Sebuah Nasihat, Teruntuk Kamu yang Ingin Menikah..

Siang ini Depok turun hujan, tidak deras tapi bukan gerimis. Rintiknya terdengar syahdu, mengubah cuaca yang tadinya sempat panas menjadi sejuk. Masih sendiri, apa yang dilakukan kalau sedang hujan di akhir pekan begini? Ah, paling hanya bisa nge-blog atau baca buku, bisa juga nonton drama. Kalau lagi mood ya chatting dengan teman. Jadi mikir, enak nih kalau sudah ada pasangan, menikmati hujan berdua—ah romantisnya. Eits, pasangannya bukan pacar yaa tapi suami, lhoo.

Menikah. Di usia yang sebentar lagi menginjak dua puluh lima rasanya seperti kepingin sekali bersanding dengan kata kerja itu. Kalau sudah menikah bisa romantis-romantisan pas lagi hujan, baca buku berdua bisa sambil sandar-sandaran punggung, nonton drama genre comedy romance berdua sambil pukul-pukul lucu kalau ada scene yang gemesin, atau saling kirim stiker whatsaap padahal lagi hadap-hadapan. Waduh waduh, bablas nih jadi menghayal.

Tapi, apakah tujuan menikah hanya untuk itu saja? Sepertinya aku harus memperbaiki tujuan terlebih dahulu kalau mau menikah. Lantas menikah itu apa? Ah betul, tampaknya aku harus tahu dulu definisi pernikahan itu apa. Kebetulan di Sabtu malam kusendiri, kawanku yang sudah tidak lagi sendiri mengirimiku tautan video di youtube kajian Ustadz DR. Khalid Basalamah. Tampaknya pas banget nih untuk aku tonton saat ini. Maasyaa Allaah bukan, hujan-hujan melihat video kajian, semoga jadi pahala, ya.

___

Untuk aku yang ingin menikah, ingin ya bukan akan. Ya semoga akan, di tahun ini. Aamiin kan. Juga teruntuk teman-teman ukhty fillah dan akhi fillah yang ingin menikah juga, yang kebetulan membaca tulisan ini, sebelum (akan) menikah kita harus tahu terlebih dahulu definisi menikah. Kenapa harus tahu? Kalau kita ingin memiliki buku yang ada di toko buku, kita harus membelinya. Apa itu definisi membeli? Yaitu menukarkan uang dengan barang (buku) yang ingin kita miliki di toko buku tersebut. Kalau saja kita tidak tahu apa definisi dari membeli, hanya sekedar ingin memiliki, kita bisa saja mengambilnya tanpa menukarkan uang dengan buku tersebut. Kita pun menjadi seorang pencuri.

Begitu halnya dengan keharusan mengetahui definisi menikah. Jangan menikah hanya karena menikah untuk menggelar resepsi, setelah itu upload foto resepsi di instagram, kemudian share instagram story saat bulan madu, share menyiapkan bekal untuk suami atau foto bekal buatan istri, hanya itu saja. Bukan, kegiatan-kegiatan itu bukanlah definisi menikah. Dari apa yang dipaparkan oleh Ustadz Khalid, dalam Islam menikah adalah penyatuan dua lawan jenis anak adam dalam sebuah ikatan ritual agama yang menghalalkan hubungan biologis di antara keduanya serta menyatukan antara kedua keluarga.

Dalam penjelasannya, di dalam definisi menikah dibagi menjadi tiga:

Penyatuan Lawan Jenis Anak Adam

Sekarang adalah zaman edan, tidak sedikit laki-laki menikah dengan laki-laki, perempuan menikah dengan perempuan, sampai rela pergi ke Negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Ya, kalau tidak punya uang yang penting bisa bersama dengan sang kekasih sesama jenisnya tanpa menikah. Edan, bukan?

Di dalam Islam, pernikahan hanyalah dengan lawan jenis. Perempuan dengan laki-laki, jadi bagi yang kebetulan membaca tulisan ini punya rencana menikah dengan sesama jenis, ketahuilah kalau itu sangat dimurkai oleh Allah. Cepat sadar dan bertaubat. Di dunia mungkin banyak orang-orang berkedok open minded yang mendukung, tapi di akhirat nanti akan ada pembalasan yang begitu pedih. Orang-orang yang katanya open minded itu tidak akan menolongmu, loh..

Selain harus menikah dengan lawan jenis, pun harus menikah dengan anak adam. Apa maksudnya? Menikahlah dengan manusia. Jangan tertawa membaca tulisan ini, banyak di zaman edan ini orang-orang yang menikah dengan binatang, robot, pohon, boneka, bahkan karakter anime. Bahkan sejak zaman dulu, sudah ada yang menikah dengan jin. Kenapa manusia-manusia ini sangat senang berimprovisasi?

Ikatan Ritual Agama

“Aduh… Aku harus cepat-cepat menikah nih. Si fulan sudah menikah, masa aku belum?”

“Tahun ini sepertinya aku akan menikah karena disuruh orangtuaku.”

“Aku menikah dengan si fulan karena dengan aku menikah dengan si fulan akan menguatkan posisiku di Perusahaan.” Yaela drama Korea banget..

“Kalau aku menikah dengan si fulan, Perusahaan Ayahku dan Perusahaan Ayahnya akan berkonsolidasi. Aku akan menjadi Presdir.” Ini juga drama Korea banget. Ketahuan suka nonton drama Korea.

“Aku diledekin terus sama teman-teman yang sudah menikah karena aku belum juga menikah, aku harus menikah supaya ngga diledekin lagi.”

“Denger-denger mantanku akan menikah tahun ini, aku juga harus menikah tahun ini!”

“Aku mau menikah tahun ini supaya mantanku menyesal sudah ninggalin aku!!”

“Wah kalo aku menikah, aku bisa update di story instagram nih kemesraan aku sama suami. Bisa menjadi pasangan yang menginspirasi.”

“Lagi trend nikah muda, nih. Aku ga boleh ketinggalan!”

Adakah salah satu di antara kutipan-kutipan tersebut yang menjadi alasanmu ingin menikah? Bila ada, semoga Allah menuntun kita untuk meluruskan kembali niat kita. Niat menikah harusnya karena Ibadah. Pernikahan dalam hukum islam  bukan hanya merupakan sesuatu yang sakral, namun juga merupakan ibadah dan penyempurna agama. Oleh karena itu, perlu bagi setiap muslim yang sudah siap menikah untuk meluruskan tujuan dan niat agar rumah tangga penuh berkah dan harmonis. Aku dan kalian harus tahu bahwasanya kelangsungan rumah tangga nantinya setelah menikah akan ditentukan oleh niat awal dalam membangun rumah tangga. Bila niatnya untuk beribadah, Insyaa Allaah pernikahan akan membawa kebahagiaan.

Menyatukan Kedua Keluarga

Pernikahan memanglah menyatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Tapi, kita tidak dapat melupakan bahwasanya laki-laki dan perempuan tersebut datang dari sebuah keluarga. Ketika kita menikah dengan seseorang, tidak hanya kita dan pasangan yang menikah namun keluarga kita pun “menikah”, bersatu. Bahasa anak mudanya begini, “Papa kamu akan jadi Papa aku, Mama kamu akan jadi Mama aku. Adik kamu akan jadi adik aku, kakak kamu akan jadi kakak aku.”

Target menikah jangan hanya untuk pasangan kita, namun juga dengan keluarga pasangan. Sebagai contoh, kita tidak boleh hanya sekedar sayang dengan pasangan kita saja sehingga tidak suka dengan saudara ipar itu menjadi boleh atau kita menghasut pasangan kita untuk menjauh dari keluarganya bahkan membenci keluarganya.

Terlebih untuk wanita, iya untuk aku dan ukhty fillah, ketika sudah menikah nanti, kita tidak boleh cemburu dengan Ibu mertua kita apabila suami kita nanti lebih perhatian dengan Ibunya. Karena wanita apabila sudah menikah, ia harus taat kepada suaminya. Namun berbeda dengan laki-laki. Biar sudah menikah, ia tetap harus taat kepada Ibunya.

Dari ‘Aisyah Radhiayallahu ‘Anha, berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Siapakah manusia paling besar haknya atas wanita?” Beliau menjawab, “Suaminya.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa manusia yang paling besar haknya atas laki-laki?” Beliau menjawab, “Ibunya.” (HR. al-Hakim)

Dengan demikian, aku dan kalian para ukhty fillah ketika sudah menikah kelak haruslah lebih mendahulukan ketaatan kepada suami daripada ketaatan kepada kedua orang tua kita. Namun jika keduanya bisa ditunaikan secara sempurna dengan izin suami tentunya, itu lebih baik. Wallahu a’lam.

Juga dengan laki-laki, apabila nanti sudah menjadi suami bisa membuat istri tidak pernah cemburu dengan Ibu mertua tanpa harus mengurangi ketaatan kepada Ibu, hal tersebut lebih baik. Wallahu a’lam.

Intinya, ketika sudah berumah tangga nanti, suami dan istri harus bisa berkolaborasi dengan sempurna. Satu sama lain harus bisa saling menyokong satu sama lain. Sang istri harus mendukung suami untuk selalu dekat dengan keluarganya, terutama Ibunya. Begitu pun sang suami, harus mendukung istri untuk selalu dekat dengan keluarganya. Tanpa mengurangi hak dan kewajiban mereka berdua sebagai pasangan suami istri.

Semoga, aku dan kamu nanti bisa berkolaborasi menjadi pasangan yang saling support, yaa?! Aku mau ketemu kamu, iya ketemu kamu. Aku rindu, penasaran kamu kayak gimana rupanya.. Duh, jadi curhat..

Setelah mengetahui definisi pernikahan, kita harus mengetahui tujuan kita menikah. Di dalam Islam, tujuan menikah sangatlah sempurna:

Memperluas hubungan

Kita tidak tahu jodoh kita siapa, apakah satu suku, apakah satu bangsa? Bisa saja suku Jawa menikah dengan suku Batak. Orang Depok bisa saja menikah dengan orang Lampung, atau orang Kalimantan? Bisa saja orang berkewarganegaraan Indonesia menikah dengan orang berkewarganegaraan Turki. Tidak ada yang tahu, selain Allah.

Seperti firman Allah dalam surat Al-Hujurat [10]:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Al-Hujurat: 13)

Mendapatkan Keturunan

Di zaman seperti saat ini, dimana biaya hidup meningkat, biaya pendidikan mahal, membuat tidak sedikit orang yang katanya berpikiran modern memutuskan untuk tidak punya anak. Hal tersebut hanyalah ketakutan-ketakutan dari bisikan syeitan.

Aku pernah tidak sengaja mendengar perbicangan bapak-bapak pegawai Bank yang sedang mengajak teman-temannya untuk resign karena takut dengan dosa riba, “Bapak tahu tidak perbedaan orang meninggal sama orang hidup?” Bapak yang lain menjawab, “Orang mati ngga bernapas, orang hidup bernapas.”

Bapak yang memberikan pertanyaan tersenyum. “Betul. Bapak harus tahu kalau napas itu adalah rizki yang Allah berikan untuk kita. Jadi, selagi kita masih bernapas jangan pernah takut untuk ngga dikasih. Bapak juga harus berprasangka baik kepada Allah, karena Allah adalah bagaimana prasangka kita.”

Salah satu tujuan menikah haruslah mendapatkan keturunan. Jangan takut dengan biaya-biaya anak yang tidak bisa terpenuhi kelak, biaya pendidikan anak yang semakin tahun semakin mahal. Allah sudah mengatur semuanya, kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah Yang Maha Bijaksana.

Lagipula, dengan memiliki keturunan kita dapat menciptakan generasi peradaban baru untuk berjuang di jalan Islam. Menegakkan agama Allah. Dan kita juga harus ingat, salah satu amal jariyah yang masih terus mengalir untuk kita ketika kita sudah mati nanti adalah do’a dari anak yang salih.

Ketenteraman

Suami atau istri yang agamanya bagus, sudah pasti sangat romantis. Suami yang mengikuti sunah Rasul, aku yakin pasti romantis banget. Jadi, khayalan-khayalanku di atas sudah pasti bisa banget tuh kesampaian kalau aku memiliki suami yang agamanya bagus.

Apabila kita mengerti agama, paham agama, hidup kita pun akan menjadi begitu tenteram karena di dalam Islam, selalu ada solusi. Islam adalah agama yang sempurna. Perusahaan bisa dibilang bagus kalau SOP (Standard Operational Procedure)nya ada. Kita dapat mengibaratkan Islam adalah SOP hidup kita. Nah, alangkah beruntungnya apabila kita memiliki pasangan yang baik agamanya.

Menjalankan Perintah Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya

Jangan salah, menikah adalah perintah Allah. Sebagaimana firmannya dalam Surah An-Nur:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikannya mampu dengan karunia-Nya..” [An-Nur: 32]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ.

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”[1]

Jadi apabila tujuan menikah karena menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tujuan menikah kita sudahlah benar. Ya Allah, aku ingin menjalankan salah satu perintah Mu, maka bantulah aku.. Hihi.

Memenuhi Kebutuhan Biologis

Memiliki keinginan untuk bercumbu, berpelukan, berpegangan tangan, bahkan berhubungan badan adalah fitrah manusia. Bahkan melakukan hal tersebut merupakan jalan kita untuk mendapatkan keturunan. Hal-hal tersebut, apabila dilakukan sesudah menikah maka akan mendapatkan pahala. Tapi, apabila dilakukan sebelum menikah maka dosa lah yang didapat.

Jadi, jangan pacaran ya teman-teman. Karena kita tahu tubuh kita pasti membutuhkan hal-hal tersebut, takutnya bablas. Menikah saja, kita dapat memenuhi fitrah kita sebagai manusia plus bonus pahala. Bertaubatlah, apabila masih berpacaran. Karena pacaran adalah jalan mendekati zina. Apabila belum memiliki kesempatan untuk menikah, maka berpuasalah. Perbaiki diri, fokus kepada Allah. Datangi tempat-tempat positif, siapa tahu jodoh kamu di sana.

Begitulah definisi pernikahan dan nasihat bagi yang akan menikah dari kajian Ustadz Khalid Basalamah. Cukup banyak kalimat tambahan dari aku, dari pemikiranku. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan atau koreksi. Apabila ada yang salah, nasihatilah aku. Tapi jangan di khalayak ramai, ya. Nasihati aku ketika aku sendiri. Seperti Imam Syafi’i katakan, “Nasihati aku di kala sendiri, jangan nasihati aku di kala ramai karena nasihat di kala ramai bagai hinaan yang melukai hati.”

Video source: Definisi Pernikahan dan Nasihat Bagi yang Akan Menikah

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Sebuah Nasihat, Teruntuk Kamu yang Ingin Menikah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.