang membiayayai), bahkan kita masih memiliki kewajiban yang masih harus dilunasi dan terus bertambah karena adanya bunga. Jika demikian, apakah riba dapat membuat harta bertambah?

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.” QS. Ar-Rum: 39.

Riba hukumnya haram bagi si peminjam ataupun yang meminjamkan baik dalam al-Qur’an, as-Sunnah maupun ijma’.

Allah subhanahu wa ta’alla berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” QS. Al-Baqarah: 278.

Allah subhanahu wa ta’alla juga berfirman:

“… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” QS. Al-Baqarah: 275.

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’alla berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba…” QS. Ali Imran: 130.

Dalam as-Sunnah banyak sekali didapatkan hadits-hadits yang mengharamkan riba. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya dan dua saksinya,” dan beliau bersabda, “mereka semua sama.”

Dalam hadits yang sudah disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jauhilan tujuh perkara yang membawa kehancuran,” dan beliau menyebutkan di antaranya, “memakan riba.”

Sementara itu, Allah telah menjanjikan begitu banyak kebaikan dari pada bersedekah. Salah satunya adalah menambah harta. Dalam al-Qur’an surat Saba: 39:

“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa Allah telah menjanjikan akan memberikan rezeki yang luas bagi hambanya yang dikehendaki dan akan menyempitkan rezeki bagi yang dikehendakinya. Sedangkan bagi orang-orang yang mau menafkahkan, atau mensedekahkan sebagian hartanya, maka rezekinya juga akan digantikan oleh Allah dengan rezeki yang lebih bahik dari yang telah dikeluarkan.

Bagi orang beriman, tentu saja janji Allah adalah satu hal yang sangat diyakininya karena janji Allah akan menuntun dan membimbing manusia ke jalan ampunan-Nya dan akan mendapatkan keutamaan besar berupa surga dari-Nya. Namun pada praktiknya, selama kita hidup setan selalu membisiki manusia untuk tidak bersedekah. Allah subahanhu wa ta’alla berfirman,

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” QS. Al-Baqarah: 268.

Lalu bagaimanakah agar kita dapat menanamkan kepada diri kita bahwa Riba tidak menambah harta dan sedekah tidak mengurangi harta (justru akan Allah lipatgandakan)?

Pertama, kita harus tanamkan di dalam diri bahwa hukum riba itu adalah haram. Hukum haramnya riba telah tertulis di dalam kitab suci al-Qur’an, yang mana al-Qur’an adalah pedoman hidup juga petunjuk Oleh karena itu, kita harus mengikutinya tanpa terbantahkan. Allah subahanhau wa ta’alla berfirman, “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus…” QS. Al Isra: 9.

Kedua kita perlu tanamkan di dalam diri kita bahwa harta yang kita miliki dengan cara riba tentu hanya akan menyusahkan diri kita kelak, baik di dunia maupun di akhirat bahkan Allah dan Rasul-Nya memerangi pelaku riba. Allah subahanahu wa ta’alla pun sudah mengingatkan kepada kita bahwa riba hanya memusnahkan harta dan menghilangkan berkah harta.

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 279).

Ketiga, jadikan sedekah sebagai gaya hidup dan yakinlah bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Sebagaimana hadits pendek, “Sedekah itu tidaklah mengurangi harta.”  HR. Muslim.

Keempat, selalu ingat bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, sementara hidup yang kekal adalah di akhirat nanti. Jika kita menjadi terpandang di dunia karena riba, sesungguhnya hal tersebut sangatlah tidak menguntungkan sementara jika kita bersedekah (menafkahkan harta di jalan Allah), sedekah dapat menjadi naungan di akhirat nanti dan sedekah dapat menghantarkan kita pada pintu surga.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya naungan seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad, IV/233, dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth).

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu Surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.