Rinduku Bernama Galih

Rinduku berwarna jingga, selalu terasa hangat seperti senja. Rinduku berwarna putih, aku jaga agar selalu suci. Tapi rinduku kadang berwarna hitam, begitu pekat sampai tak tertahankan. Rinduku juga bagaikan luka, semakin didiamkan ia meradang.

Aku mengenal seseorang, matanya besar, warna kulitnya coklat. Aku mengenal seseorang, senyumnya manis juga berkumis. Aku mengenal seseorang, tubuhnya kurus namun bahunya begitu membuat nyaman. Aku mengenal seseorang, ia jenaka tapi kadang pendiam kalau sakit perut. Aku mengenal seseorang, kadang kami gak nyambung kalau ngobrol. Aku mengenal seseorang, aroma tubuhnya adalah pengharum pakaian yang disemprot Ibunya saat setrika.

Aku memiliki banyak rasa, salah satunya bernama rindu. Terkadang ia rewel, seringnya ia memaksa. Aku memiliki banyak tujuan, salah satunya dia. Untuk rasaku yang bernama rindu, tujuannya hanya satu,  yaitu dia.

Ada dua hal yang kini aku dan dia miliki, kami memanggilnya jarak dan waktu. Tiga koma sembilan kilometer jarak rumah aku dan rumah dia. Butuh waktu sekitar lima belas menit agar aku dan dia bisa bertemu. Tidak terlalu jauh, tidak terlalu lama.

“Aku pulang, ya.” Ujarnya tadi, kala senja pukul lima sore di depan gerbang rumahku.

Aku tersenyum lalu melambaikan tangan, “Hati-hati.” Balasku.

“Eh.” Panggilku membuatnya kembali menoleh ke arahku.

“Kenapa?”

“Jangan kangen.” Ujarku berbisik. Tanganku menutup sisi wajahku, seakan-akan ada yang mendengar padahal hanya ada kami berdua.

Ia tertawa kecil, “Nanti aku kabarin ya kalo udah sampe rumah.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati.” Ujarku lagi.

Ia membalas senyumanku di balik maskernya. “Aku pulang, ya.” Katanya untuk ke sekian kali.

“Iya, hati-hati.” Jawabku seperti tidak ada selesainya.

Dari balik gerbang hitam  yang terpantul sinar matahari sore, aku melihat punggungnya perlahan menghilang seiring dengan laju motor bebeknya yang semakin cepat. Itulah akhir dari percakapan kami hari ini. Aku menutup pintu gerbang rumahku, berjalan masuk ke dalam kamar kemudian aku sudah merindukannya.

Begitu terus terulang setiap harinya. Dia menjadi seseorang yang selalu aku rindukan setiap hari saat langit sore mengganti halamannya menjadi malam.

Dia Galih. Malam, aku rindu padanya.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

4 thoughts on “Rinduku Bernama Galih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.