Shaybah bin Hashim

Siapakah Shaybah bin Hashim?

Akan lebih tepat apabila kita memulainya dari seorang bernama Qhusay bin Kilab. Qhusay bin Kilab adalah salah satu keturunan dari Fihr atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan Quraisy. Qhusay bin Kilab ini adalah keturunan langsung Nabi Ismail alaihissalam.

Tentang suku Jurhum

Nabi Ismail alaihissalam merupakan putra Nabi Ibrahim dari Hajar. Ia merupakan putra pertama Ibrahim karena istri pertamanya, Sarah adalah wanita mandul meskipun akhirnya Allah memberinya putra dengan kuasa-Nya, Ishaq alaihissalam. Ismail dan Hajar ditinggal oleh Ibrahim di sebuah lembah tandus lagi sunyi. Sedangkan Ibrahim melanjutkan apa yang diperintah Allah.

Hajar melanjutkan kehidupannya bersama Ismail kecil. Ia membuat kemah untuk rumah mereka. Siang hari mengumpulkan kayu untuk dibakar sebagai penghangat malam hari. Kehidupan terus berlanjut hingga Hajar kehabisan stok air. Ismail kecil menangis kehausan dan Hajar kebingungan bagaimana ia harus mendapat air di tempat tandus nan sunyi itu.

Naluri keibuan Hajar berkata harus melakukan sesuatu demi kehidupan buah hatinya. Ia berlari ke bukit Shafa, namun ia tak menemukan air. Kemudian ia balik ke tempat Ismail. Ia melihat bukit Marwah. Berlari dan mendaki bukit Marwah dengan cepat, namun tidak menemukan air juga. Kejadian itu berulang hingga akhirnya ia kembali ke Ismail dan melihat anaknya dengan tenang menggerakkan tangan dan kakinya hingga keluar mata air yang kelak orang-orang menyebutnya sumur Zamzam.

Burung-burung mencium aroma air. Mereka berterbangan kian kemari di lembah di mana mata air keluar dari gerakan tangan dan kaki Ismail. Hal tersebut juga disadari oleh suku Juhrum. Mereka segera menuju ke lembah itu dan terkejut ketika melihat seorang wanita dan bayinya di sana.

Suku Juhrum adalah orang-orang baik. Ketika Hajar berkata kalau dia adalah istri Ibrahim, mereka ingin tinggal di lembah itu. Namun Hajar meminta mereka menunggu Ibrahim. Jika Ibrahim mengizinkan mereka, maka mereka boleh tinggal di lembah tersebut.

Sembari menanti kedatangan Ibrahim, mereka mendirikan tenda dan menggembalakan unta. Tak lupa mereka juga membangunkan tenda untuk Hajar dan Ismail. Hingga suatu hari datanglah Ibrahim. Kegembiraan luar biasa tergambar ketika Ibrahim melihat penampakan di tempat anak dan istrinya tinggal. Ia mengizinkan suku tersebut tinggal di lembah itu.

Tentang Suku Khuza’ah

Setelah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sudah meninggal, datanglah salah satu suku Arab bernama suku Khuza’ah yang dipimpin oleh Amrul bin Luhay. Ia lah seseorang yang memasukkan kembali patung-patung ke Mekah untuk dijadikan sesembahan. Ketika suku Khuza’ah menguasai Mekah, suku Jurhum menimbun sumur zam zam sehingga Suku Khuza’ah yang berkuasa kurang lebih 500 tahun lamanya tidak pernah memiliki air. Mereka selalu mengambil air dari tempat lain dengan harga yang mahal.

Kita kembali membahas tentang Qushay bin Kilab. Saat itu ia tengah berpikir, dahulunya Mekah ini dikuasai oleh suku Jurhum, suku dari kakek buyutnya, Nabi Ismail alaihissalam. Sudah saatnya ia kembali mengambil alih kuasa yang memang seharusnya berada di tangan suku Jurhum walaupun saat ini keadaan suku Jurhum saling berbaur dan berinteraksi karena sudah terlalu lama mereka bersama di Mekah.

Qushay bin Kilab memperbaiki dirinya. Ia berbisnis, berdagang, dan dengan kuasa Allah akhirnya Qushay bin Kilab menjadi seorang yang kaya raya dan tersohor di Mekah. Pada saat itu Raja yang memimpin kota Mekah bernama Khulail. Raja Khulail memiliki seorang anak yang cantik. Qushay melamar anak sang Raja dan diterimalah lamarannya, kemudian ia pun menikahinya. Ini adalah pertama kalinya lamaran suku Jurhum diterima oleh suku Khuza’ah.

Selama pernikahan, Qushay bin Kilab menjadi menantu Raja yang sangat baik, dan suka membantu sang Raja hingga pada suatu saat Raja Khulail pun meninggal. Pada saat itulah Qushay melancarkan niatnya untuk merebut kembali Mekah ke tangan suku Jurhum, ia pun menobatkan diri sebagai Raja Mekah. Hal tersebut ditolak habis-habisan oleh orang-orang dari kalangan Suku Khuza’ah sehingga timbulah perseteruan dan terjadilah perang besar.

Perang terjadi menyebabkan para tokoh Mekah dan anak-anak Khulail sepakat untuk mencari penengah. Mereka memilih Ya’mur bin ‘Auf sebagai seorang yang dituakan untuk menjadi penengah. Mereka percaya bahwasanya di umur Ya’mur bin ‘Auf yang sudah mencapai seratus tahun lebih ini, dapat menjadi penengah yang bijak. Mereka pun sepakat apapun yang diputuskan oleh Ya’mur bin ‘Auf akan mereka terima.

Ya’mur bin ‘Auf mengumpulkan Qushay bin Kilab bersama anak-anak Khulail di suatu ruangan. Saat itu ia bertanya kepada Qushay bin Kilab, “Apa alasanmu ingin merebut Mekah?”

Qushay bin Kilab menjawab, “Semua orang disini tahu bahwa kisah Mekah berawal dari kakek saya Ismail alaihissalam, dan ia adalah seorang Nabi. Sejak dahulu suku kami lah yang mengurus Ka’bah, jama’ah haji dan lain-lain.”

Lalu Ya’mur bin ‘Auf bertanya kepada anak-anak dari Khulail yang mana berasal dari suku Khuza’ah, “Apa andil kalian untuk kota ini?” tidak ada satu pun yang bisa menjawab, semuanya bungkam. Memang diketahui bahwa suku Khuza’ah hanya datang ke Mekah merebut kekuasaan dari suku Jurhum. Mereka tidak memiliki andil dalam pembentukan kota Mekah. Dan akhirnya Ya’mur bin ‘Auf memutuskan Qushay bin Kilab lah yang menjadi Raja Mekah. Seluruh Mekah, jama’ah haji, ka’bah diserahkan kepada Qushay. Semua orang setuju dengan keputusan itu.

Selama kepemimpinannya, Qushay bin Kilab berhasil mengembangkan kota Mekah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya dan ia mendirikan sebuah bangunan bernama Darun Nadwa yang dijadikan sebagai simbol Mekah pada saat itu. Dikatakan bahwa bangunan tersebut sangatlah luas, seluruh aktifitas dan acara penting di kota Mekah dilakukan di Darun Nadwa.

Hari demi hari, tahun berganti tahun, Qushay bin Kilab pun menua. Ia haruslah mempersiapkan anak-anaknya untuk menggantikan posisinya. Qushay bin Kilab memiliki banyak anak dan anak pertamanya bernama Abdud Dar. Dikatakan bahwa Abdud Dar adalah seorang yang lemah, tidak memiliki kuasa, ataupun vokal. Berbeda dengan adikknya yang bernama Abdul Manaf, ia merupakan seseorang yang sangat menonjol dan memiliki vokal yang bagus.

Karena Abdud Dar tidak memiliki kuasa apapun, akhirnya Qushay bin Kilab mewasiatkan kepemimpinannya kepada Abdud Dar. Sepeninggalan Qushay bin Kilab, Abdud Dar pun menjadi Raja. Seluruh kerajaan, ka’bah, jama’ah haji, dan Darun Nadwa diserahkan kepada Abdud Dar.

Suatu hari, Abdud Dar pun meninggal dunia. Keturunan dari Abdud Dar ingin melanjutkan kepemimpinan Ayahnya namun keturunan Abdul Manaf menolaknya. Keturunan dari Abdul Manaf berkata, “Saat itu kakek kita memberikan kekuasaan kepada Abdud Dar karena Abdud Dar tidak memiliki kekuasaan atau kemuliaan.” Terjadilah perseteruan dan hampir terjadi peperangan.

Namun sebelum peperangan terjadi, dicarilah penengah seperti pada saat Qushay bin Kilab ingin merebut Kota Mekah ke tangannya. Dari sana, akhirnya terjadilah sebuah keputusan dimana kekuasaan dibagi menjadi dua; keturunan Abdud Dar mengurus ka’bah dan Darun Nadwa sementara keturunan Abdul Manaf mengurus jama’ah haji.

Dikatakan bahwa salah satu keturunan dari Abdul Manaf memiliki anak bernama Hashim. Hashim ketika dewasa, ia menikahi seorang anak dari kepala suku yang cantik dan memiliki anak laki-laki bernama Shaybah. Suatu ketika Hashim meninggal. Shaybah pun diajak Ibunya kembali ke kampung halamannya.

Suatu hari, seorang bernama Mutholib yang merupakan saudara dari Hashim, keturunan dari Abdul Manaf mengunjungi Shaybah dan Ibunya. Ia berkata kepada Ibunya Shaybah, “Anak ini keturunan Raja. Ikutlah ke Mekah, siapa tahu suatu saat nanti ia dapat memiliki andil dalam kepengurusan kota Mekah.” Namun Ibunya menolak sehingga terjadilah cekcok antara mereka berdua.

Ibu Shaybah pun akhirnya meminta Shaybah untuk memilih; apakah ia tetap tinggal bersama Ibunya atau ikut Pamannya, Mutholib. “Aku memilih ikut dengan Paman.” Akhirnya Shaybah pun bersama Mutholib pergi ke Kota Mekah menggunakan unta. Ia duduk di belakang Mutholib.

Mutholib ini dikatakan merupakan seseorang yang terkenal sering membeli budak. Ketika ia berpergian dan kembali ke Mekah, ia selalu membawa budak baru sehingga ketika Mutholib tiba di Mekah dan orang-orang Mekah mendapati Shaybah berada di satu unta dengan Mutholib, orang-orang pun memanggilnya Abdul Mutholib yang mana pengertian dari Abdul adalah hamba; hamba atau budak dari seorang Mutholib.

Seorang Abdul Mutholib, yang kita ketahui bahwa beliau adalah kakek dari orang paling sempurna di muka bumi ini. Nabi kita, teladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Referensi:

Sirah Nabawiyah Part 3 oleh Ust. Khalid Basalamah

“The Greatest Stories of Al-Qur’an” karya Syekh Kamal As Sayyid

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.