Skenario

BAB IV
Air Wudhu Di Wajahnya

Katanya boleh melihat, apakah ada yang membuat tertarik. Itu yang aku tahu. Aku sengaja mondar-mandir supaya bisa melihat Irwan, laki-laki yang menanyaiku ke Mas Khalid tapi aku belum melihat dirinya dimana pun. Namun tiba-tiba aku teringat Yahya, sepupu Ustadzah Ila. Betapa bahagianya diri ini mendengar ketertarikan Yahya.

“Apa yang membuat aku bahagia? Ketenarannya kah? Atau kesolehannya?” gumamku pada diri sendiri.

“Assalamu’alaykum..”

“Wa’alaykumusa…… lam.” Aku tertegun mendapati seseorang di hadapanku. Laki-laki yang memiliki rambut ikal, hidung mancung, mata lebar, kulitnya kecoklatan seperti terbakar matahari berhari-hari, dan suaranya begitu aku kenal.

Air wudhu menetes dari rambut ikalnya ke wajahnya. Begitu teduh, sehingga pandangan ini seakan tidak ingin terlepas. “Apa benar, kamu Kinanti?”

“Be, benar.”

“Saya Yahya.”

“Sejak kapan disini?”

“Hari ini.”

Aku tidak tahu kenapa aku menanyakan hal itu kepada Yahya. Nampaknya Yahya mengetahui bahwasanya aku sudah tahu tentang niatnya untuk berta’aruf denganku. “Demi Allah saya tidak ingin menggoda kamu. Saya hanya ingin menyampaikan saja, ternyata kamu memang menarik. Maaf kalau pernyataan saya membuat kamu terasa direndahkan.”

Yahya benar-benar membuatku menjadi tidak nyaman, tapi aku senang. Aku hanya bisa menunduk, entah mengapa akhir-akhir ini jadi sering menunduk bila berhadapan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Baguslah, itu adalah hal yang bagus. Aku harus memiliki rasa malu. Tapi ini sih sangat malu, aku rasa wajahku merah seperti kepiting rebus.

“Karena kebetulan bertemu langsung. Sebelum waktu maghrib tiba, saya mau Tanya Kinanti sedang menjalani proses ta’aruf?”

Apakah ini laki-laki gentle yang sesungguhnya? Seperti ini kah laki-laki yang sesungguhnya? Bukan yang bertanya mau atau tidak dijadikan pacar. “Tidak.” Jawabku.

“Boleh saya datang ke rumah kamu?”

Aku meringis, tanganku gemetaran. Dengkulku terasa begitu lemas. Siapapun tolong aku dari suasana yang begitu aku tidak biasa. “Boleh!” jawabku, kemudian aku berbalik badan dan berlari menjauhi Yahya. Namun aku merasa seperti telah melupakan sesuatu, aku pun berbalik dan menghampiri Yahya. “Hari Sabtu saya dan keluarga free ba’da ashar. Assalamu’alaykum.” Lalu buru-buru meninggalkan Yahya.

***

Yahya Point of View

Maa syaa Allah. Ini kah bidadari surgaku kelak?

Saya terus memandangi foto Kinanti, siswi Kak Ila. Saya tahu kalau saya tidak boleh terus-terusan memandangi Kinanti. Rasanya saya memang benar-benar harus menikahinya karena saya sangat tertarik dengannya.

Taksi yang saya tumpangi berhenti di depan Yayasan tempat Kak Ila mengajar. Dulu sebelum berangkat ke Turki, saya memang sering berkunjung ke Yayasan ini. Berteman dengan orang-orang soleh, tidak pilih mana yang sudah pintar mengaji atau yang masih belajar mengaji. Irwan, salah satu kawanku di Yayasan ini.

Ia adalah sosok yang memiliki tekad. Keinginannya sangat lucu. Laki-laki yang tiga tahun lebih tua dari saya ingin menikah lebih dulu dari saya. Selain Kak Ila, Irwan adalah orang yang paling ingin saya jumpai di Yayasan ini.

Ketika memasuki Yayasan, tidak begitu banyak orang seperti biasanya. Mungkin karena kegiatan belajar dan mengajar belum dimulai sehingga aku tidak kesulitan menemui Irwan. Ia selalu duduk dekat mimbar, menunggu waktu belajar dimulai, ia bermuroja’ah dengan ayat-ayat Quran yang dicintainya. “Assalamu’alaykum, brother..”

Irwan menyudahi bacaannya.

Ia tampak terkejut akan kehadiranku. “Wa’alaykumusalam, Yahya…! Kapan antum pulang?”

“Kemarin. Sampai Indonesia hari ini.”

“Mau ketemu Ustadzah Ila?”

Saya mengangguk. “Selain itu, saya mau melihat seseorang secara langsung.”

“Siapa tuh?”

“Murid Kak Ila. Rasanya saya mau menikahinya.”

“Maa syaa Allah, Yahya yang saya kenal memang belum berubah. Pemuda berani!”

“Saya takut Wan. Beberapa hari terakhir aja saya terus-terusan memandangi fotonya. Nanti dosa semakin bertumpuk. Oh iya, gimana nih kalau gadis incaran mau sama saya, saya ngeduluin antum dong Wan?”

Irwan tertawa. “Ah, kayaknya duluan saya. Saya juga ada yang mau saya ajak menikah.”

Saya begitu senang mendengar Irwan yang begitu semangat. “Murid sini, Wan?”

Irwan mengangguk. “Boleh liat ngga, gadis incaran antum? Siapa tau saya kenal.”

“Boleh, boleh.” Aku mengeluarkan handphone dan menunjukkan foto Kinanti kepada Irwan. “Ini Wan, kenal?”

Irwan terdiam sejenak. “Oh, iya kenal Ya.” Raut wajahnya berubah. Ada apa dengan Irwan? “Ya, saya kayaknya harus pulang ke rumah.”

“Loh, kenapa kok tiba-tiba?”

“Lupa, kalau umi di rumah minta bantuin.”

Selain tampan, Irwan begitu menyayangi Uminya. Pribadi yang sangat sempurna. Semoga itikad baikmu disambut dengan baik ya, Wan. Kata saya dalam hati sembari melihat kepergian Irwan.

Jam sudah mendekati waktu maghrib, saya pun bergegas mengambil wudhu untuk mensucikan diri. Ah, saya terus-terusan begitu merindukan air di tanah kelahiran. Airnya dingin, padahal di Jakarta yang sudah jarang tanah. Lain hal di Balikpapan, kampung halaman saya. Airnya lebih terasa sejuk dibanding di Jakarta.

Setibanya di Indonesia, saya langsung ke Jakarta, bukan ke Balikpapan untuk menemui orangtua. Saya memang sengaja pulang satu minggu lebih awal dari yang direncanakan sebelumnya. Semuanya karena wanita yang tampak sedang mencari seseorang. Air wudhu belum kering dari wajah saya ketika wanita yang sudah aku rindukan bahkan ketika belum menemuinya.

“Assalamu’alaykum..”

“Wa’alaykumusa…… lam.” Jawabnya dengan sedikit terbata di akhir ketika sudah menyadari siapa yang memeberinya salam. Sepertinya Kak Ila sudah memberitahu tentang saya.

“Apa benar, kamu Kinanti?” tanyaku memastikan, walau sudah sangat yakin.

“Be, benar.”

Aku tersenyum sedikit, hampir tidak terlihat. “Saya Yahya.”

“Sejak kapan disini?”

“Hari ini.” Kemudian suasana menjadi sedikit kikuk, saya pun tidak ingin berlama-lama memandangnya secara langsung. “Demi Allah saya tidak ingin menggoda kamu. Saya hanya ingin menyampaikan saja, ternyata kamu memang menarik. Maaf kalau pernyataan saya membuat kamu terasa direndahkan.” Kalimat itu terlontar begitu saja. Sebuah pujian, seharusnya saya tidak mengatakannya saat ini.

Ia tampak tidak nyaman, kemudian ia menunduk. Wajahnya merona. Benar adanya, bahwa jatuh cinta sebelum menikah itu adalah ujian.

“Karena kebetulan bertemu langsung. Sebelum waktu maghrib tiba, saya mau tanya Kinanti sedang menjalani proses ta’aruf?”

“Tidak.” Jawabnya.

“Boleh saya datang ke rumah kamu?”

“Boleh!” jawabnya dengan cepat dan ia berlari kecil menjauh dari saya. Tidak lama setelah itu, ia kembali. “Hari Sabtu saya dan keluarga free ba’da ashar. Assalamu’alaykum.” Dan ia pun kembali buru-buru meninggalkan saya.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.