Teruntuk Kamu, Kasih

Subuh

Aku adalah harapan yang berkumandang dalam bait-bait do’a selepas lelap waktu subuh. Ruh yang melayang kembali ke jasad, kawin dengan harap akan sebuah pertemuan.

Fajar

Aku adalah setetes embun yang menjelma barisan rindu yang berjejak. Memantulkan cahaya jingga dari belahan bumi timur. Menggaungkan narasi atas kalam rindu yang telah terukir.

Siang

Aku adalah terik yang menjerit kala merpati tak kunjung kembali membawa pesan. Memeras peluh yang tak lagi terbendung.

Petang

Aku adalah rasa hangat dari kilasan oranye ketika ubun-ubunku mengenai pucuk lehermu. Pertemuan antara ujung jari dengan kepala yang penuh dengan intuisi.

Malam

Aku adalah gelap yang bertemu dengan sebuah cahaya. Terangnya menuntun bersemayamnya tujuan tanpa keraguan.

Makan

Aku adalah kenyang dari pujian-pujian dan kata-kata cinta. Bagaikan nasi hangat yang disuguhkan Ibu di atas meja makan, mengisi perut agar tidak sendiri.

Tidur

Aku adalah mimpi saat tidur dari sebuah masa depan. Kepada dua tangan yang selalu bergandengan, atap yang selalu meneduhkan, hingga dihiasi teriakan-teriakan cilik nan riuh tak teredam.

Kilat

Aku adalah sambaran asmara yang menyentuh hati seorang Hamba. Menggoreskan tinta filantropi yang menyayat meninggalkan bekas.

Diam

Aku adalah bisu saat dua mata memandang wajah elok karya Tuhan. Seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk banyak berkata-kata.

Hujan

Aku adalah untaian do’a yang dipanjatkan ketika gemercik air tumpah dari awan-awan mendung nan berangin. Berisik mengenai atap sampai ke telinga Sang Illahi.

Sepeda

Aku adalah semangat yang terus dikayuh untuk dapat menggapai hati yang tersimpan di tubuh sang Tuan. Pantang mundur sebelum rekah.

Kereta

Aku adalah lorong-lorong bergandengan penuh sesak. Berisikan kata rindu diracik sejumput kesal dan aroma cemburu menghasilkan kepulan hirup asap sedap.

Buku

Aku adalah kumpulan halaman senang, sedih, marah, rindu. Terdiri dari beberapa bab cinta yang disampul dengan sebuah afeksi.

Lagu

Aku adalah nada-nada sumbang yang jauh dari kata sempurna tapi dinyanyikan dari sanubari yang paling dasar. Seperti sebuah palung di luasnya samudera.

Pohon

Aku adalah kesejukan yang melayang di sekeliling bumantara terhembus dari titik-titik tak tampak dedaunan hijau subur menggantung kokoh di ranting-ranting.

Bunga

Aku adalah raksi yang menyenangkan dan menenangkan, lambang roman teruntuk insan yang tengah memadu kasih berahi.

Langit

Aku adalah mendung di kala rindu. Aku adalah cerah di kala temu. Aku adalah gelap di kala rindu. Aku adalah terang di kala temu.

Bintang

Aku adalah kelap-kelip cahaya di hati sang Tuan. Enggan redup, enggan bertolak.

Bulan

Aku adalah kata-kata puitis tiap insan yang tengah jatuh cinta. Perumpamaan bulan yang selalu disebut-sebut tiada jeda bagai keindahan yang kukuh.

Api

Aku adalah penerang saat langkah tersesat di rimbunnya hutan juga rasa hangat saat tiadanya kehangatan.

Air

Aku adalah kesegaran saat haus merobek tenggorokan. Mengalir dengan tenang, menyejukkan nadi.

Angin

Aku adalah pembawa kata sayang saat jasad tidak saling bersama. Saat jasad tidak saling bertatap.

Warna

Aku adalah kuas-kuas merah, putih, biru, hijau, kuning, sampai jingga. Mengubah hidup seorang anak yang dilahirkan dari Rahim Ibunya dua puluhan tahun lalu.

Kupu-kupu

Aku adalah sebuah metamorfosa dari biasa menjadi cinta. Terbang membawa putik sampai taman bermekaran.

Mata

Aku adalah pandangan yang tidak akan pernah lepas dari satu sasaran. Fokus bagai anak panah yang melesat ke sebuah titik.

Lisan

Aku adalah kata-kata manis untuk menyenangkan sebuah pendengaran. Aku adalah kata-kata lembut untuk menenangkan sebuah perasaan.

Do’a

Aku adalah kedekatan seorang Hamba dan Pencipta di tiga perempat malam sepi sunyi penuh khidmat. Merobek antariksa, menembus semesta.

Telinga

Aku adalah keingintahuan setiap jejak-jejak langkah yang kau tinggalkan di jalan setapak bernama jarak.

Hari

Aku adalah kejadian-kejadian yang terus berlalu dan terus berdatangan, penuh dengan episode yang kadang akrab kadang awam.

Hidup

Kali ini aku tidak banyak-banyak. Aku adalah sebuah alasan.


Nyatanya, aku telah membeberkan kenyataan demi kenyataan akan sebuah rasa yang aku tunjukkan teruntuk kamu, kasih. Tiga puluh tidak tanggung-tanggung.

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

14 thoughts on “Teruntuk Kamu, Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.