Surat Untuk Bapak Penjaja Jas Hujan


Teruntuk Bapak penjaja jas hujan sore tadi.

Pak, Bapak yang memakai celana berwarna coklat selutut dengan kaos warna merah dibalut jas hujan plastik warna biru. Tadi sore sepulang kerja aku melihat Bapak di pinggir jalan sedang hujan-hujanan menawarkan jas hujan kepada beberapa orang yang melipir.

Wajah Bapak begitu berbinar ketika beberapa pengendara sepeda motor menghampiri untuk membeli dagangan Bapak. Di saat beberapa orang yang menggerutu karena hujan sore tadi, Bapak tampak berseri-seri walaupun kepala dan wajah Bapak basah.

Hujan itu rahmat ya, Pak. Hanya saja beberapa orang menggerutui hujan, padahal mereka yang tidak siap membawa jas hujan di musim penghujan ini.

Tapi mungkin itu adalah cara Tuhan memberikan rezeki untuk Bapak. Rezeki Bapak adalah dari orang-orang yang lupa membawa jas hujan atau tidak punya jas hujan.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Walaupun banyak orang yang membeli dagangan Bapak, tapi saya lihat jas hujan yang Bapak gendong masih banyak sekali. Bapak masih berdiri di pinggir jalan dekat trotoar agar orang-orang bisa melihat keberadaan Bapak.

Padahal Bapak bisa berdiri di bawah jembatan penyeberangan orang agar kepala Bapak tidak kebasahan. Tapi tekad Bapak untuk menghabiskan dagangan membuat Bapak ikhlas kehujanan. Mungkin di rumah ada istri, anak, atau orangtua yang sudah menunggu ya, Pak.

Pak, dari Bapak saya belajar untuk tidak melulu mengeluh. Sering kali secara tidak sadar saya mengeluh dengan pekerjaan saya yang membuat kepala pusing. Padahal pekerjaan Bapak jauh lebih memusingkan karena kepala Bapak terkena air hujan ya, Pak. Hehehe.

Bapak penjaja jas hujan sore tadi, saya doakan semoga Bapak sehat selalu. Mungkin agar terlihat orang Bapak harus hujan-hujanan dulu. Tapi yakinlah, Pak. Orang-orang terkasih Bapak pasti melihat kerja keras Bapak walaupun tidak selalu bersama Bapak. Yakinlah, Pak. Tuhan melihat kesungguhan Bapak dalam menafkahi keluarga.

Terima kasih telah membuat jalan raya di sekitar Jalan Raya Mampang, Jakarta Selatan menjadi warna warni.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

1 thought on “Surat Untuk Bapak Penjaja Jas Hujan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.