Sejarah Air Zamzam

Awal mula munculnya air zamzam tentunya tidak terlepas dari kisah dari seorang Ibu bernama Hajar dengan bayinya yang bernama Ismail. Namun jauh sebelum itu, tentu ada peristiwa lain yang mengantarkan peristiwa bersejarah tersebut.

Nabi Ibrohim dan Siti Sarah

Nabi Ibrohim dan istrinya, Siti Sarah hijrah dari Babilonia ke Palestina atas perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Saat perjalanan ke Palestina, Nabi Ibrohim ingin mampir ke Mesir. Namun pada saat itu di Mesir ada seorang Raja yang dzalim. Raja tersebut memiliki kebiasaan mengambil istri orang lain untuk dijadikan istri. Menurutnya, seorang wanita yang sudah menjadi seorang istri adalah wanita yang cantik dan menarik.

Berkatalah Ibrohim kepada Sarah, “Di dalam negeri ini ada seorang Raja yang dzalim.” Dijelaskanlah bagaimana kebiasaan Raja tersebut kepada Sarah kemudian Ibrohim menambahkan. “Apabila prajurit Raja tersebut berkeliling dan engkau ditanya oleh mereka, katakanlah kepada mereka bahwa kamu adalah saudariku—saudari semuslim.”

Diriwayatkan bahwasanya saat itu Sarah berusia 30tahun-an dan Sarah adalah seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya. Seperti yang telah diperkirakan oleh Ibrohim, di perjalanan mereka bertemu dengan para prajurit dari Raja yang dzalim itu. Ketika ditanya oleh salah satu prajurit, Sarah menjawab sesuai dengan yang diperintahkan oleh Ibrohim. Namun karena kecantikan yang dimiliki oleh Sarah, jawaban tersebut pun tidak menyelamatkannya. Para prajurit sang Raja membawa Sarah ke istana.

Bertemulah Sarah dengan sang Raja yang dzalim. Ketika melihat Sarah dengan rupa yang begitu cantik, Raja dzalim tersebut langsung bernafsu dan ingin segera menjamahi Sarah. Ketika itu pula Sarah berdoa kepada Allah karena hanya Allah lah satu-satunya penolong. “Ya Allah, ambil alih orang itu.” Seketika tangan Raja dzalim itu kaku seperti batu, tidak dapat digerakkan sama sekali.

Raja dzalim itu bertanya kepada Sarah dengan ketakutan. “Apa yang kau lakukan kepadaku?”

“Aku meminta kepada Tuhanku untuk melindungiku dan Ia mengabulkan permohonanku.” Jawab Sarah.

“Kalau begitu, mintalah kepada Tuhanmu untuk mengembalikan tanganku seperti sedia kala. Aku berjanji akan melepaskanmu setelah itu.” Ujar sang Raja.

Sarah pun menuruti permintaan sang Raja. Ia berdoa kepada Allah untuk mengembalikan tangan Raja dzalim seperti sedia kala, Allah mengabulkan permintaannya. Namun Raja dzalim itu tidak dapat memegang janjinya. Tatkala tangannya sudah kembali normal, ia pun ingin melancarkan kembali aksinya yang sempat tertunda. Lagi, Sarah kembali berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ambil alih orang itu.” Seketika tangan Raja dzalim itu kembali kaku seperti batu, bahkan kini kedua tangannya.

Lagi-lagi Raja dzalim itu bertanya kepada Sarah. “Apa yang kau lakukan kepadaku?”

“Aku meminta kepada Tuhanku untuk melindungiku dan Ia mengabulkan permohonanku.” Ujar Sarah dengan jawaban yang sama.

“Kalau begitu, mintalah kepada Tuhanmu untuk mengembalikan tanganku seperti sedia kala. Aku berjanji akan melepaskanmu setelah itu.” Ujar sang Raja lagi.

Seperti sebelumnya, Sarah menuruti permintaan sang Raja. Ia berdoa kepada Allah untuk mengembalikan tangan Raja dzalim seperti sedia kala, Allah mengabulkan permintaannya. Namun lagi-lagi Raja dzalim itu tidak dapat memegang janji yang sudah diucapkannya. Saat ia hendak menjamahi Sarah kembali, Sarah melakukan doa yang sama dan kali ini sekujur tubuh sang Raja yang dzalim itu kaku seperti batu, tidak dapat digerakan. Hanya wajahnya saja yang dapat digerakkan. Raja itu memohon kepada Sarah untuk mengembalikan keadaannya seperti sedia kala. Ia memanggil prajurit-prajuritnya sebagai saksi atas janjinya.

Sarah kembali berdoa kepada Allah untuk mengembalikan kondisi Raja dzalim seperti biasa dan Allah mengabulkannya. Sang Raja meminta prajurit untuk membawa Sarah keluar dari istananya. “Bawalah dia keluar, dia bukan manusia. Dia adalah jin. Dia memiliki sihir yang sangat kuat.” Perintah sang Raja dengan ketakutan.

Sarah pun dilepaskan dan dibawa keluar dari istana namun sang Raja masih takut dengan pengalaman yang baru saja dialaminya. Ia pun memberikan Hajar yang merupakan budak terbaiknya sebagai hadiah untuk Sarah. Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa Hajar merupakan anak dari Raja dzalim tersebut. Jadilah Hajar sebagai budak Sarah, ia menemani Sarah dan Ibrohim selama bertahun-tahun lamanya.

Suatu ketika, Ibrohim ingin sekali memiliki anak. Saat itu umur Sarah sudah mencapai 60 tahun namun belum juga dikaruniai anak. Karenanya, Sarah pun menghadiahkan Hajar kepada Ibrohim untuk dinikahi. Hajar pun bebas dari menjadi budak Sarah. Setelah satu tahun pernikahan, Ibrohim dikaruniai anak dari Hajar dan dinamai Ismail.

Sarah sebagai wanita, melihat Hajar melahirkan anak untuk Ibrohim, ia pun ingin merasakan hal yang sama. Sarah berdoa kepada Allah untuk dikaruniai seorang anak dan doanya pun dikabulkan oleh Allah. Dikatakan bahwa jarak antara kelahiran Ismail adalah 2 – 3 tahun lamanya. Berita tentang kehamilan Sarah pun disampaikan langsung oleh Malaikat, dan Malaikat memberitahukan kepada Ibrohim dan Sarah bahwa anak yang akan lahir dari rahim Sarah bernama Ishaq.

Perintah Allah kepada Ibrohim

Saat Ismail masih bayi, datang perintah Allah kepada Ibrohim untuk membawa Hajar dan Ismail ke suatu lembah yang jauh dari Palestina. Karena kepatuhan Ibrohim terhadap tuhannya, Allah, Ibrohim pun melaksanakan apa yang Allah perintahkan tanpa mengetahui alasannya. “Bersiap-siaplah dan ikut denganku.” Hajar pun tanpa bertanya, ia mentaati perintah suaminya.

Mereka bertiga pergi ke suatu lembah yang Allah perintahkan. Di lembah itu tidak ada apa-apa selain padang pasir yang gersang nan berbatu. Tidak ada manusia, hewan, ataupun pepohonan. Bahkan pohon kering pun tidak ada. Setibanya di lembah, Ibrohim berkata kepada Hajar, “Turunlah di sini. Di sini aku akan meninggalkanmu.”

Setelah Hajar dan Ismail dalam gendongannya turun dari unta, Ibrohim membalikkan untanya untuk kembali ke Palestina dan perlahan meninggalkan Hajar. Hajar sebagai wanita pun merasa sedih, ia mengikuti Ibrohim dari belakang dan bertanya, “Wahai Ibrohim, apakah kamu meninggalkan kami di lembah yang bahkan tidak ada apapun?”

Namun tidak ada jawaban dari Ibrohim. Ibrohim terus menunggangi untanya, berjalan tanpa berbelok. Ia menangis. Hajar yang begitu mengenal suaminya, kemudian bertanya kembali, “Apakah Allah yang memerintahkanmu mengerjakan ini?” Ibrohim menggangguk kecil sembari menangis. “Kalau begitu, pulanglah. Allah tidak akan membiarkan kami (meninggalkan Hajar dan Ismail begitu saja).”

Tinggallah Hajar bersama bayi Ismail di lembah yang tandus itu. Hajar sebagai Ibu, ia berikhtiar untuk menghidupi dirinya dan bayinya. Ia mencari-cari ke sekeliling apakah ada manusia lain di sekitar sana. Di tempat mereka berada, ada dua buah bukit bernama Safa dan Marwah. Hajar meletakkan bayi Ismail di atas pasir dengan ditutupi bebatuan untuk melindunginya dari terik matahari.

Hajar berjalan ke bukit Safa, ketika ia berada di atas bukit Safa dari bukit Marwah ia melihat genangan air. Dengan senang, Hajar pun berlari kecil ke arah bukit Marwah namun setibanya ia di bukit Marwah, Hajar tidak mendapati air yang ia lihat dari bukit Safa. Saat Hajar berada di bukit Marwah, ia kembali melihat air di bukit Safa, ia pun segera berlari kecil ke bukit Safa. Namun lagi-lagi ia tidak mendapati air yang sebelumnya ia lihat dan ia kembali melihat air di bukit Marwah. Hajar kembali berlari kecil bolak-balik dari Safa ke Marwah, dari Marwah ke Safa sebanyak tujuh kali. Ternyata yang ia lihat hanyalah fatamorgana. Peristiwa itu oleh Allah dijadikan sebagai salah satu Rukun Haji & Umroh.

Setelah menyadari apa yang ia lihat hanyalah fatamorgana, Hajar pun kembali ke Ismail. Saat itulah dengan izin Allah, di sebelah kaki ismail ada mata air. Dikatakan bahwa saat itu Hajar melihat Malaikat jibril, yang mengais tanah dengan kakinya (atau dengan kepakan sayapnya) kemudian memukulkan kakinya di atasnya. Maka keluarlah darinya pancaran air. Saat itu pula, Hajar membuat bendungan dengan tangannya dan berkata dengan bahasa Kibti (Mesir), “Zamzam” yang artinya, “Berkumpullah, berkumpullah.” Dengan nama lain yang saat ini kita ketahui dengan sebutan Sumur Zamzam.

Inilah yang dikehendaki oleh Allah, kepatuhan Ibrohim kepada Allah, kepatuhan Hajar kepada suaminya yang soleh, membawa keberkahan yang umat rasakan sampai saat ini.

Sumber: Sirah Nabawiyah Part 1 – Ustadz Khalid Basalamah

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.