Skenario

BAB III
Ali dan Di Antara Dua Pilihan

Mas Khalid menghampiriku dengan langkah tegas, namun air mukanya seperti menyiratkan rasa bersalah yang teramat. Perasaanku tidak enak. “Kinanti. Mas mau menyampaikan sesuatu sebelum perasaan kamu terlalu banyak berkembang.”

Aku menunduk, tidak dapat berlama-lama menatapnya. Biar saudara sepupuku, Mas Khalid bukanlah mahromku. “Ustadz Ali sudah menikah ya, Mas?”

“Maafin Mas Khalid, ya. Ternyata sudah, belum lama. Beberapa bulan lalu.”

Aku sungguh kecewa saat ini. Ustadz Ali tidak pernah mengecewakanku, tapi perasaanku yang sudah berharaplah yang membuat kecewa hadir. Aku menarik napas menghadapi kenyataan ini kemudian menghembuskannya dan melepas sebuah senyuman. “Berarti Ustadz Ali bukan yang terbaik buat aku, Mas. Tapi terbaik untuk isterinya.”

“Maa syaa Allah. Kamu sudah gede, Kin.”

Aku kembali tersenyum. Bisa apa lagi aku selain tersenyum? “Iya dong, Mas.”

“Tapi, Mas juga ada kabar baik buat kamu. Temen satu kelas Mas ada yang nanyain kamu.”

Ah ternyata begini ya, rasanya sekedar ada yang nanyain saja rasanya begitu menyenangkan. Membayangkan seseorang yang shalih menanyai diriku. “Nanyain gimana, Mas?”

“Iya, sama kayak sewaktu kamu nanyain Ustadz Ali.”

Mataku berbinar-binar dirasa. Namun aku menyembunyikan rasa senangku. Gengsi juga di hadapan Mas Khalid. Baru juga patah hati, kok langsung seneng. Eh, tapi itu bukankah anugerah dari Allah? Allah telah memberikan kesedihan yang begitu sementara. “Boleh ngga kalo aku lihat sekali aja?”

Mas Khalid tersenyum. “Itu, yang di deket mimbar.”

Aku melayangkan pandangan ke arah jari telunjuk Mas Khalid menuju. Laki-laki berambut ikal dengan jenggot. Ganteng juga. Cukup menarik. Tidak salah kan, kalau aku melihat fisik dan mencari sesuatu yang dapat membuat aku tertarik?

“Sudah, jangan lama-lama.” Tegur Mas Khalid.

Aku langsung menarik pandanganku dan beristighfar. “Astagfirullahaladzim.”

“Gimana?”

“Boleh aku berpikir dulu, Mas?”

“Boleh banget. Kalo oke, nanti siapin CV, ya.”

“Iyaa. Ya udah, Mas. Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumusalam..”

Ustadz Ali, setelah sekian lama aku merasakan kekosongan ia datang dengan suara merdunya ketika melantunkan ayat suci kemudian mengisi hatiku. Namun, nyatanya aku tidak bisa apa-apa atas dirinya, ia sudah menikah. Baru saja. Pasti sedang bahagia-bahagianya.

Laki-laki berjenggot di dekat mimbar, seseorang yang menanyaiku. Orang yang mau belajar, orang yang tengah berproses untuk menjadi salih, dengan paras yang cukup menarik tengah membuat kekhawatiranku sedikit sirna.

Aku berjalan menuju ruang akhwat untuk sekedar duduk-duduk menunggu adzan maghrib berkumandang sembari membaca buku kisah khulafau rasyidin. Bila mendambakan seorang suami seperti Rasul begitu muluk, dapatkah aku mendambakan seorang suami seperti ke empat sahabat Nabi?

Ali bin Abi Thalib. Ah Ali, nama itu lagi-lagi mengingatkanku pada Ustadz Ali. Hayya, Kinanti. Ustadz Ali sudah beristeri.

“Hayo, bengong.”

Seseorang mengagetkanku dan menyadarkanku dari lamunanku. Ustadzah Ila. “Assalamu’alaykum, Kinanti. Kenapa bengong?”

Ustadzah melihat huruf besar-besar di buku yang tengah aku baca. Tepat di halaman Ali bin Abi Thalib. “Ustadz Ali…”

“Iya Ustadzah, aku udah tau.”

“Jadi udah tau, ya. Ya begitu jadi belum berjodoh dengan Ustadz Ali. Kamu ga apa-apa ya?” Aku tersenyum. “Tapi, ada yang nanyain kamu ke aku.”

Waduh, siapa lagi? Dalam hatiku.

“Sepupuku. Beliau seorang Qary, saat ini sedang belajar di Turki.”

Aku benar-benar tidak mengerti yang dikatakan Ustadzah Ila. “Kok bisa nanyain aku?”

“Jadi waktu itu aku pasang foto yang kita foto bareng-bareng berenam. Ingat?”

“Yang di whatsapp story?” tebakku. Ustadzah Ila mengangguk.

“Terus dia nanyain kamu. Ya aku jawab apa yang dia mau cari tau. In syaa Allah sebelum puasa dia bakalan pulang ke Indonesia.”

“Aku masih belum paham, Ustadzah. Dia nanyain aku untuk apa?”

“Ya kalo kamu mau ta’aruf dia mau ajak kamu ta’aruf.”

Allah menghadirkan dua orang laki-laki yang ingin mengenalku. Tidak satu, namun dua. “Aku boleh liat sepupu Ustadzah kayak gimana rupanya?”

Ustadzah Ila tersenyum. “Boleh banget, dong. Eh tapi pasti kamu sudah tau sih.”

“Sudah tau? Kan belum pernah ketemu.”

“Qary yang suka kamu dengerin siapa?”

Mataku terbelalak. “Jadi Ustadzah sepupunya Yahya?” aku memegangi tangan Ustadzah. Aduh, dimana letak sopan santunku. Aku terlalu terbawa suasana.

Ustadzah Ila mengangguk. “Iya, Yahya itu sepupuku.”

“Kok ustadzah engga bilang-bilang?”

“Aduh aku tuh takut sama akhwat-akhwat yang mengislamkan idola. Nanti aku jadi ditanyain terus. Gimana? Mau ngga, sama Yahya?”

“Kasih aku waktu untuk berpikir ya, Ustadzah sampai Yahya pulang ke Indonesia.”

“Tentu.” Jawab Ustadzah sambil tersenyum.

Adzan maghrib berkumandang tidak lama kemudian. Dalam beberapa waktu aku terlalu sering memikirkan manusia. Dua orang manusia. Salah satu di antara mereka bisa saja menjadi jodohku, atau bila Allah menakdirkan lain, tidak satu pun dari mereka akan menjadi jodohku.

Haruskah aku merasa senang?

Seorang laki-laki dengan paras lumayan, yang tengah belajar untuk menyempurnakan bacaan Al-Qurannya, sedang menikmati proses itu, sama sepertiku, ingin mengenal diri ini.

Seorang laki-laki yang selama ini suaranya sering aku dengarkan untuk menemaniku senantiasa mengingat Allah, membantuku dalam bermuroja’ah, seorang qary yang diidolakan banyak akhwat, memiliki wajah yang tidak kalah rupawan, kini tengah bersekolah di Turki, pun ingin mengenalku.

Namun kali ini, aku tidak tahu langkah apa yang harus aku tempuh..

Ya Allah, Ya Tuhanku..

Jauhilah aku dari sifat tamak

Yang menggelincirkan diri ke lembah kesengsaraan

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.