Villa Jerman Bukit Cukul

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Bila terdapat kesamaan nama, tempat, dan kejadian, merupakan ketidaksengajaan dan hanya direkayasa.

Malam itu aku dan Linda menghubungi pemilik penginapan, Mas Zia namanya untuk bersantai di atap sembari menikmati kelap-kelip bintang. Udara malam itu dingin, apalagi ketika angin berhembus. Merasuk hingga ke tulang. Kami masih berdiri di balkon depan kamar kami sembari menunggu jawaban dari Mas Zia.

Kamar Mas Zia tepat berada di bawah kami. Ia melongok dari bawah dan menegadah ke atas sembari melambaikan tangan. Layar gawai yang dipegangnya menyala. “Ayuk!” ujarnya. Kami pun turun setengah lantai dan bertemu Mas Zia. Ia membuka pintu penghubung untuk menuju ke atap.

Kami mendengar beberapa kali Mas Zia menarik-narik cairan di hidungnya. Benar, hidungnya sangat meler karena dinginnya udara ala mini. Padahal ia sudah memakai jeans dan jaket tebal hingga ke leher.

Udara di atap lebih dingin lagi, tentu saja karena sudah di atas tidak ada penutup apapun di kepala kami. “Mas Zia kalo mau ke bawah juga ga apa-apa, nanti kalau kami sudah selesai di sini kami bilang.”

Mas Zia duduk di bangku plastik di sudut atap. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. “Ga apa-apa, mbak.”

Ya sudah, kami sudah menawarkan demikian namun ia menolak. Kami pun duduk di bangku plastik yang masih kosong. Aku menyetel lagu indie agar semakin larut ke dalam suasana. “Mas, besok kami mau ke Cukul. Kalau berangkat habis subuh gimana?”

“Berdua aja?” tanyanya.

“Iya.”

“Naik motor?”

“Iya.”

“Serius?” pertanyaannya semakin menekan kami, seperti berondolan peluru.

“Iya.” Jawabku menekan.

“Jangan deh.”

“Kenapa emang, Mas? Engga aman, ya?”

“Iya, engga aman. Besok aku antar saja sama Hery.” Hery adalah salah satu karyawan Mas Zia—warga sekitar yang dipekerjakan di penginapan. Ia yang selama kami menginap melayani kami—mulai dari antar snack, sarapan, juga parkir kendaraan.

“Naik mobil?”

“Iya.”

“Berangkat habis subuh?”

“Engga, nanti kita berangkat sebelum subuh. Kalau habis subuh, nanti ga kebagian sunrisenya.”

“Kalo begitu, sekarang kita tidur yuk, Lin biar ga kesiangan.”

“Ayuk.”

Kami pun turun dan masuk ke kamar masing-masing, tidak sabar menunggu esok hari tiba. Melihat sunrise di Bukit Cukul, Pangalengan, Bandung.

***

Alarm di handphoneku sudah rewel sejak jam 3, sengaja supaya tidak kesiangan. Aku lihat Mas Zia dan Hery sudah sibuk di bawah. Mas Zia sedang memanaskan mesin mobil sementara Hery mengelap-elap kaca mobil yang berembun. Aku membangunkan Linda yang masih terlelap untuk segera bersiap.

Handphoneku berbunyi, ternyata Mas Zia yang mengirimi pesan. Setelah rapih, kami pun turun ke bawah. Di sini memang masih sangat desa, jalan kecil yang mobil kami lewati begitu gelap tidak ada penerangan sedikit pun. Kanan kiri adalah perkebunan sawi juga tomat, bukan rumah warga sehingga kami hanya mengandalkan lampu mobil.

Setibanya kami di jalan raya, lampu-lampu dari ruko-ruko dan lampu jalan sedikit membantu perjalanan kami. Namun itu tidak berlangsung lama, ketika jalanan sudah cukup jauh dari ruko-ruko, perlahan lampu jalan pun semakin sedikit dan mulai tidak ada. Jalanan yang berkelok dan bila meleset sedikit terperosok ke jurang, membuatku tidak berhenti berdzikir.

Kaca mobil pun cepat sekali berembunnya sehingga Mas Zia mengaktifkan swiper mobil untuk menghilangkan embun di kaca mobil. Aku menoleh ke belakang, mengecek apakah ada orang lain yang memiliki tujuan yang sama dengan kami. Tidak ada satu pun. Saat ini juga, aku merasa kami berempat benar-benar sendiri.

Dari kami berempat pun tidak ada yang bicara satu sama lain karena terlalu fokus dengan jalan yang gelap tanpa penerangan. Pandanganku teralihkan ke layar handphone ketika merasa baterai handphoneku perlahan memanas di suhu yang aku rasa begitu dingin. “Aish.” Aku mendengar Mas Zia berdecak kesal sembari melihat handphone. Ia memperlambat laju mobil. “Aku kehilangan sinyal nih.” Ujarnya, ternyata Mas Zia sedang menggunakan google maps. “Kamu gimana?” tanyanya kepada Hery.

Aku diam saja, handphoneku pun begitu. “Kamu juga ga ada sinyal, Lin?” tanyaku berbisik. Linda mengangguk.

“Kita balik ke penginapan aja, Mas. Ga apa-apa kok.” Ujarku.

Mas Zia menghela napas, seperti merasa tidak enak kepada kami. Ia memberhentikan laju mobilnya. Ia menoleh ke belakang. “Ga apa-apa?”

“Iya, ga apa-apa.” Jawab kami.

“Aku jadi engga enak dengan kalian.”

“Ga apa-apa, Mas. Kalaupun kami berangkat berdua, mungkin lebih parah.”

“Okedeh, kita putar balik aja yaa.”

Namun kondisi jalan yang berkelok dan pas-pasan, tidak memungkinkan untuk kami putar langsung karena tidak cukup untuk mobil berputar. Mas Zia berjalan pelan mencari titik yang tepat untuk berputar, namun bentuk jalan masih sama. “Ini engga ada yang bisa buat muter balik.” Ujar Mas Zia.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima, harusnya sudah adzan subuh. Namun kami tidak mendengar suara adzan dari mana pun. Mas Zia terus berusaha menemukan titik yang tepat untuk putar balik namun sudah setengah jam berlalu belum juga berhasil.

“Harusnya sudah terang, Kang.” Ujar Hery dengan logat sunda sambil melihat ke luar. Langit memang masih gelap. Terlihat wajahnya sedikit khawatir.

Perasaanku sudah tidak menentu. Seperti ada yang menekan dadaku begitu kuat sehingga membuatnya menjadi sesak. Yang aku pikirkan saat ini adalah, kami sedang dikerjai. Namun aku tidak berani mengatakan hal tersebut kepada mereka.

Dari kejauhan, Linda melihat sebuah vila dengan pelataran yang cukup luas untuk kami memutar mobil. “Mas, itu.” Ia menunjuk sebuah vila putih yang terlihat megah dan penuh kehidupan, namun juga tidak hidup.

“Ah, Alhamdulillah. Kita putar di sana ya.”

Hery menghela napasnya. “Aduh, saya kira kita teh dikerjain dedemit gara-gara keluar subuh-subuh.”

“Engga lah, Her.” Ujar Mas Zia.

“Yah atuh, Kang. Di sini kan dulu banyak pesugihan, pasti loba dedemit.”

“Mas Zia bukan asli sini?” Tanyaku.

“Bukan. Saya di sini hanya ngurus penginapan.”

“Duh, Her. Ini kan udah 2019, ga mungkin lah masih ada begituan.”

Mobil kami hampir tiba di pekarangan vila untuk putar balik. Saat yang bersamaan, Linda terlihat sangat tidak nyaman. “Guys, ini sudah jam 6 loh. Kok masih gelap banget ya.” Ia menunjukkan jam di handphonenya.

Aku merapatkan tubuhku ke tengah, tidak ingin dekat dengan jendela mobil. “Mendung kali ya?” tanyaku menenangkan diri walau tidak mungkin sekali karena sudah berbulan-bulan lamanya tidak turun hujan.

“Tenang-tenang. Aku puter balik dulu yaa.”

Mobil kami berhasil masuk ke pekarangan vila. Namun mesin mobil mendadak mati. Aduh! Ada apa ini. “Mas, kenapa?”

Mas Zia berusaha menyalakan kembali mesin mobil, namun hasilnya nihil. Ia membuka kunci mobil. “Mas, jangan!” aku melarang, Mas Zia kembali mengunci mobil. Wajahnya terlihat tegang juga.

“Kita solat subuh aja dulu, tayamum.” Ujarku. Semuanya terlihat paham. Kami pun bertayamum dan solat subuh. Harapan kami setelah solat subuh, kami akan diselamatkan dari gangguan apapun.

Usai berdoa, kami dibuat kaget terlebih-lebih aku karena suara ketukan di kaca mobil tepat di sebelah tempatku duduk. Seorang laki-laki yang tidak jelas tampaknya mengetuk kaca mobil dengan kasar. “Aku takut.” Ujarku berbisik.

“Diemin aja.” Mas Zia memastikan mobil benar-benar terkunci. Kami semua berdoa dalam hati.

Lama-lama laki-laki itu hilang. “Itu bukan manusia.” Kataku ketakutan. Kami semua tahu kalau yang barusan memang bukan manusia.

Dingin sekali, pagi ini terasa sangat dingin. Lebih dingin dari sebelumnya. Aku melihat ke pendeteksi suhu otomatis yang ada di handphoneku. Lima derajat celcius, apakah ini hal yang normal? Kami menggigil. “Di kursi belakang ada banyak jaket, tolong ambilkan.”

Dengan sigap aku melakukan apa yang diinstruksikan Mas Zia. Aku mengambil jaket secara sembarang dan membagikan ke semuanya. Saat kami sedang memakai jaket, hal yang sangat mengejutkan terjadi. Pintu mobil sebelah Mas Zia terbuka tiba-tiba, sangat lebar. Linda berteriak.

Mas Zia buru-buru menarik kembali pintu mobil dan menguncinya. Jantungku berdegup begitu kencang. Mencekam sekali. “Sudah dikunci kan, Mas?”

“Sudah.”

Aku jadi sangat khawatir pintu sebelahku bisa kapan saja terbuka. Bibir kami sudah mulai gemetaran, suasana semakin mencekam. Kami seperti dikelilingi oleh begitu banyak energi negatif yang entah dari mana datangnya.

Kami melihat jam sudah menunjukkan pukul 7, namun masih gelap. Entah dimana kita saat ini, kenapa langit tidak kunjung terang.

Dari kejauhan, pintu vila terlihat terbuka secara perlahan. Keluarlah seorang laki-laki asing dengan membawa secangkir anggur dengan berjalan terhuyung-huyung, masih mengenakan baju tidur berwarna putih garis-garis. “Eta naon?” ujar Hery.

Ia semakin mendekat, dari wajahnya terlihat seperti orang Jerman. Rambutnya kelimis, tubuhnya kurus, wajahnya sangat tirus, kelopak matanya hitam, pinggir matanya agak merah. Ia benar-benar berjalan ke arah kami sembari tersenyum. Bukan pemandangan yang menyenangkan. “Kang, saya teu kuat.” Ujar Hery.

Kami melihat ia hendak kabur, tidak tahan dengan pandangan yang ada di depan mata kami. “Her, jangan keluar dari mobil Her.”

Di waktu yang bersamaan, seseorang kembali mengetuk kaca mobil tepat di sebelahku hingga aku melompat ke arah Linda.

Laki-laki Jerman itu melempar cangkir anggurnya ke kaca mobil hingga pecah dan anggur berserakan di kaca mobil. Ia berjalan ke samping. Aku semakin merapat ke arah Linda. “Aku takut banget.”

“Tenang aja tenang.” Ujar Mas Zia kepadaku. Di saat seperti ini siapa yang bisa tenang.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang begitu menyedihkan. Laki-laki tadi menyeret seseorang ke depan kami. Ternyata yang mengetuk bukanlah laki-laki melainkan seorang wanita. Tampangnya tidak kalah menyeramkan, kelopak matanya hitam, tubuhnya kurus dengan dress putih selutut.

Laki-laki itu menampar perempuan itu dengan sangat kasar, ia melakukan berbagai macam penyiksaan lainnya kepada perempuan itu. Spontan Mas Zia menekan klakson mobil dan berbunyi. Mereka berhenti dan menoleh. Laki-laki Jerman itu tersenyum, sungguh senyuman yang begitu mengerikan.

“Mas!” aku menepuk bahu Mas Zia. “Klakson nyala!”

Kini Mas Zia tampak panik. “Coba nyalain mesin mobilnya.”

“Ah!”

Mas Zia mencoba kembali menyalakan mesin mobilnya dan berhasil. Ia pun langsung memutar mobil dan keluar dari pekarangan vila tersebut. Kami sudah kembali ke jalan raya, dan perlahan langit mulai terlihat terang. Kami menoleh ke belakang, vila itu masih ada. Namun sudah tidak terurus padahal beberapa jam lalu kami melihat vila tersebut masih terurus dan ada tanda kehidupan.

Aneh sekali, langit berubah terang dengan begitu cepat dan kami merasa kegerahan menggunakan jaket tebal yang ada di jok belakang. “Alhamdulillah. Ya Allah, tadi serem banget.” Ujar Linda, ia terlihat begitu shock.

Bukan hanya Linda, Mas Zia dan Hery sekalipun. Bahkan mungkin aku.

Aku mencoba menelusuri google dan mengetik kata kunci, misteri vila di pangalengan. Aku mendapati dulu ada seorang Jerman pemilik kebun yang suka mabuk dan menyiksa istrinya hingga meninggal, lalu pemilik kebun tersebut meninggal karena terlalu banyak minum. “Yang tadi kita lihat…”

Author: Kartini

a beautiful girl didn't flirt, she simply smile

2 thoughts on “Villa Jerman Bukit Cukul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.